Its NOT Me

Dari Bumi datar : Kisah Nek Nana dan Mbah Mimin

oleh DerielHD

20 April 2018

Alkisah disebuah kerajaan kecil di Bumi bulat, hiduplah sekelompok orang dari bumi yang datar untuk mengadu nasib dan menyambung hidup. Setelah sekian lama bumi mereka yang datar itu hancur, mereka berusaha untuk menanamkan pemahaman mereka mengenai bumi mereka yang data kepada warga bumi bulat.

Ditengah-tengah mereka hiduplah seorang Kakek Mimin yang bijak. Dia cukup dikenal oleh warga dikerajaanya tersebut. Terkenal karena tubuhnya yang kecil, agamis, dan mulutnya yang ceplas-ceplos. Memang sih, dibalik mulutnya yang selalu ceplas-ceplos, warga sekitar sering sekali meminta pendapatnya mengenai raja yang memimpin saat itu. Konon katanya, raja yang menjabat saat ini adalah raja yang lalim. Tidak berpihak pada rakyat kecil, membuka lapangan kerja untuk warga kerajaan asing, suka menjual asset kerajaan, dan berita yang paling heboh, raja yang saat ini sudah banyak berhutang ke kerajaan tetangga. Dengar-dengar sih sudah hampi 4.000.000.000.000.000 koin emas. Enolnya banyak, ngeri yah…

Nah, warga yang tidak senang dengan kebijakan dari sang raja kemudian mulai melakukan demonstrasi, mulai dari demo kecil hingga buat gerakan #gantiraja2019. Ditengah hiruk-pikuk politik kerajaan, kehadiran Mbah Mimin, begitu dirinya biasa dipanggil, ternyata membawa kesejukan dihati para warga bumi yang datar dan warga bumi bulat yang mulai terprovokasi. Mbah Mimin dielu-elukan bak ‘penasehat’ raja yang sangat bijaksana dan penuh solusi. Sejak berhasil menggulingkan raja yang sebelumnya, kemunculan Mbah Mimin selalu penuh dengan kotroversi. Bahkan disuatu kesempatan, dalam ceramahnya kepada pengikutnya, Mbah Mimin mengatakan bahwa di kerajaan itu, siapa saja yang mendukung pihak kerajaan adalah anggota kelompok setan dan mereka yang bertentangan dengan kerajaan adalah kelompok Tuhan. Semua warga yang hadir menyambut dengan begitu baik apa yang disampaikan oleh Mbah Mimin.

baca juga : Fiksi atau Fakta, Gak semua yang loe denger itu benar!

Disisi lain kerajaan tersebut, hidup juga seorang Nenek. Nek Nana, begitu biasa ia dipanggil, merupakan tokoh masyarakat yang cukup disegani. Bukan hanya karena katanya dia cukup vocal dalam ‘membela’ kepentingan warga menangak kebawah di kerajaan tersebut, tetapi karena wajahnya yang cukup judes dan menakutkan. Ya, mungkin karena pembawaannya itulah, nek Nana mendapatkan reputasinya.

Sama seperti Mbah Mimin, Nek Nana juga sangat vocal dalam menentang segala macam kebijakan kerajaan ini. Bahkan beberapa waktu yang sudah berlalu di kerajaan tersebut, mereka berdua dan beberapa rekan mereka yang lain pernah dilaporkan pihak pendukung kerajaan atas tuduhan mau mengkudeta raja. Nek Nana sangat berbangga diri, karena menurut dia, bersama dengan rekan-rekannya, merka berhasil menggulingkan seorang kaki tangan raja yang menurut mereka sudah bertindak tidak semena-mena terhadap bawahan dan rakyatnya. Pernah sekali ketika kaki tangan raja hendak memindahkan warga dari perkampungan kumuh ke tempat tinggal yang lebih baik, Nek Nana berdiri paling depan dan menghalang-halangi proses penggusuran yang dilakukan oleh para pengawal. Padahal warga sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak saat itu, dan satu-satun jalan adalah dengan menggusur dan memindahkan warga ke tempat yang lebih baik. Itulah Nek Nana. Pokoknya, setiap ada kebijakan kerajaan yang menurut nek Nana sangat merugikan rakyat kecil, Nak Nana selalu berdiri didepan, pasang badan untuk membela, tidak perduli apakah tindakannya itu akan berdampak baik atau buruk bagi orang lain.

Nah sobat, kisah ini mungkin saja hanyalah fiksi dan rekayasa dari saya, penulis. Mbah Mimin dan Nek Nana adalah contoh warga kerajaan yang buruk. Tidak layak didukung ataupun diteladani. Mbah Mimin punya ambisi untuk menguasai kerajaan itu, dan nek Nana berusaha sedemikian rupa untuk membantunya. Dengan dalih menyelamatkan kerajaan dari jajahan kerajaan asing, mereka berdua dan mungkin dibantu beberapa rekan mereka yang lainnya terus menerus melakukan tindakan yang bertentangan dengan pihak kerajaan. Mereka tidak pernah menceritakan bagaimana raja yang memimpin saat itu sudah berjuang mati-matian untuk menyelamatkan warga dan kerajaannya. Jalan-jalan raya yang menyambungkan setiap desa, kota, kabupaten, hingga ke perbatasan kerajaan lain sudah dibangun sehingga memudahkan pengiriman bahan pangan keseluruh pelosok negeri. Harga pangan yang seimbang dan merata diseluruh pelosok negeri, hingga lapangan pekerjaan yang terbuka lebar untuk seluruh warga kerajaan.

baca juga : Mengapa orang jahat dibiarkan hidup lebih lama?

Mbah Mimin dan Nek Nana tidak sepenuhnya bersalah, mereka hanya tidak pernah bercerita bagaimana negeri itu sangat berkembang pesat sehingga hutang yang terlihat banyak tersebut belum seberapa dibanding pendapatan perkapita kerajaan tersebut. Ya, ketika kerajaan tetangga begitu mengelu-elukan kehebatan raja yang berhasil memajukan negerinya, Mbah Mimin dan Nek Nana menolak untuk menceritakan semua kebaikan raja dan para menterinya karena mereka sudah terlanjur menjadi tokoh antagonis, yang wajib ada untuk memacu kinerja dari pihak kerajaan untuk terus berusaha lebih baik lagi.

Semoga kisah ini bisa membuat kita sadar betapa sulitnya memimpin sebuah kerajaan dan betapa baiknya raja di kerajaan itu. Semoga saja sekelumit kisah kebaikan raja dan bawahannya membuka pikiran dan hati semua warganya tanpa terkecuali, untuk terus memberikan dukungan doa dan tenaga dan kontribusi lain yang positif untuk membangun negeri itu. Semoga raja dan bawahannya selalu diberikan umur panjang dan kesehatan.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis