iT’s me – Pada akhir Maret 2017 lalu saya berkesempatan mendampingi puteri saya dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Hari itu guru wali kelas mengajak para siswa berziarah ke Taman Makam Pahlawan di Harbin, China. Uniknya, taman makam lengkap dengan tugu pahlawan ini berada satu area dengan gedung museum perjuangan.

Dengan dibimbing para guru, siswa-siswi sekolah dasar ini melakukan penghormatan kepada para pahlawan yang berjasa bagi negeri tirai bambu itu. Petugas upacara terdiri dari para siswa. Sementara guru dan orang tua siswa mendampingi dari jarak yang cukup dekat. Saya juga bisa melihat, di beberapa sudut berbeda di lokasi itu ada siswa-siswi dari sekolah lain, baik sekolah dasar maupun menengah. Saya menandai mereka dari postur tubuh dan seragam sekolah yang mereka pakai.

Didampingi Oleh Orang tua, para siswa berziarah ke Taman Makam Pahlawan di Harbin, China. /Foto: Ali Romdhoni)

Setelah upacara dan doa selesai dipanjatkan, selanjutnya anak-anak yang didampingi orang tua masing-masing secara beriringan berjalan menuju gedung museum perjuangan. Lokasinya berjarak sekitar tiga ratus meter dari tugu pahlawan yang digunakan sebagai lokasi upacara tadi.

Begitu masuk gedung, kami disambut para petugas, laki-laki dan perempuan, yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Selain dengan ramah menerima pengunjung, mereka juga menjelaskan kepada tamu mengenai hal-ihwal yang ada di museum.

Di lorong bagian pertama, saya menjumpai deretan foto-foto lengkap dengan nama dan masa hidup (tahun) sang tokoh. Di bawah foto terdapat etalase panjang dan khas. Di dalamnya terdapat benda-benda berharga yang memiliki kaitan dengan sang tokoh dan peristiwa perjuangannya.

Di lorong selanjutnya, saya seperti masuk dalam hutan lebat dengan rumah-rumah gubug. Di sini pengunjung bisa menyaksikan cerita para pejuang yang bergerilya, menyeberangi sungai, bertahan, dan betempur melawan musuh. Alur cerita disajikan dalam bentuk foto, lukisan dan patung.

Selanjutnya saya memasuki bagian penyimpanan pakaian, senjata dan benda-benda yang berhubungan langsung dengan para pejuang tempo dulu dan peristiwa perjuangannya. Di sana, misalnya, ada pakaian khas tentara yang masih terdapat bercak darah, senjata dengan berbagai model, kendaraan sederhana untuk mengangkut bahan makanan dalam perang, dan lain sebagainya.

(Para Orang tua secara beriringan mendampingi anak-anak mereka. /Foto: Ali Romdhoni)

Karena ada banyak lorong, di sisi lain setiap bagian ruangan penuh sesak dengan pengunjung, dan saya juga harus mengawasi puteri saya, akhirnya detail bagian-bagian ruangan sulit saya ingat. Namun yang jelas, dari tiap-tiap bagian ruangan menceritakan alur masa awal perjuangan hingga lahirnya Negara China modern.

Dalam beberapa literatur yang saya baca, lahirnya Negara China modern menunjuk pada tahun 1949, yaitu pasca berakhirnya perang saudara di China. Bila sebelumnya China memiliki banyak dinasti yang memimpin negara, maka sejak saat itu China modern dipimpin oleh sebuah partai.

Apa yang bisa kita ambil sebagai pelajaran dari kisah di atas?
Pertama, saya menandai bahwa program-program di sekolah memiliki perhatian yang serius dalam menanamkan nilai perjuangan kepada siswa. Ini terlihat dari cara mereka dalam menunjukkan secara langsung jejak perjuangan para pahlawan kepada siswa. Dari sini, siswa-siswi dilatih untuk menghargai, mendoakan dan meneladani sifat-budi luhur para pejuang kemerdekaan.

Kedua, saya terkesan dengan disain taman makam pahlawan yang terintegrasi dengan museum perjuangan. Penataan route perjalanan, mulai dari pintu masuk ke area makam sampai pintu keluar area makam, secara otomatis membimbing para tamu agar mereka mau memasuki gedung museum setelah berziarah. Artinya, setelah memasuki dimensi abstrak-religius maka peziarah diajak menjelajahi jejak perjuangan yang lebih empirical-material.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)