Its NOT Me

Banjir? Gak apa-apa, yang penting …

oleh DerielHD

14 December 2018

Sudah seminggu ini saya gak buka medsos karena sibuk dengan banyak sekali kegiatan. Sekali dibuka, BOOM! Banyak sekali info-info menarik dan ‘menarik’ yang menjadi hiburan pelepas lelah. Apa aja? Ada om Lanyala yang meminta maaf ke Pak Joko atas black campaign 2014, ada kisah mualafnya atlet wushu Indonesia, ada juga mengenai si calon RI02 yang diusir secara halus dari pasar di Sumut.

Namun, diantara semua berita itu, yang paling menegangkan adalah berita mengenai tergenangnya sebagian besar Ibu Kota, DKI Jakarta, oleh air hujan yang mengguyur terus-menerus. Wah! Kok bisa gitu? Bukannya Pemerintah Jakarta sudah punya Gubernur baru yang super pintar yang memiliki segudang ide dan gagasan untuk menangani banjir Jakarta? Masih ingat kan mengenai pidato singkat pak Gaberner pada masa kampanye yang mengungkit masalah banjir Jakarta?

Ya, jadi banjir Jakarta memang sudah seharusnya seperti itu. Memang sudah suratan takdir kalo air itu akan jatuh ke bawah dan masuk ke tanah, mungkin karena airnya kebanyakan jadi menyebabkan genangan. Kmarin kan pak Gaberner sudah ingatkan untuk menyediakan 1,8 juta lubang vertical untuk drainase untuk mempercepat masuknya air itu ke tanah, saat ini mungkin belum tercapai, jadi sebaiknya warga Jakarta ya bersabar saja sampai seluruh air yang menggenang (bukan banjir) itu diserap semuanya oleh tanah.

Loh, waktu Koh Ahok yang menjabat gimana? Oh itu lain. Kalo kokoh yang satu itu memang gak pintar berkata-kata, bahkan setiap kata yang keluar dari mulutnya cenderung menyakitkan, namun si Kokoh tetap berusaha untuk membahagiakan warganya dengan mengatasi banjir dengan aksi, bukan dengan teori. Tapi itu kan dulu.. pendukung si Kokoh move on aja lah. Biarkan Pak Gaberner menjalankan pemerintahannya sesuai dengan keinginannya. Toh tahun baru sudah dekat, benatr lagi kan airnya akan masuk sendiri kedalam tanah.

Yang disayangkan adalah, warga kok pada diem aja sih? Apakah karena benderanya sama dengan Pak Gaberner atau gimana? Oh mungkin sudah terlanjur malu dan menyesal karena sudah salah dalam memilih pemimpin? Asudahlah! Gak perlu malu dan menyesal, nikmati aja. Masih ada 4 tahun lagi loh..

Ya, akhirnya Jakarta banjir lagi. Normalisasi atau betonisasi, atau apalah namanya itu ternyata tidak mampu menghambat datangnya air yang massive itu.. berapa juta liter ya itu? Apakah sebanyak yang kemarin datang di Monas? Ya enggaklah, yang datang di Monas kemaren itu jumlahnya jauh lebih banyak. Air yang menggenang ini gak ada apa-apanya.

Bersabar saja ya, warga Jakarta. Gak perlu panic, menyesal, ataupun malu. Kami hanya bsa berdoa supaya tanah bisa menyerap semua air itu dengan cepat sehingga tanah Jakarta bisa lekas kering dan aktifitas kalian semua tidak terhambat.

Pelajaran yang bisa kita petik dari cerita ini adalah, bijaksanalah dalam memilih pemimpin. Lihat yang benar-benar berprestasi dengan aksi bukan berprestasi dengan teori. Pilihlah pemimpin yang peduli terhadap rakyatnya, bukan kepada sahabat-sahabat atau timsesnya. Pilihlah pemimpin yang jujur, adil, dan rendah hati, meskipun tidak seiman dan mulutnya mengeluarkan kalimat pedas menyayat hati. Terkadang, berkat Tuhan itu datang dengan cara yang menyakitkan, untuk membangunkan kita dari tidur yang panjang karena kesalahan pemimpin sebelumnya.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis