Its NOT Me

Cara terakhir, Persekusi?

oleh DerielHD

11 May 2018

Sebelumnya, saya sangat berduka cita dengan gugurnya putra-putra bangsa ini dalam tragedi di Mako Brimob kemarin, dan saya mengecam tindakan para napi tersebut.

perbuatan tersebut sejatinya adalah sebuah tindakan persekusi. Persekusi atau tindakan main hakim sendiri kini sepertinya sedang menjadi trend dikalangan masyarakat Indonesia. Seakan tidak puas dengan mengutarakan perbedaan pendapat, kita kemudian menambahkan kata-kata pedas dan perbuatan tidak menyenagkan kepada orang lain yang berbeda pendapat dengan kita. Dan bukan hanya sampai disitu saja, kita seolah belum merasa puas jika lawan kita, yang bisa saja adalah saudara kita sendiri, merasakan sakit yang luar biasa ataupun mati. Kemudian kita akan menertawakan mereka bersama-sama.

Gara-gara perbedaan, kita kembali lagi berubah menjadi manusia barbar pemakan sesama, yang bangga setelah menyiksa orang lain. Kita kembali kejaman dimana menyiksa atau memakan manusia lainnya adalah hal yang biasa. Rela malakukan hal atau tindakan apa saja asalkan kita dapat dengan mudah melenggang meraih kursi kekuasaan. Apa saja dihalalkan untuk merebut dan melampiaskan nafsu birahi kekuasaan dan keegoisan yang dari sejak awal sudah mengalir dalam darah kita. Ya, persekusi adalah hal yang biasa dan wajar, dijaman itu.

Sadarkah kita jika saat ini jaman sudah berubah? Kita tidak lagi hidup dijaman itu. Kemajuan jaman dan dunia teknologi sudah menuntut kita untuk lebih beradab dan menusiawi. Ilmu pengetahuan dan agama mengajarkan kita tentang pentingnya hidup dalam cinta dan kasih sayang terhadap sesama, bukannya saling membenci dan berusaha menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya. Apakah semuanya itu hanya sekedar numpang lewat ditelinga kita? Bagaimana mungkin para ayah akan menjadi teladan yang baik jika apa yang dikatakan tidak sejalan dengan apa yang dilakukan? Bagaimana mungkin para ibu akan menjadi contoh belas kasih jika yang keluar dari mulut hanyalah hal negative mengenai tetangga? Jika hal negative yang kita tabur, maka jangan bermimpi kita akan menuai hal baik dikemudian hari.

baca juga : Mengapa orang jahat dibiarkan hidup lebih lama?

Ya, perbedaan itu sudah membuat bangsa ini mulai terpecah. Perang sindiran, perang tagar di media sosial, menghasut dan memaksa orang untuk mengikuti paham atau keyakinan seseorang. Semuanya kini menjai hal biasa. Apakah itu yang hendak kita pertontonkan kepada generasi penerus kita kelak?

Kejadian di Mako Brimob kemarin membuktikan bahwa tidak ada lagi perasaan simpati atau bahkan empati di hati orang-orang yang jiwanya sudah dikuasai oleh nafsu ingin berkuasa. Mereka menyerang, menindas, bahkan menghilangkan nyawa orang seenaknya, kemudian menyerahkan diri kepada pihak yang berwaib dengan senyum lebar diwajah, seolah menggambarkan ada rasa kepuasan tersendiri setelah melakukan tindakan keji tersebut. Semuanya demi secuil surga yang dijanjikan oleh mereka yang memiliki keinginan untuk berkuasa dan mengambil keuntungan dengan menghalalkan segala cara.

Sekali lagi, persekusi menjadi cara yang menurut mereka paling pantas dalam menegakkan keadilan. Sambil meneriakkan nama Tuhan, mereka menebar kebencian bagi sesama yang tak tahu apa-apa. Mendata calon korban, kalian mengumpulkan massa untuk mendukung tindakan kalian. Bergerombol, kalian melecehkan perempuan dan menyebabkan trauma terhadap anak kecil.

baca juga : Kamu golongan islam mana?

Kemana para elit bangsa ini yang hobinya teriak-teriak membela masyarakat kecil dan mengatasnamakan keadilan? Apakah teriakan mereka hanya terdengar ketika mereka hendak merebut kekuasaan saja? Kemana mereka bersembunyi ketika ada anak-anak, putra dan putri bangsa ini, yang mengalami persekusi hingga mengakibatkan melayangnya nyawa mereka? Para ayah kehilangan penerus garis keturunan, para ibu kehilangan putra-puti kebanggan yang menjadi tulang punggu keluarga, para itri kehilangan suami hebat, dan anak-anak yang kahilangan sosok ayah. Kemana kalian bersembunyi, wahai orang-orang pintar dan sok peduli kepada bangsa ini?

Kalian meneriakkan bagaimana bangsa ini terpenjara oleh pemimpin lalim yang hanya melakukan penitraan dan menipu rakyat dengan progra-programnya, yang hendak menenggelamkan bangsa ini dalam hutang negara yang semakin bertumpuk karena nilai tukar rupiah terhadap dollar yang semakin melemah, sementara kalian tidak peduli jika masyarakat dibangsa ini sedang terpenjara oleh nafsu politik kalian yang hanya senang mengkritik tanpa mau memberikan solusi ataupun membantu pemerintah yang ada. Semoga belas kasihan dan pengampunan Tuhan masih ada untuk kita semua.

 

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis