iT’s Me- Tanggal 21 kemarin adalah jadwal keberangatan saya dan keluarga kecil saya, dari palu menuju gorontalo. Setelah seminggu bersama orangtua dan saudara-dara di kampung kami pun melanjutkan perjalanan ke gorontalo. Saat orangtua saya melepas kami di bandara terlihat kesedihan mendalam di wajahnya, mereka harus berpisah dengan cucu pertamanya. Seminggu adalah waktu yang sangat singkat bagi oragtua saya, sebab mereka menunggu 11 bulan baru bisa bertemu dengan cucu perempuannya, karena sebelumnya saya dan istri tinggal di bogor.

Saat di ruang tunggu, kami melihat segerombongan penumpang berdiskusi sangat serius. Rasa penasaran membuat saya mendekat, saya bertanya ke salah satu penumpang yang turut serta dalam perbincangan tersebut. Dan ternyata mereka sedang menuntut ke pihak wings air atas ketertundaan keberangkatan menuju luwuk. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari perwakilan lion group, ketertundaan terjadi karena pesawat menuju palu mengalami kerusakan dan tidak bisa terbang hari itu.

Penumpang wings air menuntut ganti rugi atas ketertundaan tersebut, dalam undang-undang yang terpampang pada banner di ruang tunggu sangat jelas ganti rugi apa saja yang akan di berikan kepada penumpang. Karena perwakilan lion group berteleh-teleh, penumpang semakin marah, akan tetapi berdasarkan penjalasan yang saya dengarkan dari perwakilan lion group bahwa mereka hanya mengganti beberapa poin saja, sedangkan penumpang tetap menuntut agar pihak lion group mengganti rugi semua poin, sama seperti yang tertera di banner.

Perdebatan berlangsung lama, hingga akhirnya penumpang hanya ingin berbicara dengan manajer lion group. Setelah saya selesai mendegar penjelasan dari kedua belah pihak, meskipun tidak sempat mendengar kesimpulan dari perwakilan lion group, saya kembali meghampiri salah satu bapak tua yang juga masuk dalam daftar penumpang tidak jadi berangkat hari itu. Saya penasaran kenapa bapak tua itu tidak ikut dalam keributan, saya mendekat dan berenalan dengan bapak tua tersebut.

Saya bertanya kenapa tidak ikut menuntut, bapak tua menjelaskan bahwa beliau sudah mengalami hal yang sama beberapa kali. Ia menjelaskan bahwa pihak lion group akan menanggung peginapan dan makan, bapak tua itu menyikapi dengan positif dan cukup santai. Beliau terus menjelaskan kepada saya bahwa kalau tidak bisa berangkat yang tidak apa-apa, lagian itu untuk keselamatan penumpang, kalau dipaksaan tiba-tiba terjadi apa-apa di udara kita juga korbannya. Mendengar penjelasan beliau, saya justru salut dengan cara bapak tua menyikapi situasi saat itu, dimana ada sebagian orang marah-marah dengan stuasi yang di alaminya, bahkan teriak-teriak dengan berbagai macam alasan, tetapi beliau tetap adem dan tenang.

Setelah beberapa menit berbincang-bincang dengan beliau, tidak terasa terdengar pengumuman penumpang tujuan gorontalo segera naik ke pesawat. Penerbangan menuju gorontalo memakan waktu kurang lebih satu jam, dalam pesawat saya masih memikirkan bapak tua yang duduk tanpa beban. Saya berharap saya pun bisa seperti beliau, tetap tenang saat orang lain tidak lagi bisa mengendalikan emosinya. Pihak lion group harus bertangung jawab atas ketidak nyaman penumpang dan penumpang juga harus menyikapi dengan baik dan bijak. Saya bersyukur karena saya istri dan anak kami mendapatkan perlajaran berharga, perjalanan yang tidak sia-sia.

Lihat videonya:



Latest posts by arpan (see all)