Its My Faith

Apakah Muslim bisa menerima Trinitas?

oleh Mr Ben

24 April 2018

Beberapa waktu lalu saya diundang dalam sebuah acara diskusi untuk memberi pandangan dalam pendekatan membangun hubungan yang harmonis antar agama khususnya Islam-Kristen dari perspektif Muslim. Dalam sesi tanya jawab, saya sempat dilontarkan sebuah pertanyaan dari seorang anak muda Kristen, bagaimana pandangan tentang Trinitas dari perspektif Muslim. Apakah Muslim bisa menerima Trinitas?

Saya segera menyadari bahwa pertanyaan dengan tema seperti ini adalah sangat kompleks, olehnya secara terbuka saya pribadi menolak menjawab pertanyaan itu secara sederhana hitam putih dengan “iya” atau “tidak”. Saya bertaruh bahwa jika tidak mencoba memahami kompleksitas masalah dari tema ini maka jawaban dari pertanyaan ini hanya berujung pada perdebatan dan tuduhan-tuduhan yang meruncing.

Namun apakah tema pertanyaan ini adalah sesuatu yang tak boleh disentuh dan unthinkable oleh seorang Muslim? Tentu tidak juga. Justru kita perlu mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan sulit yang sejauh ini kerap menjadi kendala bagi koeksistensi genuine antar komunitas berbeda keyakinan.

Komunitas Kristen dan Muslim pasti mengakui bahwa ketuhanan Yesus adalah sumber kontestasi teologis yang paling rumit diantara keduanya. Tuduhan yang sering dialamatkan pada komunitas Kristen adalah bahwa mereka telah menyekutukan Tuhan dengan menyembah tiga tuhan serta menjadikan manusia sebagai Tuhan.  Inilah akibatnya jika hal ini tidak dibicarakan secara memadai. Komunitas Muslim sering memunculkan pertanyaan ini, Bagaimana mungkin Yesus itu manusia dan Tuhan sekaligus?

Well, berikut saya ingin mengutip dan mengajukan sebuah tulisan dari Prof. Mun’im Sirry beberapa waktu lalu terkait dengan tema yang kompleks ini. Menurut Mun’im, bila direnungkan dengan kepala dingin, pertanyaan di atas dapat membantu menyingkap kabut gelap yang menyelimuti alam pikiran kaum Beriman tentang perbedaan konsepsi tentang Tuhan.

Isa, Yesus dan Trinitas
Al-Qur’an menggunakan nama “Isa” ketika merujuk kepada Yesus. Asal-muasal kata “Isa” telah banyak didiskusikan dan tak perlu diulang di sini. Satu hal yang segera tampak dari deskripsi al-Qur’an adalah penekanannya pada aspek kemanusiaan Yesus. Dalam banyak ayat, Al-qur’an menyebut Yesus sebagai “putera Maryam” (ibn Maryam) dan menolak penyebutan “Anak Allah” (ibn Allah).

Bahkan ketika menggunakan beberapa istilah yang juga terdapat dalam Kitab Suci Injil, seperti “al-masih”, “rasul”, “kalimah”, al-Qur’an tidak menggunakannya dalam makna yang sama. Berbagai dialog antara Tuhan dan Isa yang direkam al-Qur’an dimaksudkan untuk memberikan aksentuasi bahwa tak ada makhluk yang ambil bagian dalam ketuhanan, selain Allah.

Poin terakhir ini dikembangkan oleh para teolog Muslim dalam konsep “tanzih”, yakni transendensi Tuhan sehingga tak mungkin dikomparasikan dengan apapun atau siapapun. Dalam bahasa al-Qur’an (42:11), “laisa kamitslihi sai’un” (tiada yang menyerupai-Nya). Maka, dalam teologi Islam, “tanzih” (transendentalisme) dan “tauhid” (monoteisme) menjadi kata kunci untuk memahami siapa Tuhan.

Dari sini kritik al-Qur’an terhadap ketuhanan Yesus seharusnya dipahami: Jangan jadikan manusia sebagai Tuhan atau menyekutukan Tuhan dengan makhluk-Nya!

Yang perlu segera dicatat adalah, umat Kristiani juga menolak apa yang dikritik al-Qur’an, karena mereka tidak menjadikan manusia sebagai Tuhan atau menyekutukan-Nya dengan makhluk. Terkait aspek pertama, Yesus dipahami sebagai inkarnasi Tuhan, suatu penjelmaan Ilahi ke alam manusiawi untuk berbagi kehidupan bersama umat manusia.

Dalam teologi Kristen, kehadiran Tuhan dalam wujud Yesus merupakan hadiah (gift) dan sekaligus rahmat (grace) yang menandakan kedekatan-Nya dengan manusia dalam hubungan yang sangat intimate. Memang, dalam kepercayaan Nicea yang dicetuskan tahun 325 disebutkan “Yesus adalah manusia sepenuhnya dan Tuhan sepenuhnya”. Rumusan teologis ini merupakan respons terhadap mereka yang mempersoalkan watak kemanusiaan dan ketuhanan Yesus, dan/atau pandangan (terutama di kalangan Gnostik) yang menyebut Yesus sebagai bayang-bayang Tuhan dan bukan manusia.

Namun demikian, menyebut Yesus sebagai sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Tuhan bukan tanpa masalah. Dan agar tidak terjerumus ke dalam syirik (menyekutukan Tuhan dengan manusia), maka dirumuskan doktrin Trinitas yang menegaskan keesaan Tuhan dengan tiga uqnum (hypostases), yakni Bapa, Anak dan Ruh Kudus.

Dalam konteks ini tampak jelas bahwa doktrin Trinitas dikembangkan untuk menghindari syirik, suatu dosa yang disebut al-Qur’an sebagai tak terampuni. Maka, perlu ditekankan, yang dikritik al-Qur’an adalah keimanan pada tiga Tuhan (syirik), suatu keyakinan yang sedari awal dijauhi oleh umat Kristiani dengan doktrin Trinitas. Konsep tiga Tuhan itu disebut Triteisme, bukan Trinitas.

Beragam Ekspresi Monoteisme
Dengan demikian, Trinitas merupakan suatu ekspresi monoteisme yang memberi ruang bagi diferensiasi, tanpa fragmentasi. Diferensiasi dalam hubungan antar tiga uqnum (Bapa, Anak dan Ruh Kudus), tetapi ketiganya tidak terfragmentasi dalam arti berdiri sendiri-sendiri (bukan tiga Tuhan).

Jika ditanya, dari mana asal-usul doktrin Trinitas? Bukankah kata itu tidak ditemukan dalam Alkitab? Jawabnya, betul, kata Trinitas tidak ditemukan dalam Injil karena rumusan doktrin tersebut dibentuk oleh konteks sosio-historisnya sendiri. Namun, substansi Trinitas jelas dapat ditemukan dalam banyak ayat Alkitab.

Mungkin akan lebih mudah bagi kaum Muslim untuk membayangkan para perumus doktrin Trinitas sebagai komunitas penafsir (community of interpreters). Mereka berijtihad dengan bimbingan Ruh Kudus untuk mensintesiskan berbagai elemen terkait Yesus dalam Alkitab. Yesus yang menyatu dengan Bapa, Yesus sebagai Anak, Yesus sebagai pembawa pesan, dan keterlibatan Ruh Kudus dalam sejarah manusia. Trinitas dimaksudkan untuk merangkum semua itu dengan tetap meneguhkan keesaan Tuhan.

Salah satu bukti peneguhan monoteisme dalam tradisi Kristen ialah kenyataan bahwa agama ini mengakui Tuhannya kaum Yahudi, dan Tuhan Nabi-nabi terdahulu, seperti Ibrahim dan Musa. Tak mengherankan mengapa Taurat dimasukkan sebagai bagian dari Kitab Suci umat Kristiani. Jika kaum Yahudi dan Kristen menyembah Tuhan yang sama, bukankah hal itu penegasan atas watak monoteistik agama Kristen?

Jadi, umat Kristiani adalah kaum monoteis yang beriman pada keesaan Tuhan. Karena itu, al-Qur’an (29:46) secara eksplisit menegaskan bahwa “ilahuna wa-ilahukum wahid” (Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu). Ayat ini terkait larangan mendebat ahlul kitab, termasuk Kristen, kecuali dengan cara yang terbaik.

Bagaimana kita memaknai penegasan Qur’ani bahwa “ilahuna wa-ilahukum wahid”, padahal umat Kristiani mengimani ketuhanan Yesus?

Yesus seperti yang digambarkan al-Qur’an jelas adalah manusia biasa, makhluk Tuhan dan rasul-Nya. Juga, kepercayaan terhadap tiga Tuhan merupakan bentuk syirik yang nyata. Tetapi, Yesus-nya Injil lebih dari sekadar manusia dan rasul. Seperti diyakini umat Kristiani, ia merupakan penjelmaan Tuhan sebagai wujud kasih bagi keselamatan manusia.

Dan rencana keselamatan itu dirangkum dalam doktrin Trinitas. Segala bentuk keselamatan bermuara dari Bapa, yang berbuah nyata dalam Anak, dan dikomunikasikan oleh Ruh Kudus. Tentu saja, doktrin ini tidak menyangkut tiga Tuhan yang berbeda, melainkan One Triune God. Satu Tuhan dengan tiga hipostasis.

Kiranya menjadi jelas, pertanyaan “apakah Islam bisa menerima Trinitas?” tidak cukup dijawab “bisa” atau “tidak bisa”. Di balik pertanyaan itu terdapat soal-soal subtil yang perlu menjadi perenungan teologis bersama, termasuk bagaimana “Yesus teologis” digambarkan dan diimani berbeda. Mengakui perbedaan konseptual tentang Tuhan itu penting agar kita tak saling memaksakan keyakinan. Tapi, yang lebih penting lagi ialah cara kita memahami perspektif pihak lain melalui kategori dan lensa mereka. Sebab, setiap perspektif punya basis epistemologis dan ontologisnya sendiri.

Hanya dengan cara itu perbincangan tentang Tuhan yang rumit dapat diuraikan tanpa terjebak dalam belenggu “menang sendiri”. Semakin banyak pertanyaan diajukan terhadap yang unthought, semakin kita menyadari ketidak-sederhanaannya. Mengurai benang kusut teologis memang bukan perkara mudah.

Tulisan ini mungkin tidak menyuguhkan jawaban yang Anda inginkan, tapi setidaknya diharapkan menstimulasi pertanyaan lanjutan. Jangan kapok bertanya, karena pertanyaan itu pintu menuju kebenaran.

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO Fokus Media Group | cyberlabpro | itsme.id | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Hidayah Bangsa Fondation | Penikmat Kopi Hitam |