iT’s Me– Refleksi kehidupan saya lima tahun lalu hingga sekarang. Jelas dengan waktu yang tidak singkat itu banyak hal yang sudah berubah, dari gaya hidup, cara berpikir hingga cara memperlakukan orang lain. Saya sangat bersyukur dengan hidup seperti sekarang, kehidupan sekarang bisa dibilang berkecukupan, walaupun ada masa-masa sulit tapi tidak sesulit lima tahun lalu. Namun, kemudahan yang saya rasakan saat ini membuat saya terkadang melampauhi batas dalam berperilaku, sesuatu yang dulunya bisa dikerjakan sendiri, sekarang  sangat berat untuk saya lakukan. Alhasil saya terikat dengan orang lain, apa-apa harus dengan bantuan orang lain, kadang-kadang minta tolong ke istri sesuatu yang seharusnya mudah untuk dikerjakan sendiri. Seperti, “sayang tolong ambilkan air minum, sayang tolong ambilkan handuk, sayang tolong ambilkan nasi, sayang tolong ambilkan baju, sayang tolong bersihkan tanganku donk”. Kadang-kadang istri saya jawab “Yang, tolong ambil sendiri “.

Zona nyaman selalu membuat saya lupa untuk intropeksi diri, lupa kalau dikeadaan seperti sekarang justru banyak memanfaatkan orang lain dengan sesuatu yang tidak terlalu penting. Bukan cuman orang lain, istri sendiripun merasa dimanfaatkan, atau terperdaya dengan kata “tolong”. Dulu saya sering berpendapat “padahal kalau saja kamu sadar banyak kosa kata yang lebih baik untuk selalu kita ucapkan dibanding “baper lo!”, sebagai contohnya kosa kata Tolong”. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal yang telah berubah, ada yang timbul dan ada yang tenggelam, dan kata tolong semakin klise. Semakin jelas kalau saya mengucapkan tolong untuk menutupi rasa malas yang mengikat saya akhir-akhir ini. Saya lupa diri, terlalu sering minta tolong, dikit-dikit tolong. Dalam beberapa konteks justru saya lebih condong kepada memerintah dibanding benar-benar meminta tolong.

Ketika saya mengucapkan kata-kata tolong dengan sebenar-benarnya tolong, harusnya secara spontan ekspresi atau bahasa tubuh yang terlihat memang ekspresi sedang meminta bantuan. Bisa dirasakan saat saya benar-benar bilang tolong, saya tidak akan bisa berbicara dengan nada suara yang tinggi, tapi sekarang kata tolong bisa diucapkan dalam nada tinggi, nada cepat bahkan dengan nada tidak jelas, meskipun tidak pantas dan kurang cocok. Tetap digunakan karena tanpa sadar zona kemalasan yang membelenggu, bantuan yang datang pun tidak terasa ikhlas. Akhirnya dari kedua pihak yang ditolong dan penolong akan sama-sama merasa tidak dihargai.