Its My Life

Di Komunitas ini Si Cadar Dan Si “Seksi” Jadi Akrab

oleh arpan

28 March 2018

iT’s Me- Beberapa hari lalu saya dan teman-teman mngundang salah satu komunitas menjadi narasumber di radio online SajaddahLIVE, teman-teman berpikir akan lebih baik jika dapat berbagi kisah dengan komunitas-komunitas yang ada, karena dengan begitu komunitas-komunitas yang memiliki visi misi yang cukup jelas dan peduli terhadap lingkungan dan orang-orang sekitar bisa ter-ekspos, walaupun sebagian mereka tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Karena yang paling penting bagi mereka bagaimana komunitas mereka bermanfaat untuk orang banyak. Begitu banyak komunitas yang tersebar di seluruh Indonesia dan dengan berbagai macam bentuk dan tujuan, dan tujuan mendasar mereka adalah agar dapat menjalin kebersamaan yang erat antar komunitas.

Saya bersyukur bahwa masih banyak komunitas yang benar-benar peduli dengan orang-orang di sekitarnya, tetapi tidak sedikit komunitas maupun organisasi yang memang memilik tujuan kurang jelas, seperti komunitas-komunitas atau kelompok-kelompok penyebar HOAX, meresahkan masyarakat dan sampai kepada menyakiti, melukai bahkan membunuh. Dengan memberikan komunitas ini kesempatan untuk menyampaikan semua kegiatan-kegiatan mereka di udara melalui radio online, youtube, facebook dan twitter justru menolong mereka agar tetap pada jalurnya, juga memberikan semangat baru untuk mereka.

Saat komunitas tersebut datang ke studio kami, saya melihat anak-anak yang masih labil, masih sangat muda. Hanya beberapa orang yang cukup dewasa. Penampilannya pun berbeda-beda, namanya juga muda-mudi. Saya tidak membayangkan dengan berbagai perbedaan yang cukup rentan akan emosi-emosi darah muda, kata bung Rhoma, tetapi mereka tetap akur dan kompak. Ada hal yang cukup membuat saya kagum, selain kekompakan dan kepolosan yang menyenangkan hati, ada hal mencolok yang sangat betolak belakang dalam komunitas tersebut, yaitu cara berpakain mereka. Saat talkshow sedang berlangsung, saya melihat dua wanita dengan penampilan sangat jauh berbeda, seperti langit dan bumi. Dan usia mereka berdua pun masih tergolong sangat muda.

Saya melihat dua sosok wanita berdiri di belakang teman-teman lainnya dalam studio. Satu wanita dengan pakaian yang saya bisa bilang sedikit terbuka dan kemudian teman wanita satunya memiliki penampilan sangat tertutup, jubah panjang lengkap dengan cadarnya. Tetapi apa yang terjadi, mereka sangat akrab seolah-olah tidak ada pikiran-pikiran saling menghakimi kerena sebuah penampilan. Sebagian orang atau mungkin banyak orang susah cocok dengan situasi seperti itu bahkan saling tidak nyaman, bahkan ada yang sampai saling kritik, saling meghakimi satu sama lain. Di usia mereka yang sangat muda justru terpancar sebuah kedewasan dalam berpikir menyikapi suatu perbedaan cara berpakaian mereka.

Saya berharap komunitas-komunitas yang masih sibuk berdebat bahkan mempermasalahkan hal-hal serupa, belajarlah dari komunitas ini. Saat yang lain sibuk saling membalas aksi, seperti aksi tutup aurat dan aksi aurat gua bukan urusan lho yang sempat heboh beberapa bulan lalu. Tetapi dua wanita “labil” ini tetap mesra penuh persahabatan. Sangat ironis , kelompok-kelompok bahkan komunitas yang katanya cukup dewasa dan bijak dalam menyikapi justru terkurung dalam sebuah pengertian yang membuat keduanya saling berlawanan. Saya berharap anggota komunitas GW ini tetap bertahan dengan keunikannya.

arpan