Its My Faith

Aturan Berhijab, Belajar Dari Hikmah Surah Al-Baqarah

oleh Mr Ben

19 February 2018

iT’s me – Artikel ini terinspirasi dari perbincangan saya bersama seorang teman beberapa waktu lalu saat kami bersilaturahmi disebuah kedai kopi di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Bogor. Saat itu kebetulan ia bersama keluarganyanya sedang berkunjung menikmati berbagai kuliner di Kota Bogor.

Walau itu pertama kalinya kami bertemu, suasana keakraban penuh kehangatan begitu terasa mewarnai silaturahmi kami. Saya disambut begitu hangat oleh keluarganya. Tak ada hal khusus yang kami bincangkan saat itu apalagi obrolan soal aturan berhijab karena memang pertemuan itu hanya sebatas silaturahmi saja sambil menikmati secangkir kopi. Obrolan-obrolan kami pun mengalir begitu saja dengan hangat. Kami saling berbagi pengalaman perjalanan hidup yang kami lalui. Alhamdulilah  ada banyak hal menarik sekaligus unik dari kisah perjalanan kami.

Dari sekian obrolan kami, ada satu hal yang menarik perhatian sekaligus menggelitik saya, dan inilah yang mendasari tulisan ini. Sekilas diceritakan bahwa ada saja teman-temannya yang suka mengomentari dan mempertanyakan penampilannya dalam berhijab. Misalnya mengapa penampilannya tidak syar’i alias hijabnya gak panjang, kenapa masih menggunakan celana panjang bukan gamis, dan lain sebagainya. Saya pribadi tergelitik dengan itu karena secara penampilan, saya melihat teman ini menggunakan hijab/jilbab sebagaimana seorang muslimah, pun penampilannya tidak mengumbar aurat dan jauh dari kesan vulgar.

Tulisan ini tidak bermaksud mengkritisi  berbagai aturan dalam berhijab apalagi menentang tata cara berpenampilan secara syar’i bagi seorang muslimah, tidak juga membahas hukum dan aturan berhijab, namun memberikan satu stimulasi berpikir untuk tidak menerapkan berbagai aturan-aturan rumit pada sesuatu yang harusnya sederhana yang akhirnya justru sulit dilakukan.

Bagaimanapun juga pada inti persoalannya, seringkali sebenarnya ada perintah yang sederhana namun dibuat begitu rumit. Sebut saja misalnya penggunaan jilbab/hijab diatas. Ada begitu banyak aturan kriteria-kriteria yang diterapkan terkait cara penggunaan, ukuran tertentu, jenis kain halal apa tidak, dan masih banyak detail-detail lainnya yang pada akhirnya menjadi rumit karena sulit dipenuhi.

Setelah menekuni penelitian terhadap sumber-sumber di luar Al-Qur’an baik dalam cakupan pengetahuan modern maupun klasik, saya menemukan bahwa tak ada yang lebih mengusik selain ‘maraknya’ perintah-perintah dan aturan-aturan dalam jumlah sangat besar menjadi seperangkat pengetahuan.

Ini juga sama halnya terkait penyusunan yurispundensi Islam (syariat) dan bagaimana upaya mewujudkan perintah-perintah dan aturan-aturan umum ke dalam rincian-rincian yang lebih baik pada akhirnya berkembang menjadi seperangkat pengetahuan yang kompleks alias rumit. Akhirnya, kitab-kitab tafsir ulama itu sendiri akan memerlukan keberadaan ‘para ahli’ lagi yang ditunjuk untuk mengartikannya.

Terkait hal ini, sebenarnya ada hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an berikut.

Hikmah surah Al-Baqarah atau kisah sapi betina
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?’ Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Q.S. Al-Baqarah [2]:67.

Mereka menjawab: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” Q.S. Al-Baqarah [2]:68.

Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” Q.S. Al-Baqarah [2]:69.

Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami Insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” Q.S. Al-Baqarah [2]:70.

Musa berkata: ‘Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.’ Mereka berkata: ‘Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.’ Kemudian mereka menyembelihnya meskipun hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” Q.S. Al-Baqarah [2]:71.

Jika kita lihat perintah Allah diatas, sebenarnya sederhana – menyembelih seekor sapi betina. Tapi kemudian manusia itu membuatnya menjadi rumit dengan bertanya sampai ke detail-detailnya hingga hampir saja mereka tidak bisa menyanggupinya.

Terkadang saya berpikir bahwa di antara banyak mutiara yang bisa diambil sebagai hikmah dari ayat-ayat tersebut tak ada yang lebih mengejutkan selain hasrat manusia untuk bertanya sampai detail-detail terkecil atas suatu perintah Allah sehingga akhirnya jadi mustahil sendiri untuk dilaksanakan.

Dengan cara serupa, upaya untuk menjabarkan perintah-perintah dari kitab suci sampai rincian-rincian paling kecil hanya akan merugikan dan menurunkan esensi sejati serta kehalusan perintah-perintah yang selalu berupaya untuk mengajarkan jalan tengah.

Berkali-kali perintah-perintah yang pada pokoknya bersifat umum agar dilaksanakan dengan ikhtiar sebaik-baiknya dan bukan didesain untuk menjadi suatu beban, akhirnya malah menjadi rumit dan ekstrim akibat penafsiran-penafsiran tertentu.

Olehnya jika seseorang memiliki niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, harusnya tidak dibebani dengan berbagai aturan kriteria-kriteria yang rumit yang pada akhirnya sulit untuk dipenuhi, termasuk sebut saja membebani diri dengan berbagai aturan dalam berhijab. Perintah Allah itu sederhana, jangan dibuat rumit lah! 🙂

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO Fokus Media Group | cyberlabpro | itsme.id | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Hidayah Bangsa Fondation | Penikmat Kopi Hitam |