iT’s me – Judul tulisan ini diberi tanda tanya (walaupun sebenarnya tidak perlu) karena akan dipersoalkan banyak kalangan. Bahkan, sebagian orang akan menyangkal keras klaim bahwa formula syahadat “asyhadu an-la ilaha illa allah wa anna muhammadan rasulullah” (saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah) dibakukan setelah wafatnya Nabi Muhammad.

Namun, klaim itulah yang akan dipresentasikan dalam tulisan ini. Dan untuk mendukung klaim pembakuan kalimat syahadat pasca Nabi akan diajukan dua bentuk argumentasi, yakni data historis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan logika commonsense (akal-sehat).

Sebelum memulai, ada baiknya dikatakan tentang hadits Jibril yang dimuat dalam kitab-kitab hadits yang mendapat pengakuan luas. Seperti disebutkan dalam kitab Shahih Muslim, suatu saat baginda Nabi didatangi malaikat Jibril sembari mengajukan pertanyaan apa Islam, apa Iman, dan apa Ihsan. Terhadap setiap pertanyaan tersebut, jawaban Nabi dibenarkan oleh Jibril.

Misalnya, pertanyaan tentang apa itu Islam, Nabi menjawab, “Islam ialah hendaknya kamu bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan salat, berpuasa, memberikan zakat dan menunaikan haji.” Di kalangan Muslim Sunni, jawaban Nabi tersebut kemudian disepakati sebagai “rukun Islam” yang lima.

Penisbatan rukun Islam kepada baginda Nabi merupakan upaya normatif-teologis yang diyakini oleh kalangan Sunni. Saya tak yakin tulisan pendek ini akan menggoyahkan keyakinan Anda. Namun, jika berbicara sejarah, kita memang tak punya bukti dokumenter yang mendukung klaim teologis di atas selain hadits itu sendiri. Fakta bahwa kalangan Syi’ah mempunyai rukun Islam yang berbeda cukup untuk mengatakan tidak adanya kesepakatan mutlak.

Data Numismatik dan Arkeologis
Dalam buku Kontroversi Islam Awal (2015), saya menyebutkan sepintas bahwa dua kalimat syahadat baru pertama ditemukan dalam uang koin yang dikeluarkan oleh Abdulmalik bin Marwan (berkuasa, 685-705), khalifah kelima dari Bani Umayyah. Penelitian tentang data-data numismatik (hal-hal berhubungan dengan koin) telah banyak dilakukan, salah satunya oleh sarjana Inggris Chase F Robinson.

Sejak menjabat sebagai khalifah, Abdulmalik mengeluarkan sejumlah koin yang berbeda. Menarik dicatat, koin-koin yang dikeluarkannya merefleksikan kristalisasi Islam sebagai agama secara bertahap. Di awal masa pemerintahannya, Abdulmalik mengeluarkan koin yang menyerupai mata uang Persia dengan gambar seseorang seperti Raja Khasru di bagian tengah koin.

Dalam koin lain terdapat gambar menyerupai salib. Hal itu bisa dtafsirkan bahwa Abdulmalik masih bereksperimen dengan desain koin. Berdasar data historis ini sebagian sejarawan mencoba merekonstruksi narasi kemunculan Islam. Tidak mengagetkan jika mereka berkesimpulan bahwa sebelum masa Abdulmalik Islam belum menjadi agama yang distingtif dari agama-agama lain. Dan baru pada masa-masa akhir pemerintahannya, Khalifah Abdulmalik mengeluarkan koin dengan dua kalimat syahadat ditulis di bagian pinggirnya.

Itulah dokumen paling awal yang kita punya yang mencakup dua kalimat syahadat. Hal itu tidak berarti kalimat “la ilaha illa allah” atau “Muhammad rasulullah” tidak pernah ada sebelumnya. Kalimat “la ilaha illa allah” merupkan kredo agama-agama monoteis sebelum Islam. Ini sudah dibuktikan oleh penelitian yang tak diragukan.

Kemiripan kalimat tauhid “la ilaha illa allah” dengan kredo kaum Samaritan telah banyak didiskusikan para ahli. Formula keimanan Samaritan dimaksud ialah “lyt ‘lh ‘l’ ‘hd” (baca: lit eloe illa ahad), yang berarti “tidak ada tuhan selain Yang Satu”. Penggunaan kata ahad dalam ekspresi tauhid kaum Samaritan ada kesamaan dengan ayat pertama surat al-Ikhlas, “qul huwa allah ahad” (Katakan, Dia adalah Allah yang Satu).



Mun'im Sirry

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).
Mun'im Sirry