Its My Faith

Bahasa Indonesia dan Bahasa-bahasa di Daerah

oleh Ali Romdhoni

30 October 2017

iT’s Me- Bahasa Indonesia diikrarkan sebagai ‘bahasa nasional’ pada Kongres Pemuda, tanggal 27-28 Oktober 1928. Sejak saat itu bahasa Indonesia menjadi media pemersatu, terutama dalam menjembatani komunikasi antar suku dari Sabang sampai Merauke. Saat itu, bahasa Indonesia juga digunakan untuk menumbuhkan nasionalisme, membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Fungsi bahasa Indonesia sebagai pemersatu suku-suku di Indonesia ini berkebalikan dengan fungsi bahasa Inggris di Eropa. Bahasa Inggris menjadi media komunikasi yang bersifat internasional di tengah bahasa-bahasa Eropa yang mengembangkan diri masing-masing sebagai bahasa nasional, dan dengan kesempitan masing-masing bangsa. Sementara bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional yang luas, karena menjadi perekat bagi semua suku bangsa yang ada di negeri ini, dengan beragam bahasanya.

Kalau bahasa Inggris mengembangkan diri dengan jalan mengalahkan bahasa-bahasa di kawasan masing-masing, maka bahasa Indonesia justru berkembang dengan menyerap unsur daerah yang saling berbeda (Abdurrahman Wahid, 2002).Di sini terlihat kekhususan bahasa Indonesia. Akar tumbuhnya bahasa Indonesia berasal dari bahasa-bahasa lokal yang dituturkan oleh masyarakat di Indonesia. Bahasa Indonesia tumbuh dengan kosakata bahasa-bahasa di daerah.

Maka, penting bagi kita untuk melihat kembali daftar kosakata dan alur logika di dalam bahasa daerah di Indonesia. Dalam pembahasan ilmu logika, bahasa adalah alat wicara untuk mengungkapkan perasaan si pemilik wicara, supaya alam fikirannya dapat dimengerti oleh orang-orang yang diajak berkomuniksi. Tanpa bahasa berarti akan ada gagasan, ide dan keinginan yang tidak bisa ditangkap oleh orang lain.

Setiap kata dalam bahasa (termasuk bahasa daerah) mengekspresikan satu konsep (pengetahuan) yang lahir dari konteks masyarakat, ruang dan waktu yang khas. Dengan mengetahui konteks kelahiran satu kata, kita akan mengetahui makna kata itu dengan benar. Sebaliknya, kata yang tidak diketahui konteks kelahirannya akan kehilangan makna utama. Di sini akan mengakibatkan terjadinya bias semantic (penyimpangan makna).

Di sisi lain, perjalanan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu harus diketahui oleh generasi muda saat ini. Pembacaan atas kejadian di waktu lampu penting dilakukan agar kita tidak keliru dalam meneruskan perawatan negeri ini. Hal ini juga sebagai upaya menemukan jati diri bangsa Indonesia.

Catatan sejarah perjalanan bangsa Indonesia itu terdokumentasi dalam kebudayaan dan terumuskan dalam setiap kata dalam bahasa-bahasa di Indonesia (bahasa daerah). Di sana ada adat istiadat (tradisi) yang secara turun temurun dilestarikan oleh sekelompok masyarakat. Juga ada cerita tutur yang tersimpan di dalam ingatan para tokoh dan tetua adat di daerah pedalaman.

Seluruh pengetahuan lama itu terhimpun di dalam cerita lokal, tersimpan dalam kosa kata bahasa daerah. Menurut saya, kehebatan satu bangsa di dunia ini ditandai dengan lahirnya masyarakat dengan keunggulan bahasa, budaya dan pengetahuannya. Artinya, kemenangan satu bangsa mensyaratkan masyarakatnya untuk benar-benar hidup dalam bahasa, budaya dan pengetahuannya sendiri—bukan menjiplak pengetahuan bangsa lain dan menjadi seperti orang lain.

Saya semakin menyadari hal ini ketika mengamati perkembangan masyarakat China. Sampai hari ini, mereka bangga dengan bahasa, budaya dan pengetahuannya sendiri. Kita tidak tahu apakah ke depan mereka akan terus seperti itu, tetapi hingga hari ini memang demikian yang terjadi.

Bila khazanah ilmu pengetahuan Indonesia mau dikaji kembali, sebagai upaya menemukan jati diri (keunggulan) bangsa Indonesia, maka pintu masuknya adalah khazanah kebudayaan daerah. Mengkaji kebudayaan daerah berarti memahami bahasa local, misalnya bahasa Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bugis, Lombok, Sumbawa dan lainnya. Tanpa menggunakan cara ini, upaya untuk menemukan pengetahuan khas Indonesia menjadi semakin sulit.

Bahasa Daerah Pintu Gerbang Budaya Nasional

Catatan harta pusaka dan kekayaan di masa lampau, hampir semuanya berupa manuskrip yang ditulis dengan huruf lokal. Seperti Suluk Wujil, karya sastra berbentuk puisi yang ditulis dengan aksara Jawa (ha, na, ca, ra, ka). Konon, Suluk Wujil merupakan hasil perenungan Kanjeng Sunan Bonang (abad ke-16).

Salah satu wali Sembilan ini meninggal di Tuban, Jawa Timur. Suluk Wujil memuat ajaran moral Islam atau ilmu tasawuf (Sri Harti Widyastuti: 2001). Dalam khazanah sastra Jawa, karangan di atas berisi pesan moral untuk tujuan pengajaran. Karena menggunakan aksara dan bahasa daerah, maka untuk mengetahui isinya harus lebih dulu menguasai bahasanya.

Selain Suluk Wujil, para pujangga yang dilahirkan bumi Indonesia juga telah menghasilkan karya yang jumlahnya berjilid-jilid dan bila dikumpulkan akan menggunung. Di antaranya Serat Wirid Hidayat dan serat lainnya yang dikarang oleh Ronggowarsito (1802-1873), pujangga dari Keraton Surakarta. Saya juga mengenal seorang pemburu naskah keislaman. Kepada saya, pemuda asal Jawa Barat ini bercerita telah menerima kita-kitab yang ditulis dengan huruf Arab dari para kiai di Jawa Barat, Banten, Mataram dan daerah lainnya.

Ini belum termasuk teknologi terapan yang digunakan masyarakat terdahulu, yang telah teruji memudahkan hajat hidup mereka sehari-hari, termasuk dalam merawat alam Indonesia. Misalnya, cerita tentang masyarakat pesisir di Sumatera yang bisa mengenali tanda-tanda bila akan ada bencana datang, dan lain sebagainya. Kearifan lokal pemberian nenek moyang kita itu hampir terlupakan, sementara belum ada dokumentasi tertulis yang memadai.

Mengetahui khazanah budaya dan pengetahuan kuno ini penting untuk memahami sejarah perjalanan bangsa kita. Di sini, bahasa daerah menjadi pintu untuk memasuki rumah kebudayaan nasional.Mengerti bahasa daerah sangat bemanfaat untuk mengkaji dan mengembangkan budaya nasional. Karena itu, mengetahui bahasa-bahasa yang dimiliki masyarakat Indonesia penting bagi generasi masa kini.

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni