Its NOT Me

Audrey, ditendang, diinjak, dan dikeroyok. Demi apa?

oleh DerielHD

11 April 2019

Entah berapa banyak lagi anak-anak atau orang yang harus menjadi korban tindakan kekerasan akibat perilaku menyimpang dari beberapa oknum. Lama perilaku atau tindakan bullying tidak terdengar, kini muncul lagi di pemberitaan setelah seorang siswi SMP di Kalimantan menjadi korban kekejian dari rekan satu sekolahnya sendiri.

Diketahui kronologi kejadiannya bermula ketika Audrey memposting sesuatu di media sosialnya yang menyulut kemarahan dari beberapa orang siswi lainnya. Naas bagi Audrey, tanpa peringatan 12 orang siswi datang dan mengeroyoknya hingga babak belur. Audrey dipukuli, diinjak, kepalanya dibenturkan ke aspal, bahkan, dikutip dari kompas.com, kemaluan gadis polos tersebut ikut menjadi sasaran kemarahan dari siswi-siswi tersebut.

Entah setan apa yang sudah merasuki pikiran dan membunuh akal sehat serta rasa kemanusiaan dari mereka yang menganiaya Audrey, sampai mereka tega melakukan tindakan yang sesadis itu.

Komnas perlindungan anak setempat sempat mengeluarkan pernyataan mengenai hal ini dan meminta supaya permasalahan ini tidak sampai diblow up atau dibesar-besarkan. Bahkan mereka meminta agar supaya permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan saja, mengingat usia korban dan pelaku yang masih masuk kategori anak dibawah umur.

Bahkan terkesan komnas perlindangan anak setempat ingin menutup-nutupi permasalahan ini, terkait dengan beredarnya isu bahwa salah seorang pelaku merupakan anak dari seorang pejabat atau penguasa di daerah tersebut.

Sungguh memprihatinkan memang jika kita melihat tingkah laku dan pola pergaulan anak-anak dimasa kini. Bagaimana mereka yang masih sangat muda sudah mendapatkan kebebasan yang seharusnya didapatkan ketika mereka menginjak usia dewasa. Akses terhadap hiburan yang tidak sesuai dengan kategori usia, akses mudah terhadap internet, siaran-siaran tv dewasa, hingga hobi negatif yang berujung pada hilangnya rasa simpati ataupun empati terhadap sesama, dan bisa jadi berujung pada hilangnya moral dari jiwa oknum tersebut. Dan apa yang menimpa Audrey bisa menjadi salah satu contohnya.

Pertanyaannya sekarang bagi kita adalah, siapa yang patut dipersalahkan? Apakah para pelaku, orang tua yang salah mendidik anak, atau kemajuan teknologi? Jika kemudian karena dengan alasan para pelaku masih dibawah umur lalu mereka lolos dari jerat hukum, bung, jangan salahkan orang lain jika kemudian yang berlaku di tengah masyarakat adalah hukum rimba. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, seperti pegalaman penulis ketika bertugas di daerah terpencil di Sulawesi.

Ketika aparat keamanan dan komnas perlindungan anak setempat yang lebih mementingkan nasib dan masa depan para pelaku dengan mengeluarkan pernyataan yang kontroversial, bagaimana dengan nasib Audrey sebagai korban? Apakah ada keadilan yang bisa didapatkan olehnya? Siapa yang berani menjamin gadis korban penganiayaan tersebut akan terbebas dari rasa trauma berkepnjangan? bagaimana dengan masa depan berkeluarganya? bagaimana dengan rasa malu dan sakit hati yang harus dia tanggung? semuanya Demi apa?

Ini menjadi warning untuk kita semua bahwa pergeseran moral sejak hilangnya mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKN, tidak bisa terhindarkan. Sekolah-sekolah perlu menambah pelajaran mengenai pembentukan karakter. Perlu ada sesuatu yang diajarkan untuk memupuk rasa saling toleransi dan menghormati antara satu manusia dengan manusia lainnya.

Dan yang paling penting, hukum harus menjadi yang paling utama. Anak-anak atau bukan, ketika mereka sudah berani melakukan tindakan sekeji itu, maka mereka juga layak untuk mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Bukan untuk kepuasa netizen, akan tetapi demi keadilan terhadap Audrey dan demi masa depannya.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis