iT’s me – Berselancar di media sosial itu sungguh mengasyikkan. Ia seperti samudera hikmah, walau bukan samudera kebenaran. Dalam arti, tak semua yang ada di media sosial itu benar. Bahkan, dalam kondisi masyarakat yang kian sengit akan sentimen, bisa jadi akan lebih banyak kesalahan ketimbang kebenaran di media sosial.

Hoax bertebaran di sana, ujaran kebencian berseliweran, vonis dan tuduhan begitu mudah dicuitkan, dan seterusnya. Namun, hikmah punya dimensi yang unik, yang membuat segala sesuatu, bahkan kesalahan, bisa dipetik sisi benarnya.

Pertama, kita bisa mengambil hikmah berupa kebenaran begitu saja. Ia memang objek yang benar. Kita tinggal mengambilnya saja. Kedua, kita bisa mengambil sebagian kebenaran. Misal, bisa jadi teksnya benar, konteksnya salah. Premisnya benar, kesimpulannya salah.

Ketiga, kita bisa mengambil kebenaran dari suatu kesalahah. Inilah mungkin yang dimaksud Sayyidina Ali bin Abi Thalib, “Ambillah hikmah walau dari mulut seorang munafik.” Dalam arti, bisa jadi penuturnya munafik, latar belakangnya munafik, atau tujuannya munafik, tapi yang dituturkannya benar. Atau, tuturannya pun munafik-salah, tapi kita ambil hikmah dengan membalikkannya: sisi sebaliknya.

Salah satu hikmah yang baru-baru ini saya dapatkan dari media sosial, tepatnya Facebook, adalah foto seorang lelaki jangkung buta bernama Muhammad yang menggendong seorang lelaki kecil yang lumpuh kakinya bernama Samir. Dan, ternyata, keduanya saling berbagi: Muhammad berbagi kakinya dengan Samir, dan Samir berbagi penglihatannya dengan Muhammad.

Tak berhenti sampai di sana kesyahduan: Muhammad adalah seorang Muslim dan Samir adalah seorang Nasrani. Keduanya seorang yatim-piatu yang telah bersama dan berbagi hampir seumur hidupnya. Bekerja bersama di sebuah warung kopi. Dan wafat dalam waktu yang hampir bersamaan: Samir wafat lebih dulu dan disusul sepekan kemudian oleh Muhammad yang tak kuat menahan kesedihan akan wafatnya sahabat berbaginya itu.

Ada sebuah ikatan yang begitu kuat antar keduanya di tengah sesuatu yang kini dianggap jurang besar dan mustahil bersatu: Islam-Nasrani.

(Arsip Foto:// Mohammed dan Sameer dari Syria pada tahun 1889 di kota Damaskus, Suriah)

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari foto dan realitas yang terpotret itu? Tentu, ia samudera hikmah. Saya pun malu untuk “lancang” memotret hikmah dari keduanya. Namun, dengan kerendahan hati, saya memberanikan diri untuk itu, sembari mau menegaskan bahwa yang akan saya paparkan hanya secercah hikmah yang bisa saya petik dari keduanya, sesuai konteks yang menurut saya dibutuhkan dalam kondisi keberagamaan kita saat ini. Artinya, selebihnya silakan Anda petik sendiri sesuai penglihatan dan konteks yang mengitari Anda.

Pertama, ada nilai universal yang letaknya bahkan melampaui agama, yakni “kemanusiaan”. Sebab, bahkan agama sebenarnya diturunkan sebagai perangkat untuk membuat manusia menjadi pro-kemanusiaan. Nilai itu melintasi sekat-sekat apa pun, termasuk agama atau bahkan ketuhanan sekalipun. “Rahman”-Nya itu diberikan pada seluruh ciptaan-Nya, tanpa memandang sekat agama ataupun tanpa peduli walau ia tak beriman pada-Nya.

Sampai di sini, ada sebuah kisah menarik dan relevan yang dibawakan Eric Winkel (pakar Ibn ‘Arabi) dalam satu sesi diskusi tentang pemikiran Ibn ‘Arabi di Jakarta pada akhir 2015 lalu. Alkisah, Nabi Ibrahim pernah kedatangan tamu tak dikenal ke rumahnya. Dia seorang kakek tua berumur 70-an tahun. Dia kelaparan dan minta makan pada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim bertanya tentang kepercayaannya pada Tuhan, dan ia pun menjawab bahwa ia ateis. Lalu, Nabi Ibrahim menawarkan padanya untuk bersaksi akan Tuhan, lalu akan memberinya makan. Namun, kakek itu enggan menukar sepiring nasi dengan apa yang diyakininya, lalu ia pergi.



Husein Ja'far Al Hadar

Husein Ja'far Al Hadar

Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Husein Ja'far Al Hadar

Latest posts by Husein Ja'far Al Hadar (see all)