iT’s me– Kisah ini di mulai dari umur saya lima tahun, di mana saya harus berjuang untuk khatam Qur’an agar dapat masuk Sekolah Dasar. Persyaratan untuk dapat menempuh pendidikan Dasar Di Kota Sabah Malaysia adalah dengan hatam Qur’an . Satu tahun lamanya baru saya bisa khatam Qur’an, waktu itu yang ada di benak saya bagaimana bisa khatam. Tidak ada maksud untuk mengerti apatah lagi mempelajari Qur’an, namanya juga masih kecil.

Singkat cerita, saat saya beranjak Sekolah Menengah Pertama tanpa sengaja saya ikut serta dalam kelompok jamaah tabligh, di kampung saya yang sangat terpencil dan terbelakang. Usaha Dakwah itu berlangsung selama tiga hari, di salah satu mesjid yang berada jauh dari keramaian. Melakukan sholat wajib dan sunnah tanpa putus, belajar dan melakukan fiqih, berbagai macam kebaikan yang dapat di petik dalam perjalanan spritual tersebut.

Tiga hari telah berlalu, kami kembali ke rumah masing masing. Hasil dari perjalanan spritual selama tiga hari saya begitu rajin dan taat dalam beribadah, ke masjid walau masih kosong, membersihkan masjid kemudian membaca Al Qur’an sembari menunggu jamaah yang datang. Membersihkan debu-debu di masjid adalah pekerjaan rutin saya, karena apa?

Karena dengan membersihkan sebutir debu di masjid akan mendapatakan tujuh bidadari  surga. Apa lagi  memelihara jenggot, satu helai jenggot mendaptkan tujuh  bidadari surga, kalau di tambahkan maka dalam satu hari saya  bisa mendapatkan 14 bidadari surga. Sejak hari itu saya begitu bersungguh-sungguh untuk menumbuhkan jenggot meskipun di paksakan. Begitulah pemahaman yang saya cerna dalam usaha dakwah selama tiga hari.

Setengah jam sebelum sholat Dzuhur di mulai , seorang anak kecil mendekati saya. Entah kenapa saya langsung mengajarinya dengan berkata “Dek jangan mencuri ya, jangan melawan orang tua dan jangan berkata jorok”, dia bertanya, “Kenapa om?” Karena kalau lakukan semua yang saya ucapkan tadi, nanti Allah akan potong tangan adek, lalu adek akan dicelupkan ke air panas yang mendidih, dan lidah adek akan Allah potong dengan gunting raksasa yang tajam”. Anak tersebut ketakutan dan berbalik meninggalkan saya kemudian mengadu kepada oran tuanya. Orang tua anak tersbut memandang saya dengan mata yang tajam, seakan ingin menyampaikan sebuah pesan penuh makna, “dasar gila!”.

Pemahaman yang saya dapat mungkin tidak salah, hanya otak saya masih teralu dini untuk memahami doktrin tersebut. Pencarian Masa kecil ini memberikan saya pelajaran sangat berharga yang tidak bisa di gantikan dengan 14 bidadari surga. Kuliah semester awal saya mulai teliti dalam  memahami Qur’an, Hadits dan Islam. Meskipun sampai sekarang saya beum ahli, saya terus belajar. Dengan begitu saya tidak mudah terhipnotis oleh ceramah dan pengajaran “ahli-ahli agama”. Karena,  jika kurang hati hati dalam memahami agama  akan membentuk  manusia pemarah dan gemar mengadili sesama.