Its NOT Me

Dalam “Dakwah” Yang Paling Gampang Itu Ngancam….

oleh arpan

27 December 2018

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ – 42:15

Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah (kita) kembali.”

Ini adalah salah satu ayat yang menjadi landasan untuk menyeru, mengajak atau yang di sebut dengan dakwah. Dakwah tidak selamanya harus di sampaikan oleh ustad, kiyai atau habib. Setiap manusia yang memiliki niat untuk melihat kebaikan bagi orang-orang di sekitarnya maka dia bisa untuk berdakwah. Berdakwah tidak selamanya harus menggunakan ayat dan hadits, kata-kata sederhana dengan tujuan postif juga sudah di sebut dakwah. Karena dakwah itu menyeru dan mengajak pada kebaikan dan meninggalkan keburukan. Bagaimana dengan dakwah teriak teriak, sampai urat leher hampir putus, marah-marah menakut-nakuti bahkan mengancam? Setiap pendakwah memang memiliki ciri khas berbeda-beda tetapi tentu kita bisa menilai dakwah yang tidak menghardik, tapi mendidik. Terdengar Enak dan nyaman, tanpa memancing emosi yang mendengarkan.

Ciri khas yang berbeda-beda dalam berdakwah juga menghasilkan pendengar yang berbeda, dan terkadang lebih menonjol dan cepat viral adalah yang keras dan marah-marah. Padahal, umat saat ini mungkin tidak sebebal Firaun.

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ – 20:43

pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ – 20:44

maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.

Kepada firaun sekalipun masih saja di anjurkan berkata lemah lembut. Sekeras apapun gaungan dalam berdakwah kalau tidak di sertai dengan amal perbuatan yang baik maka bisa saja hanya mencetak pendengar pendengar dengar setimen. Kenapa dalam berdakwah itu lebih mudah mengancam karena memang itu yang paling mudah. Didalam  berdakwah, ada beberapa tahap yang perlu di sampaikan kepda pendengar. Tahap pertama adalah perkembangan ilmu pengetahuan, kedua adalah sejarah, ketiga adalah memupuk kebaikan diri dan hati, keempat menjanjikan kepada kebaikan. Setalah semua itu di lakukan barulah tahap terakhir adalah ancaman.

Pola dalam berdakwah harus berubah, karena kalau lebih mendahulukan ancaman apalagi kekerasan fisik maka bisa berakhir dalam jeruji besi. Tidak ada warga negara kebal hukum di negara ini, kecuali melarikan diri.  Suhu umat di negara ini mencapai dari 40 derajat Celcius, sehingga banyak yang akhirnya mengalami Hipertermia. Akibatnya, mudah cemas, kejang-kejang, dan akhirnya mengakibatkan koma dalam berpikir. Mungkin juga ada bias politik di dalamnya. Jangan lagi panas di lawan dengan panas, bisa meledak sebelum waktunya. Negara ini perlu pendakwah-pendakwa dengan suhu 37 derajat Celcius, agar normal dalam mengajak dan menyeru, sehingga pendengarnya pun  bermental normal.

Sebagai penutup, mari kita renungkan Hadits di bawah ini:

“bahwa Abu Hurairah berkata, “Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan” (HR. Bukhari dan Muslim).

arpan