iT’s me – Setiap bangsa yang ada di muka bumi ini memiliki cara tersendiri dalam menciptakan pengetahuan dan teknologi, untuk memudahkan anggota masyarakat mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup. Termasuk dalam kategori melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah menerapkan pengetahuan ‘orang lain’ dengan melakukan penyesuaian-penyesuaian secukupnya.

Proses paling awal yang dilakukan oleh satu komunitas dalam menerapkan pengetahuan ‘orang lain’ adalah menandai (mengenal, memberi sebutan khas, atau mengalih-bahasakan) pengetahuan tersebut. Setelah itu, satu pengetahuan baru akan digunakan secara masal oleh masyarakat (user).

Ketika teknologi computer hadir di tengah masyarakat Indonesia, misalnya, kita bisa memilih memberi sebutan khas kepada ‘barang baru’ tersebut, atau langsung menyebutnya sebagaimana nama asalnya.

Artikel ini ingin menguraikan pengamatan saya terhadap kebiasaan orang China yang selalu menciptakan istilah (nama) yang khas, untuk menyebut pengetahuan (fenomena, benda, nama, dan istilah) asing yang baru mereka temui.

Dalam tradisi ilmu pengetahuan China, yang diberi label baru (dialih-bahasakan) tidak hanya istilah ilmiah, tetapi juga nama orang dan negara (non-China) pun diterjemahkan—atau, lebih tepatnya ‘alih-bahasakan’—ke dalam bahasa China dengan logat yang khas. Ini sekaligus menjadi ciri dan keunikan tradisi ilmu pengetahuan bangsa China.

Bahasa China memiliki panggilan tersendiri dalam menyebut negara-negara yang mereka kenal. Misalnya, orang China mengenal Indonesia dengan sebutan Yinni, menyebut Arab dengan Alabuwo, memanggil Jepang dengan Riben, Amerika menjadi Meiguo, Russia menjadi Elose, dan seterusnya.

Menurut analisis saya, ada dua faktor yang membuat tradisi pengetahuan China selalu menciptakan istilah baru untuk fenomena dan pengetahuan asing yang baru mereka ketahui.

Pertama, sebenarnya orang China tidak menciptakan pengetahuan atau bahasa baru untuk mengistilahkan fenomena yang mereka hadapi. Tetapi, mereka telah terlebih dahulu memiliki istilah untuk menyebut fenomena terkait. Mengapa bisa demikian, hal ini karena usia pengetahuan dan kebudayaan bangsa China sudah sangat tua, mendahului bangsa-bangsa lain di dunia.

Ketika ada satu pengetahuan digunakan secara masal oleh masyarakat internasional, masyarakat China tidak mengikuti istilah yang digunakan bangsa lain, tetapi kembali lagi kepada tradisi ilmu pengetahuan mereka.

Beberapa contoh nama barang dalam bahasa China, misalnya, diannao (komputer), dianshi (televisi), huzhao (paspor; passport), qianzheng (visa), dan seterusnya. Kalau kita membandingkan nama-nama ini dalam bahasa China dan Inggris akan terkesan jauh dari mirip. Berbeda sekali dengan terjemahan nama-nama tersebut di dalam bahasa Indonesia, yang relative sama.

Kedua, saya melihat, lisan orang China tidak terbiasa berselancar dalam menuturkan huruf dan bahasa orang lain. Anak-anak mereka terdidik untuk teguh dalam mempelajari dan memegang bahasa nenek moyang. Akibatnya, mereka kesulitan melafalkan bahasa bangsa lain sebagaimana penutur aslinya.

Jadi, mengapa bangsa China selalu menerjemahkan istilah baru kedalam bahasa nasional mereka, tidak lebih karena faktor keterbatasan pronunciation (cara pengucapan). Dalam kondisi yang demikian, mereka memilih untuk menciptakan penyebutan tersendiri (khusus, bersifat nasional) terhadap semua hal yang mereka temukan dan ada dalam kehidupan keseharian mereka.

Namun di sisi lain, saya juga melihat sisi positifnya. Penerjemahan terhadap setiap fenomena dan benda yang mereka jumpai ke dalam bahasa nasional bisa disimpulkan, sesungguhnya bangsa China telah menyaring setiap kebudayaan asing yang masuk. Di sinilah pusat bahasa satu negara berperan dengan baik.

Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia, misalnya. Masyarakat kita terdiri dari berbagai suku, bangsa, bahasa dan juga budaya. Sejak sebelum menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bangsa-bangsa di Nusantara sudah saling berinteraksi. Terlebih lagi setelah menjadi satu kesatuan. Hal ini masih ditambah lagi dengan kedatangan bangsa-bangsa lain karena faktor kebudayaan, aktifitas ekonomi dan penjajahan.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia
Mahasiswa S3 Heilongjiang University, China
Penulis buku antara lain: 9 Sumber Kecerdasan dan Kebijaksanaan (Jakarta: Penerbit Baca, 2016); Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Jakarta: Linus, 2012).
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)