Its My Faith

Berbahasa, Aku Ada: Belajar dari China

oleh Ali Romdhoni

6 October 2017

iT’s Me- Hingga saat ini penduduk China dikabarkan mencapai 1.378.700.000 (World Bank, 2016) jiwa. Negara dengan populasi sebesar itu, masyarakatnya hidup dalam bahasa dan budaya yang khas. Bahasa dan budaya yang mereka warisi dari leluhur secara turun temurun. Menurut catatan sejarah, peradaban China sudah ada, setidaknya, sejak Dinasti Xia berkuasa (antara 2070-1600 SM).

Bangsa China dengan peradabannya terus ada dan bertahan hingga hari ini. Sebagai negara modern, para pemimpin di negara itu tentu bekerja keras dalam menggerakan masyarakat dan mengelola wilayahnya yang luas.

Daratan China hari ini membentang dari timur ke barat, dan dari selatan ke utara. Wilayah China di bagian timur berbatasan dengan Korea Utara. Bagian timur laut berbatasan dengan Rusia. Bagian utara China juga berbatasan dengan Rusia selain juga Mongolia. Bagian barat laut berbatasan dengan Kazakhstan. Bagian barat berbatasan dengan Afghanistan, Tajikistan, dan Kirgizstan. Bagian barat daya berbatasan dengan Bhutan, Nepal, India, dan Pakistan. Dan bagian selatan China berbatasan dengan Vietnam, Laos, dan Myanmar.

Ada yang mengganjal di benak saya, terkait dengan China hari ini. Bagaimana mereka bisa kuat berada dalam batas lingkaran budaya dan pengetahuan, yang kemudian tetap menyatukan mereka sebagai satu bangsa.

Saya membayangkan, akan membutuhkan kemauan dan kekuatan besar agar satu negara bisa bertahan dalam pengetahuan sendiri—tidak ikut-ikutan membanggakan budaya orang lain. Terlebih di tengah arus gempuran bahasa dan budaya bangsa ‘penjajah’ di era yang mengagungkan kecepatan teknologi informasi saat ini.

Sebagai seorang sarjana yang sehari-hari hidup dalam iklim akademik di Indonesia, saya merasakan betapa kuat pengaruh (hegemoni) kekuatan tertentu untuk menghilangkan kesadaran dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap pengetahuan dan budayanya sendiri. Saya menyaksikan orang-orang di sekeliling saya, mereka ingin agar tatanan dan penampilan yang ada di Indonesia mengikuti bangsa lain.

Cara berpolitik, menyelenggarakan pemerintahan, membangun masyarakat, mendirikan sekolahan, hingga membangun gedung-gedung, menilai bagus-tidaknya perguruan tinggi, semuanya kalau bisa didesain mengikuti standar ‘mereka’. Universitas, misalnya, penulisan namanya disusun menggunakan (pola; tata bahasa) bukan bahasa Indonesia. Seluruh nama gedung dan ruangan menggunakan bukan bahasa Indonesia, termasuk petunjuk arah jalan di dalam kampus juga memakai bukan bahasa Indonesia. Padahal pengelola kampus itu orang Indonesia, dan perguruan tinggi itu ada di bumi Indonesia.

Lalu, kita ini siapa?

Bukankah cara berfikir yang seperti itu menunjukkan, sebagai bangsa kita belum menemukan dan menjadi diri sendiri. Apakah ini bukan penjajahan? Jelas ini tindakan bangsa terjajah, bangsa yang tidak mengerti tentang kedaulatan. Mengapa kita menenggelamkan identitas diri sendiri ke dalam budaya bangsa lain.

Mengapa di mata kita, budaya dan pengetahuan yang ada di penjuru negeri Indonesia ini seperti tidak ada harganya? Saya ingin mengajak bercermin kepada bangsa China dengan melihat sekilas cara mereka memperlakukan bahasanya.

Memang, setiap bahasa di dunia ini memiliki tingkat kemudahan dan kesulitannya masing-masing. Sama halnya, setiap bahasa memiliki tingkat keindahan dan kelugasannya sendiri dalam mengungkapkan gagasan yang dikandung.

Namun, bahasa China tetap satu yang berbeda. Orang bilang, bahasa ini termasuk yang tersulit dipelajari. Meskipun, kalau saya mengatakan hal ini di depan mereka (penutur asli) dengan segera akan menjawab, bahwa mereka nyatanya tidak kesulitan mempelajari bahasa dan hurufnya yang ribuan itu. Hal itu tentu sudah maklum.

Saya sudah pernah menulis hal ini. Tetapi untuk memperoleh gambaran peta persoalan yang cukup, saya akan menyinggung dalam paragraf pendek.

Menurut hasil penelitian beberapa ilmuwan di China, jumlah keseluruhan karakter Han Zi (aksara China) berkisar antara 6000 (enam ribu) hingga 80000 (delapan puluh ribu) karakter. Umumnya, pengajar bahasa China menguasai tidak kurang dari enam ribu karakter Han Zi. Demikian pula, masyarakat terpelajar di China rata-rata bisa mengenali ribuan bentuk karakter atau huruf yang berbeda. Seorang pelajar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa membaca huruf Han Zi sebanyak itu.

Meskipun demikian, masyarakat China tidak meninggalkan bahasa dan pengetahuannya. Bahkan hari ini China kembali memaksa mata dunia untuk melirik kepadanya. Tidak kurang dari 440 ribu mahasiswa asing dari berbagai negara belajar bahasa dan berbagai bidang studi di Negeri Tirai Bambu ini (Kompas.com, 21 April 2017).

Ini menjadi bukti bahwa keberadaan China sebagai bangsa diperhitungkan oleh masyarakat internasional.

Terlebih lagi, saat ini bahasa China digunakan oleh 1,39 miliar (bisa lebih) penduduk bumi di seluruh dunia, mengungguli jumlah penutur bahasa Urdu (588 juta orang), bahasa Inggris (527 juta orang), bahasa Arab (467 juta orang), bahasa Spanyol (389 juta penutur) dan bahasa Bengali (250 juta orang). Dengan jumlah penutur sebanyak itu, bahasa China telah digunakan di 33 negara di dunia (The Washington Post, 23 April 2015).

Tidak mudah untuk mencapai prestasi di atas. Kita bisa membayangkan, bagaimana keseriusan negara, para bijak-bestarinya, dan terutama komitmen masyarakatnya. Tanpa dilandasi kerja sama dan kemauan yang hebat, mustahil China bisa menjadi negara seperti saat ini.

Menurut analisis saya, kesuksesan China dalam membangun masyarakat dan negaranya, terutama pasca berakhirnya perang saudara tahun 1949, salah satunya karena keberanian dan komitmennya untuk menjadi bangsa mandiri, tidak bergantung kepada orang lain. Dengan rakyat sebanyak itu, pemerintah China hati-hati dan tidak mengijinkan pengaruh luar terlibat mengelola sumber daya yang mereka miliki.

Saya lalu teringat dengan makna filosofi sebutan Negeri Tirai Bambu. Konon, sebutan itu merujuk pada masyarakat (terutama pemerintahnya) China yang sangat rapat menahan pengaruh asing agar tidah masuk dan merusak tatanan nilai yang sudah ada.

Komitmen China sebagai bangsa yang berdaulat juga terlihat dalam sikap masyarakatnya, yang memilih menuturkan bahasanya sendiri, dan bersikap hati-hati terhadap apa pun yang datang dari luar. Hegemoni bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, terutama dalam ilmu pengetahuan dan politik, juga tidak berpengaruh banyak terhadap orang China. Mereka tetap asyik dengan bahasa dan budayanya sendiri. Meskipun, dalam pengamatan saya, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor internal. Orang China umumnya kesulitan menirukan pronunciation kata yang bukan dari bahasa asli mereka.

Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa yang pernah digunakan berbagai suku di Indonesia. Di sini kita bisa melihat, jangankan merawat bahasa di berbagai daerah di Indonesia, terhadap bahasa kesatuan Republik Indonesia saja sedikit yang peduli.

Saya melihat, bahasa Indonesia berkembang dengan cepat namun liar. Setiap orang seperti bebas menciptakan istilah dan aturan baru dalam berbahasa. Penulis, misalnya, di antara mereka ada yang senang mengutip kata asing secara langsung dan terlalu sering. Para pengelola media memiliki standar penulisan sendiri-sendiri. Sementara kaum akademik yang menguasai aturan baku bahasa Indonesia justru jarang hadir dalam memberikan contoh berbahasa yang benar.

Siapakah yang layak dianggap bisa mewakili penutur bahasa Indonesia yang standar. Apakah para akademisi di lingkungan pendidikan, pegawai pemerintahan, insan perfilman, wartawan dan penulis di media sosial, kaum muda yang suka menciptakan istilah, atau masyarakat di kampung yang belum terpengaruh budaya pendatang yang lalu-lalang sebagaimana suasana di kota.

Saya tidak ingin buru-buru menjawabnya dan biarlah hal ini menjadi renungan bersama.

Tetapi jangan lupa, setiap bahasa menyimpan pengetahuan, logika, kearifan, dan identitas masyarakat penuturnya. Satu bahasa yang tidak lagi dituturkan oleh penggunanya menjadi petanda bagi musnahnya pengetahuan yang khas. Ini pula yang terjadi dengan bahasa-bahasa di Indonesia yang mulai ditinggalkan.

Di sinilah kekuatan bahasa dan bangsa china. Memang, China memiliki cerita dan takdirnya sendiri, sebagai salah satu bangsa yang tidak pernah dijajah negara lain (kecuali Hongkong dan Makau). Tetapi, di luar itu, China memang memiliki usaha dan kerja keras sendiri. Karena faktor inilah, kita perlu belajar menjadi bangsa yang berdaulat kepada mereka.

Apakah ceritanya akan sama bila Indonesia mau berteguh dengan bahasa dan ilmu pengetahuannya? Tidak ada yang bisa menjamin. Harus kita akui bersama, Indonesia memang berbeda. Di Indonesia ada ribuan bahasa, budaya, suku, dan pulau.

Tetapi, justru di sini tantangan kita, generasi muda. Bagaimana kaum muda Indonesia menciptakan formula untuk mensinergikan kekuatan yang ada di Indonesia, untuk selanjutnya membangun pengetahuan modern.

Mari kembali pada bahasa dan pengetahuan bangsa Indonesia. Saya sendiri belum tahu, kita akan memulai dari mana. Karena itu saya ingin mendiskusikan dengan Anda. Wallahu a’lam bis-Shawab.

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni