iT’s me – Namaku Sumarti, seorang ibu dari empat orang anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Aku adalah seorang petugas kebersihan kereta api disalah satu stasiun KRL di Jakarta. Setiap hari selalu kuhabiskan waktuku untuk bekerja mencari sesuap nasi dan juga memenuhi kebutuhan anak-anakku. Ya, anak-anakku masih usia sekolah, dan masih banyak kebutuhan mereka yang harus kupenuhi.

Sejak suamiku pergi meninggalkanku, otomatis hanya akulah yang menjadi tumpuan hidup seluruh anggota keluargaku.. Beberapa tahun yang lalu, karena penyakit yang dideritanya, suamiku dipanggil oleh yang maha kuasa, tanpa meninggalkan uang atau modal sedikitpun bagi kami untuk bertahan hidup. Saat ini, usiaku sudah menginjak 50 tahun, dan dengan segala kemampuan dan tenaga yang tersisa, aku harus berjuang untuk hidup dan bertahan ditengah kerasnya dan beratnya beban hidup.

Tidak lagi muda, itu yang terlintas dalam benakku setiap kali aku harus bangun pagi, menyiapkan segala keperluan anak-anakku, dan kemudian berangkat ke stasiun dimana aku bekerja. Memiliki anak-anak yang masih dalam usia sekolah dengan berbagai macam tuntutan, membuat aku harus berjuang extra keras. Mungkin orang akan bertanya, apakah anak-anak tidak membantu? kujawab dengan tegas bahwa aku tidak mau membebani anak-anakku dengan perkerjaan yang akan membuat mereka lupa untuk bersekolah. Cukuplah aku saja yang menanggung beban ini.

Melihat anak-anakku bisa tersenyum bahagia, itu saja sudah cukup bagiku untuk mengobati rasa letih dan sakit setelah seharian bekerja. Tidak masalah jika aku harus berpuasa sedikit untuk menyisihkan sedikit uang makanku untuk menghemat demi kelangsungan hidupku dan anak-anakku, bagiku, merekalah segalanya. Terkadang aku iri, melihat bagaimana orang tua kaya yang sangat senang memanjakan anak-anak mereka, membelikan segala apa yang mereka inginkan dan juga menyediakan segala macam kebutuhan.

Aku iri melihat anak-anak lain yang begitu bahagia dengan apa yang mereka dapatkan dari orang tua mereka, handphone canggih keluaran terbaru, sepatu yang bermerek dan mahal, dan lain sebagainya. Terkadang, hanya dengan melihat itu saja hatiku sudah sangat sedih, apalagi ketika membayangkan anak-anakku yang selalu mendapatkan perhatian seadanya.

Dalam benakku, bukankah DIA adalah Yang Maha Kuasa, DIA pasti sanggup untuk menolongku jika DIA berkehendak.

Aku yakin, jauh dilubuk hati anak-anakku, mereka juga menginginkan segala apa yang mereka lihat dari teman-teman mereka. Aku hanya bisa terus berharap agar supaya mereka bisa menerima keadaan ini dan berjuang keras belajar untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dalam hidupku yang sekarang, sebenarnya aku memiliki berjuta alasan untuk mengeluh, aku bosan hidup susah, sekali-sekali aku juga ingin menikmati kenikmatan dunia ini, makan ditempat yang mewah, masuk dan berbelanja di mall yang megah, atau memiliki rumah yang layak untuk kami tinggali, itu saja.. akan tetapi hingga saat ini, tak satupun bisa kunikmati, apalagi dengan kepergian suamiku.

Dunia ini terasa tidak adil, untukku dan anak-anakku… Ada dimana Tuhan? Apakah Tuhan hanya miliki orang kaya saja? Apakah Tuhan hanya mau mendengar doa orang kaya saja? apakah segala macam kenikmatan dunia ini hanya dikhususkan untuk orang kaya saja? Itulah yang selalu terlintas dipikiranku. Jika suatu saat aku bertemu dengan Sang Pencipta, itulah yang akan kutanyakan.. Menganai kebahagiaanku dan keluargaku..

Akan tetapi, dengan segala sesuatu yang aku alami, aku memilih untuk tidak mengeluh. Aku memilih untuk tetap pada jalur yang tepat sebagai hambaNya yang hina dan penuh dengan ketidak-layakan. Berjuta alasan untuk mengeluh, akan tetapi aku tidak ingin melakukannya karena aku tidak layak. Siapa aku? apa yang sudah aku buat untukNya sehingga aku layak untuk mengeluhkan keadaan hidupku? Dalam benakku, bukankah DIA adalah Yang Maha Kuasa, DIA pasti sanggup untuk menolongku jika DIA berkehendak.

Terkadang aku iri, melihat bagaimana orang tua kaya yang sangat senang memanjakan anak-anak mereka, membelikan segala apa yang mereka inginkan dan juga menyediakan segala macam kebutuhan. Aku iri melihat anak-anak lain yang begitu bahagia dengan apa yang mereka dapatkan dari orang tua mereka, handphone canggih keluaran terbaru, sepatu yang bermerek dan mahal, dan lain sebagainya.

Bagaimanapun juga aku tidak mau mengeluh, itulah tekadku. Dan itu jugalah yang membuatku bertahan dengan keadaan seperti ini. Pernah aku mencoba mengakhiri hidupku dengan meminum larutan obat nyamuk, namun seolah cairan itu hanya lewat begitu saja dan tidak terjadi apa-apa dengan tubuhku, aku hanya merasakan sedikit mual dan pusing, kemudian sehat kembali.. Apakah aku meminumnya dengan dosis yang terlalu sedikit? Ya, ada keraguan dalam hatiku.. Siapa yang akan meneruskan merawat anak-anakku jika aku pergi? Bagaimana mereka akan bertahan hidup dijakarta? Akan jadi apa mereka nantinya? Aku bersyukur kepada Tuhan, karena saat itu, kematian masih enggan untuk menghampiriku. Aku masih diberi kesempatan untuk melihat anak-anakku selesai sekolah dan sukses!



DerielHD

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media
DerielHD

Latest posts by DerielHD (see all)