iT’s Me– Membaca kisah Nabi Muhammad, khususnya pada episode hijrah menuju lingkungan yang lebih kondusif bagi penyemaian nilai-nilai profetik sesuai petunjuk Tuhan, kita akan menemukan keteladanan dalam mengarungi perjalanan kehidupan. Kisah hijrah itu menegaskan, bahwa manusia membutuhkan seperangkat pengetahuan, kerja keras dan partner untuk bisa menemukan penghidupan yang lebih baik.

Sirah Ibnu Ishaq menceritakan, kekejaman orang-orang Quraisy semakin menjadi. Hal ini lebih-lebih terjadi pasca dua orang pelindung Nabi Muhammad, yaitu paman tercinta Abu Thalib dan isteri terkasih Khadijah meninggal (tahun ke-10 kenabian).

Ke beberapa tempat dan pihak Nabi telah meminta perlindungan agar terus bisa menyampaikan wahyu Allah. Tetapi tidak satu pun dari mereka mengindahkan permintaan Nabi Muhammad. Akhirnya, Nabi mengalihkan ajakannya, yang semula ditujukan kepada masyarakat Arab Mekah, kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekah pada musim haji.

Suatu hari, Nabi bertemu dengan rombongan Abu al-Haisar bersama beberapa orang dari Bani Abd Ashal, termasuk Iyas bin Mu’adz (suku Aus) dari Yatsrib (kelak berubah nama menjadi ”Madinah”). Kepada mereka, Nabi mengenalkan Islam dan membacakan ayat al-Quran. Namun tidak ada yang masuk Islam, kecuali Iyas.

Selang dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 620 M, beberapa orang Arab Madinah dari suku Khazraj (sekutu Yahudi), datang ke Mekah pada musim haji. Seperti kejadian pada dua tahun yang lalu, Nabi membacakan ayat al-Quran dan mengajak mereka bertauhid kepada Allah.

Setelah Nabi selesai berbicara, mereka saling pandang dan berkata: “Inilah Nabi yang pernah disebut-sebut oleh kaum Yahudi kepada kita. Jangan sampai mereka mendahului kita.”

Iya, dalam satu riwayat diceritakan: Kaum Yahudi apa bila berselisih dengan orang Arab Yatsrib selalu mengatkan: “Seorang Nabi akan segera diutus, dan waktunya sudah dekat. Kami akan menjadi pengikutnya, dan dengan bantuannya kami akan membunuh kalian seperti dalam perang Ad dan Iram”.

Maka, rombongan suku Khazraj ini akhirnya menyambut ajakan Nabi dengan baik. Mereka menyatakan masuk Islam, dan berkata: “Kami telah meninggalkan golongan kami. Tidak ada lagi suku yang saling membunuh dan saling mengancam. Mudah-mudahan Tuhan menyatukan mereka melaluimu. Biarkan kami mengajak mereka masuk ke dalam agamamu. Dan jika Tuhan menyatukan mereka di dalamnya, maka tidak ada orang yang lebih baik dari padamu.”

Usai melaksanakan ibadah haji, mereka kembali lagi ke kampung halaman. Setiba di Yatsrib, mereka menceritakan kejadian di Mekah, khususnya pertemuan dengan Nabi Muhammad kepada orang-orang. Mulai hari itu, Nabi menjadi pembicaraan masyarakat Yatsrib.

Di sini, babak baru bagi penyebaran Islam telah dimulai. Setelah lebih kurang 10 tahun dakwah ditujukan kepada masyarakat Mekah dengan hasil yang kurang menggembirakan, maka Nabi mulai bertemu dengan orang-orang dari luar daerah. Orang-orang ini sepertinya merespon ajakan Nabi dengan lebih baik.

Pada musim haji berikutnya, tahun 621 M, datang 10 laki-laki Khazraj dan 2 laki-laki Aus. Mereka bertemu dengan Nabi di Aqabah. Selain menyatakan diri masuk Islam, mereka juga melakukan bai’at (sumpah kesetiaan) kepada Nabi. Bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah pertama.

Dalam bai’at Aqabah ini mereka mengakui kerasulan Muhammad, dan berjanji kepadanya tidak akan menyembah selain Allah. Mereka tidak akan menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina dan berbohong, serta tidak akan menghianati Nabi.

Ketika rombongan ini kembali ke Yatsrib, Nabi menunjuk Mus’ab bin Umair untuk menyertai mereka, dan sekaligus akan mengajarkan Islam di Madinah nanti. Maka, akan bisa dengan mudah diprediksi, sejak itu grafik jumlah pemeluk Islam di kota Yatsrib naik.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)