Its My Faith

Cerita Kehidupan dalam Sepenggal Kisah Hijrah

oleh Ali Romdhoni

20 September 2017

iT’s Me– Membaca kisah Nabi Muhammad, khususnya pada episode hijrah menuju lingkungan yang lebih kondusif bagi penyemaian nilai-nilai profetik sesuai petunjuk Tuhan, kita akan menemukan keteladanan dalam mengarungi perjalanan kehidupan. Kisah hijrah itu menegaskan, bahwa manusia membutuhkan seperangkat pengetahuan, kerja keras dan partner untuk bisa menemukan penghidupan yang lebih baik.

Sirah Ibnu Ishaq menceritakan, kekejaman orang-orang Quraisy semakin menjadi. Hal ini lebih-lebih terjadi pasca dua orang pelindung Nabi Muhammad, yaitu paman tercinta Abu Thalib dan isteri terkasih Khadijah meninggal (tahun ke-10 kenabian).

Ke beberapa tempat dan pihak Nabi telah meminta perlindungan agar terus bisa menyampaikan wahyu Allah. Tetapi tidak satu pun dari mereka mengindahkan permintaan Nabi Muhammad. Akhirnya, Nabi mengalihkan ajakannya, yang semula ditujukan kepada masyarakat Arab Mekah, kepada kabilah-kabilah yang datang ke Mekah pada musim haji.

Suatu hari, Nabi bertemu dengan rombongan Abu al-Haisar bersama beberapa orang dari Bani Abd Ashal, termasuk Iyas bin Mu’adz (suku Aus) dari Yatsrib (kelak berubah nama menjadi ”Madinah”). Kepada mereka, Nabi mengenalkan Islam dan membacakan ayat al-Quran. Namun tidak ada yang masuk Islam, kecuali Iyas.

Selang dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 620 M, beberapa orang Arab Madinah dari suku Khazraj (sekutu Yahudi), datang ke Mekah pada musim haji. Seperti kejadian pada dua tahun yang lalu, Nabi membacakan ayat al-Quran dan mengajak mereka bertauhid kepada Allah.

Setelah Nabi selesai berbicara, mereka saling pandang dan berkata: “Inilah Nabi yang pernah disebut-sebut oleh kaum Yahudi kepada kita. Jangan sampai mereka mendahului kita.”

Iya, dalam satu riwayat diceritakan: Kaum Yahudi apa bila berselisih dengan orang Arab Yatsrib selalu mengatkan: “Seorang Nabi akan segera diutus, dan waktunya sudah dekat. Kami akan menjadi pengikutnya, dan dengan bantuannya kami akan membunuh kalian seperti dalam perang Ad dan Iram”.

Maka, rombongan suku Khazraj ini akhirnya menyambut ajakan Nabi dengan baik. Mereka menyatakan masuk Islam, dan berkata: “Kami telah meninggalkan golongan kami. Tidak ada lagi suku yang saling membunuh dan saling mengancam. Mudah-mudahan Tuhan menyatukan mereka melaluimu. Biarkan kami mengajak mereka masuk ke dalam agamamu. Dan jika Tuhan menyatukan mereka di dalamnya, maka tidak ada orang yang lebih baik dari padamu.”

Usai melaksanakan ibadah haji, mereka kembali lagi ke kampung halaman. Setiba di Yatsrib, mereka menceritakan kejadian di Mekah, khususnya pertemuan dengan Nabi Muhammad kepada orang-orang. Mulai hari itu, Nabi menjadi pembicaraan masyarakat Yatsrib.

Di sini, babak baru bagi penyebaran Islam telah dimulai. Setelah lebih kurang 10 tahun dakwah ditujukan kepada masyarakat Mekah dengan hasil yang kurang menggembirakan, maka Nabi mulai bertemu dengan orang-orang dari luar daerah. Orang-orang ini sepertinya merespon ajakan Nabi dengan lebih baik.

Pada musim haji berikutnya, tahun 621 M, datang 10 laki-laki Khazraj dan 2 laki-laki Aus. Mereka bertemu dengan Nabi di Aqabah. Selain menyatakan diri masuk Islam, mereka juga melakukan bai’at (sumpah kesetiaan) kepada Nabi. Bai’at ini dikenal dengan Bai’at Aqabah pertama.

Dalam bai’at Aqabah ini mereka mengakui kerasulan Muhammad, dan berjanji kepadanya tidak akan menyembah selain Allah. Mereka tidak akan menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina dan berbohong, serta tidak akan menghianati Nabi.

Ketika rombongan ini kembali ke Yatsrib, Nabi menunjuk Mus’ab bin Umair untuk menyertai mereka, dan sekaligus akan mengajarkan Islam di Madinah nanti. Maka, akan bisa dengan mudah diprediksi, sejak itu grafik jumlah pemeluk Islam di kota Yatsrib naik.

Pada musim haji tahun 622 M, datang serombongan haji sebanyak 73 orang. Di antara mereka ada yang sudah pernah menjalankan haji pada tahun sebelumnya. Rombongan ini disertai Mus’ab bin Umair, delegasi yang dikirim Nabi tahun lalu. Kedatangan mereka bermaksud mengajak Nabi agar bersedia pindah ke Yatsrib bersama mereka.

Seperti halnya tahun lalu, kembali digelar pertemuan di Aqabah. Di tempat ini kemudian terjadi bai’at Aqabah kedua. Dalam perjanjian ini mereka mengakui Nabi sebagai pemimpin, akan menjaga keselamatan nabi dan para pengikutnya. Sebaliknya, Nabi juga berjanji akan memerangi pihak-pihak yang mereka perangi, dan akan berdamai dengan pihak yang mereka ajak berdamai.

Perjanjian (sumpah) setia ini diucapkan setelah terjadi dialog antara Nabi dengan rombongan dari Madinah. Mereka kemudian bersepakat untuk bersatu, saling membantu dan melindungi.

Beberapa bulan setelah peristiwa Bai’at Aqabah kedua, Nabi memerintahkan kaum Muslim Mekah agar berhijrah (migrasi) ke Yatsrib. Nabi kemudian menyusul bersama Abu Bakar, dan keduanya tiba di Yatsrib tanggal 16 Rabi’ul Awal, bertepatan 20 September 622 M.

Kita mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang nabi, dan karena itu semua keputusan dan pilihan sikapnya atas disandarkan atas perkenan Tuhan. Dengan demikian, keputusan hijrah ke Madinah pun tidak lepas dari petunjuk Allah (Qs. Al-Baqarah/2: 218; al-Nahl/16: 41 dan 110).

Namun kita bisa mencermati, di sana ada upaya serius dari seorang pimpinan (Muhammad) dalam rangka menyelamatkan para pengikutnya. Faktanya, dalam kehidupan Nabi ada perjuangan bagi nilai-nilai yang diyakini bisa menjadi pedoman bagi lahirnya tatanan masyarakat yang lebih baik.

Ketika penyebaran Islam di Mekah kurang berhasil, bahkan umat Islam diperlakukan secara sewenang-wenang oleh kaum Quraisy Mekah, di sisi lain Nabi melihat para pengikutnya di Yatsrib bisa memberi perlindungan, akhirnya keputusan untuk hijrah diambil.

Mengkaji perjalanan hijrah Nabi secara sosiologis, kita akan melihat keindahan seni menata kehidupan. Saya akan berusaha menyarikannya dalam tiga kata kunci, dalam hubungannya dengan kompetisi di panggung kehidupan modern dan tanggung-jawab sebagai seorang pemimpin.

Pertama, proses menyampaikan ajaran kebaikan di tengah masyarakat membutuhkan ketajaman analisis. Pada akhirnya Nabi sampai kepada kesimpulan, bahwa mayoritas masyarakat Arab Mekah menolak Islam. Di sisi lain, orang-orang Madinah lebih terbuka dan mau menerima ajakannya. Kelak, di Madinah Nabi berhasil membangun masyarakat yang kondusif.

Kedua, gagasan brilliant perlu difahami oleh orang banyak agar manfaatnya lebih merata. Seorang pemimpin ataupun intelektual perlu memiliki kemampuan berdiplomasi dengan stakeholder. Sederhananya, pemimpin harus mampu menyampaikan pikiran-pikirannya, berbicara di muka umum, berunding, bernegosiasi hingga bersiasat untuk mencapai keberhasilan.

Pada saatnya, Nabi bertemu dengan orang-orang dari luar daerah (Madinah). Kepada mereka Nabi menyampaikan pikiran-pikirannya. Dengan kemampuannya pula, Nabi meyakinkan mereka bila bersedia saling membantu maka akan bisa menciptakan satu tatanan sosial yang lebih baik.

Satu lagi, hidup ini membutuhkan keberanian untuk mengambil sikap. Ketika telah tiba saatnya, Nabi memutuskan untuk memerintahkan umat Islam bermigrasi ke Madinah. Langkah pasti menuju masyarakat dan era yang lebih baik.

Semoga perjalanan hidup kita senantiasa dilindungi oleh Allah.

Selamat Tahun Baru 1439 H.

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni