iT’s Me- Hingga saat ini penduduk China dikabarkan mencapai 1.378.700.000 (World Bank, 2016) jiwa. Negara dengan populasi sebesar itu, masyarakatnya hidup dalam bahasa dan budaya yang khas. Bahasa dan budaya yang mereka warisi dari leluhur secara turun temurun. Menurut catatan sejarah, peradaban China sudah ada, setidaknya, sejak Dinasti Xia berkuasa (antara 2070-1600 SM).

Bangsa China dengan peradabannya terus ada dan bertahan hingga hari ini. Sebagai negara modern, para pemimpin di negara itu tentu bekerja keras dalam menggerakan masyarakat dan mengelola wilayahnya yang luas.

Daratan China hari ini membentang dari timur ke barat, dan dari selatan ke utara. Wilayah China di bagian timur berbatasan dengan Korea Utara. Bagian timur laut berbatasan dengan Rusia. Bagian utara China juga berbatasan dengan Rusia selain juga Mongolia. Bagian barat laut berbatasan dengan Kazakhstan. Bagian barat berbatasan dengan Afghanistan, Tajikistan, dan Kirgizstan. Bagian barat daya berbatasan dengan Bhutan, Nepal, India, dan Pakistan. Dan bagian selatan China berbatasan dengan Vietnam, Laos, dan Myanmar.

Ada yang mengganjal di benak saya, terkait dengan China hari ini. Bagaimana mereka bisa kuat berada dalam batas lingkaran budaya dan pengetahuan, yang kemudian tetap menyatukan mereka sebagai satu bangsa.

Saya membayangkan, akan membutuhkan kemauan dan kekuatan besar agar satu negara bisa bertahan dalam pengetahuan sendiri—tidak ikut-ikutan membanggakan budaya orang lain. Terlebih di tengah arus gempuran bahasa dan budaya bangsa ‘penjajah’ di era yang mengagungkan kecepatan teknologi informasi saat ini.

Sebagai seorang sarjana yang sehari-hari hidup dalam iklim akademik di Indonesia, saya merasakan betapa kuat pengaruh (hegemoni) kekuatan tertentu untuk menghilangkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap pengetahuan dan budayanya sendiri. Saya menyaksikan orang-orang di sekeliling saya, mereka ingin agar tatanan dan penampilan yang ada di Indonesia mengikuti bangsa lain.

Cara berpolitik, menyelenggarakan pemerintahan, membangun masyarakat, mendirikan sekolahan, hingga membangun gedung-gedung, menilai bagus-tidaknya perguruan tinggi, semuanya kalau bisa didesain mengikuti standar ‘mereka’. Universitas, misalnya, penulisan namanya disusun menggunakan (pola; tata bahasa) bukan bahasa Indonesia. Seluruh nama gedung dan ruangan menggunakan bukan bahasa Indonesia, termasuk petunjuk arah jalan di dalam kampus juga memakai bukan bahasa Indonesia. Padahal pengelola kampus itu orang Indonesia, dan perguruan tinggi itu ada di bumi Indonesia.

Lalu, kita ini siapa?

Bukankah cara berfikir yang seperti itu menunjukkan, sebagai bangsa kita belum menemukan dan menjadi diri sendiri. Apakah ini bukan penjajahan? Jelas ini tindakan bangsa terjajah, bangsa yang tidak mengerti tentang kedaulatan. Mengapa kita menenggelamkan identitas diri sendiri ke dalam budaya bangsa lain.

Mengapa di mata kita, budaya dan pengetahuan yang ada di penjuru negeri Indonesia ini seperti tidak ada harganya? Saya ingin mengajak bercermin kepada bangsa China dengan melihat sekilas cara mereka memperlakukan bahasanya.

Memang, setiap bahasa di dunia ini memiliki tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing. Sama halnya, setiap bahasa memiliki tingkat keindahan dan kelugasannya sendiri dalam mengungkapkan gagasan yang dikandung.

Namun, bahasa China tetap satu yang berbeda. Orang bilang, bahasa ini termasuk yang tersulit dipelajari. Meskipun, kalau saya mengatakan hal ini di depan mereka (penutur asli) dengan segera akan menjawab, bahwa mereka nyatanya tidak kesulitan mempelajari bahasa dan hurufnya yang ribuan itu. Hal itu tentu sudah maklum.

Saya sudah pernah menulis hal ini. Tetapi untuk memperoleh gambaran peta persoalan yang cukup, saya akan menyinggung dalam paragraf pendek.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)