iT’s me – “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah” telah menjadi slogan dan komitmen hampir semua Muslim, baik individu maupun kelompok di dunia, yang merujuk cukup banyak ayat al-Qur’an dan hadis-hadis. Ternyata umat Nabi Muhammad SAW, setelah beliau wafat, mengikuti perintahnya secara berbeda. Mereka melihat al-Qur’an dan kehidupan Nabi berbeda-beda dan bahkan sering bertentangan satu sama lain. Umat Islam berbeda memahami hubungan antara al-Qur’an dan Hadis Nabi. Apa saja jalan-jalan yang berbeda itu, dan mengapa ada banyak jalan?

Beberapa buku pengenalan seperti karya Fazlur Rahman, Jonathan Brown, dan Asma Afsaruddin, cukup menarik diulas dalam menjawab pertanyaan di atas. Penjelasan umumnya, al-Qur’an, diyakini turun selama kurang lebih 23 tahun di Mekkah dan Madinah, yang lisan dan tulisan disusun dan kemudian menjadi kitab resmi (kanonikal) di zaman Khalifah Usman bin Affan, meski ada perbedaan kata dan cara membaca (qiraat), dan kemudian digunakan umat Islam hingga saat ini.

Umat Islam meyakini periwayatan al-Qur’an terjadi secara mutawatir, banyak sahabat dan keluarga Nabi, sehingga mustahil ada kesalahan dan pertentangan redaksional. Pada tataran ini, kajian kritis terhadap al-Qur’an tidak seberkembang dengan kajian kritis kitab-kitab agama lain.

Berbeda dengan al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad tidak dikumpulkan dalam bentuk buku pada mulanya. Pengikut-pengikut Nabi masa awal memahami Sunnah sebagai keseluruhan kata, perbuatan, dan sikap Nabi, dan mereka mengikuti sesuai dengan kecenderungan dan kapasitas mereka, tanpa memerlukan teks tertulis. Karena umat Islam berkembang dan menyebar ke berbagai tempat, muncul berbagai kelompok yang bertentangan tentang bagaimana mengikuti Sunnah Nabi.

Kelompok yang dikenal Ahlul Hadis beranggapan Sunnah Nabi harus melalui hadis. Sedangkan Ahlul Ra’y, berpendapat, meskipun riwayat-riwayat hadis itu penting, Sunnah adalah praktik yang hidup yang diwariskan para pengikut awal Nabi. Ahlul Hadis mengembangkan ilmu hadis untuk meneliti kapasitas dan karakter periwayat (isnad) dan kemudian setelah lama sekali baru isi riwayat (matan) juga.

Maka, munculah koleksi-koleksi hadis oleh Bukhari (w. 870), Muslim (w. 875), dan lain-lain. Di kalangan Syiah pun, yang tidak percaya khalifah kecuali Ali bin Abi Thalib, memiliki hadis-hadis mereka menurut imam-imam jalur keturunan Ali yang mereka yakini terbebas dari kesalahan.

Kalangan Mu’tazilah meyakini al-Qur’an sebagai ciptaan (makhluq), karena jika ia bukan ciptaan, maka ada sesuatu selain Allah yang mula ada. Mereka tidak mempercayai hadis-hadis yang penuh ketidakpastian dan berbeda dengan al-Qur’an yang pasti otentik.

Namun, pada masa klasik dan pra-modern, banyak ulama memahami sebab dan konteks ayat al-Qur’an, yang kemudian dikenal dengan asbab al-nuzul, selain biografi Muhammad dan para sahabat. Misalnya, ayat 2:216, “berperang diwajibkan atas kalian meskipun kalian tidak suka”, diartikan hanya ditujukan kepada Nabi dan para sahabat ketika konflik dengan kafir Quraish Mekkah, bukan ditujukan untuk semua orang dan di semua kondisi.

Selain soal asbab al-nuzul, ulama berbeda pendapat mengenai naskh (penghapusan ayat sesudah atas ayat sebelum), dan makna-makna lain naskh, seperti atas ayat 2:25, “Tidak ada paksaan dalam agama” dihapus ayat lain yang memerintahkan perang kepada kaum kafir.

Di zaman modern, ada banyak sikap di kalangan Muslim. Pertama, kalangan modernis Islam, yang dipengaruhi pencerahan dan modernitas Eropa, mengkritik hadis-hadis yang bertentangan dengan akal sehat dan sains. Terhadap ayat-ayat al-Qur’an pun, seperti terkait dengan mukjizat, poligami, perbudakan, jihad, dan qital, mereka menafsirkannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan modernitas.



Muhamad Ali

Muhamad Ali

Associate Professor, Religious Studies Department & Chair, Middle East and Islamic Studies Program, University of California, Riverside.
Muhamad Ali

Latest posts by Muhamad Ali (see all)