Its My Family

Cerita dari China: Strategi Mengenalkan Sejarah kepada Anak

oleh Ali Romdhoni

23 May 2017

iT’s me – Pada akhir Maret 2017 lalu saya berkesempatan mendampingi puteri saya dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Hari itu guru wali kelas mengajak para siswa berziarah ke Taman Makam Pahlawan di Harbin, China. Uniknya, taman makam lengkap dengan tugu pahlawan ini berada satu area dengan gedung museum perjuangan.

Dengan dibimbing para guru, siswa-siswi sekolah dasar ini melakukan penghormatan kepada para pahlawan yang berjasa bagi negeri tirai bambu itu. Petugas upacara terdiri dari para siswa. Sementara guru dan orang tua siswa mendampingi dari jarak yang cukup dekat. Saya juga bisa melihat, di beberapa sudut berbeda di lokasi itu ada siswa-siswi dari sekolah lain, baik sekolah dasar maupun menengah. Saya menandai mereka dari postur tubuh dan seragam sekolah yang mereka pakai.

Didampingi Oleh Orang tua, para siswa berziarah ke Taman Makam Pahlawan di Harbin, China. /Foto: Ali Romdhoni)

Setelah upacara dan doa selesai dipanjatkan, selanjutnya anak-anak yang didampingi orang tua masing-masing secara beriringan berjalan menuju gedung museum perjuangan. Lokasinya berjarak sekitar tiga ratus meter dari tugu pahlawan yang digunakan sebagai lokasi upacara tadi.

Begitu masuk gedung, kami disambut para petugas, laki-laki dan perempuan, yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Selain dengan ramah menerima pengunjung, mereka juga menjelaskan kepada tamu mengenai hal-ihwal yang ada di museum.

Di lorong bagian pertama, saya menjumpai deretan foto-foto lengkap dengan nama dan masa hidup (tahun) sang tokoh. Di bawah foto terdapat etalase panjang dan khas. Di dalamnya terdapat benda-benda berharga yang memiliki kaitan dengan sang tokoh dan peristiwa perjuangannya.

Di lorong selanjutnya, saya seperti masuk dalam hutan lebat dengan rumah-rumah gubug. Di sini pengunjung bisa menyaksikan cerita para pejuang yang bergerilya, menyeberangi sungai, bertahan, dan betempur melawan musuh. Alur cerita disajikan dalam bentuk foto, lukisan dan patung.

Selanjutnya saya memasuki bagian penyimpanan pakaian, senjata dan benda-benda yang berhubungan langsung dengan para pejuang tempo dulu dan peristiwa perjuangannya. Di sana, misalnya, ada pakaian khas tentara yang masih terdapat bercak darah, senjata dengan berbagai model, kendaraan sederhana untuk mengangkut bahan makanan dalam perang, dan lain sebagainya.

(Para Orang tua secara beriringan mendampingi anak-anak mereka. /Foto: Ali Romdhoni)

Karena ada banyak lorong, di sisi lain setiap bagian ruangan penuh sesak dengan pengunjung, dan saya juga harus mengawasi puteri saya, akhirnya detail bagian-bagian ruangan sulit saya ingat. Namun yang jelas, dari tiap-tiap bagian ruangan menceritakan alur masa awal perjuangan hingga lahirnya Negara China modern.

Dalam beberapa literatur yang saya baca, lahirnya Negara China modern menunjuk pada tahun 1949, yaitu pasca berakhirnya perang saudara di China. Bila sebelumnya China memiliki banyak dinasti yang memimpin negara, maka sejak saat itu China modern dipimpin oleh sebuah partai.

Apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah di atas?
Pertama, saya menandai bahwa program-program di sekolah memiliki perhatian yang serius dalam menanamkan nilai perjuangan kepada siswa. Ini terlihat dari cara mereka dalam menunjukkan secara langsung jejak perjuangan para pahlawan kepada siswa. Dari sini, siswa-siswi dilatih untuk menghargai, mendoakan dan meneladani sifat-budi luhur para pejuang kemerdekaan.

Kedua, saya terkesan dengan disain taman makam pahlawan yang terintegrasi dengan museum perjuangan. Penataan route perjalanan, mulai dari pintu masuk ke area makam sampai pintu keluar area makam, secara otomatis membimbing para tamu agar mereka mau memasuki gedung museum setelah berziarah. Artinya, setelah memasuki dimensi abstrak-religius maka peziarah diajak menjelajahi jejak perjuangan yang lebih empirical-material.

Bila di lokasi makam pahlawan seseorang akan mengenang keluhuran budi sang tokoh, maka di museum kita akan mendapatkan jejak material dari para tokoh. Sesi ini tentu akan melengkapi penghayatan pengunjung terhadap jejak-laku sang tokoh di dalam masa-masa hidupnya.

Ketiga, penggambaran secara ditail mengenai masa-masa perjuangan hingga era lahirnya China modern yang ada di dalam museum akan membawa dampak positif kepada pengunjung, khususnya siswa-siswi sekolah. Artinya, anak-anak yang masih belajar di bangku sekolah dasar akan lebih mudah menangkap pesan pelajaran sejarah dan kepahlawanan, yang dikemas dalam prosesi ziarah di makam pahlawan.

Dengan proses sebagaimana diceritakan di atas, para siswa sekolah dasar otomatis akan menemukan jawaban: “mengapa seorang pahlawan harus diteladani”. Selain itu, mereka juga bisa dengan mudah mengimajinasikan pendidikan nasionalisme dan pentingnya menghargai jasa para pendiri bangsa.

Dalam ilmu psikologi, imajinasi merupakah kesadaran (power) yang dimiliki oleh setiap manusia untuk menghadirkan gambaran dalam fikiran (bersifat mental atau tersembunyi). Menghadirkan gambaran dalam fikiran kita butuhkan ketika merespon informasi baru. Anak-anak yang belum banyak memiliki perbendaharaan kosa kata akan memvisualisasikan hal baru yang mereka lihat, dengar dan pikirkan dalam bentuk gambar.

Sebagai catatan akhir, dengan tetap menghargai model pembelajaran di negeri kita Indonesia, penting juga melihat model pembelajaran di tempat lain. Pendidikan sejarah yang diajarkan di sekolah, misalnya, dalam pengamatan saya kurang memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk kearifan budi pekerti anak.

Kita semua mengerti bahwa sebelum merdeka bangsa Indonesia memiliki lembaran kenangan yang memilukan. Namun mengapa, sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan Indonesia yang berlumuran darah dan ditopang jasad segar para pahlawan tidak juga bisa melembutkan jiwa-jiwa kita.

Mengapa pendidikan sejarah perjuangan para pahlawan yang diajarkan di sekolah juga masih belum bisa, misalnya,  sekedar membuat para siswa tidak tawuran atau tidak merayakan kelulusan dengan ugal-ugalan. Lalu apa yang mereka fikirkan ketika membaca sejarah bangsa Indonesia di masa lalu yang terjajah, tertinggal?

Terlebih, ketika hari ini kita semua disibukkan dengan pilihan pro-kontra terhadap isu di media sosial yang tidak jelas kebenarannya, siapa yang peduli dengan pendidikan sejarah bagi anak-anak kita? Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni