Its My Faith

Apakah Masyarakat China Bertuhan?

oleh Ali Romdhoni

3 October 2017

iT’s Me- Apakah dalam budaya bangsa China terdapat konsep pengetahuan tentang Tuhan? Artinya, masyarakat China yang selama ini mengaku—dan terlanjur dipahami oleh orang banyak—tidak beragama, apakah mereka mengerti Tuhan, mengakui adanya Tuhan, atau keduanya tidak sama sekali.

Saya sengaja membahas tema ini dengan menggunakan pendekatan budaya, dan bukan agama. Pengertian budaya paling identik adalah pengetahuan. Bagi satu komunitas, misalnya, budaya adalah penyimpulan terhadap cara hidup yang dimiliki masyarakat sebelumnya.

Jadi, budaya di sini adalah pengetahuan (kesimpulan, rumusan) yang dihasilkan dari kajian atas kehidupan masyarakat terdahulu, yang meliputi konsep berfikir, perilaku sehari-hari hingga sarana yang dipergunakan pada saat itu. Ketika semuanya telah menjadi kajian bagi generasi berikutnya, maka hasil dari rumusan itu disebut sebagai budaya.

Dengan pemahaman seperti di atas, saya ingin melihat, apakah dalam kehidupan (budaya) masyarakat China terdapat konsep pengetahuan tentang Tuhan, atau tidak.

Alasan lain, mengapa saya tidak menggunakan kacamata agama, karena sejak awal mayoritas masyarakat China mengaku tidak beragama. Bahkan, masyarakat di luar China, seperti sebagian dari publik di Indonesia dan lainnya juga sudah terlanjur menganggap China sebagai negara yang paling tidak relegius di dunia.

Misalnya ada berita yang menerangkan, 90 persen masyarakat China tidak mengenal Tuhan (Kompas.com, 21/04/2015). Namun demikian, ada juga studi yang melaporkan, bahwa angka kaum beragama di China tidak sedikit.

Berdasarkan data yang diterbitkan situs www.religion-facts.com, hampir separo dari total penduduk China yang mencapai 1.341.340.000 jiwa memeluk agama tertentu. Dari jumlah itu, pemeluk agama Kristen sebanyak 68.408.340 orang (5,1%), umat Muslim sebanyak 24.144.120 orang (1,8%), penganut agama Buddha 244.123.880 orang (18,2%), penganut Hindu 20.000 orang (0%), dan pengikut ajaran agama lokal berjumlah 293.753.460 orang (21,9%).

Sementara jumlah orang yang tidak menganut agama sebanyak 700.179.480 (52,2%). Kepada jumlah terakhir ini, meskipun mereka tidak beragama, menurut saya tidak berarti terus bisa disimpulkan sebagai orang yang tidak mengenal Tuhan. Belum tentu.

Saya memiliki seorang teman dari Nepal, Jay Mangal (41). Kepada saya, dia mengaku tidak beragama, dan tidak mau di-identifikasi sebagai penganut agama apa pun. Tetapi, ketika kami berdiskusi tentang pentingnya keharmonisan dalam perbedaan keyakinan, saya menangkap kesan bahwa dia memahami dengan baik konsep tauhid. Ini membuktikan, tidak beragama bukan berarti tidak bertuhan.

Selanjutnya, saya ingin menguraikan temuan saya, bahwa sebenarnya dalam budaya China memiliki konsep pengetahuan tentang Tuhan. Saya mulai terfikir untuk membahas hal ini ketika mengetahui ada diksi “Tuhan” dalam perbendaharaan kata bahasa China. Tuhan, dalam bahasa China disebut dengan “Shangdi”.

Sampai di sini saja, saya sudah curiga. Lho, katanya tidak bertuhan, kok memiliki kata yang menunjuk pada arti Tuhan.

Bila kita lacak lebih jauh, kata “Shangdi” (bahasa China, yang berarti: Tuhan) terdiri dari dua karakter, yaitu “Shang” dan “di”. Karakter “Shang” memiliki arti atas, tinggi, lebih baik, dulu, pertama dan superior. Sedangkan karakter “di” bisa berarti agung, wujud, raja, atau juga bisa berarti Tuhan itu sendiri.

Keberadaan kata “Shangdi” dalam daftar kosakata bahasa China sesngguhnya telah menunjukan, bahwa masyarakat pengguna kata (bahasa) ini sedang mendeskripsikan keberadaan satu ‘pribadi’ yang berkuasa, agung, lebih baik, berwujud serta bisa digambarkan seperti raja. ‘Pribadi’ yang dimaksud, dalam bahasa kita, kaum beragama, bernama Tuhan.

Dalam kajian ilmu logika, bahasa dipakai manusia untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan yang ada dalam pikiran. Maka, adanya kata “Shangdi” itu sendiri menjadi penanda, bahwa masyarakat China sesungguhnya juga memiliki konsep pengetahuan tentang Tuhan, meskipun terdapat kekhususan. Artinya, Tuhan terlebih dulu ada dalam kesadaran manusia, kemudian dilahirkan dalam bentuk kata dan bahasa.

Capaian dalam memaknai Tuhan bagi masyarakat tertentu akan berbeda dengan yang lain. Maka, Tuhan bagi masyarakat China—yang dalam penglihatan kita tidak beragama—hadir sesuai dengan konsep pengetahuan yang khas. Kesimpulan ini sekaligus meneguhkan temuan lama, bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk bertuhan. Di sini manusia mengalaminya secara pribadi. Walau tanpa lembaga bernama agama, manusia tetap mungkin mengenali kehadiran Sang Pencipta dalam kehidupannya.

Mengenai pengakuan atau anggapan bahwa sebagian besar masyarakat China ateis atau tidak mempercayai adanya Tuhan, di sini telah terjadi simplifikasi (penyederhanaan). Biasanya, kesimpulan yang demikian dibangun dari pemahaman bahwa ada sejumlah besar orang China yang tidak memeluk agama yang popular di dunia (Islam, Kristen, Hindu, dan Budha). Dan bila mereka tidak beragama, atau hanya menjalankan ajaran yang diterima secara turun-temurun dari para leluhur (ajaran agama lokal), mereka kemudian diberi label ateis.

Penting dipahami, meskipun mengaku tidak beragama sekalipun, biasanya masyarakat China menjalankan nilai-nilai yang mereka yakini akan bisa membawa seseorang kepada keadaan yang lebih baik. Mengenai hal ini, saya mendengar pengakuan Wang Xu (40), seorang dosen di Universitas Heilongjiang China.

Oleh orang tua dan keluarga besarnya, Wang Xu dididik menjadi pribadi yang teguh menjalankan perkara baik dan sekuat mungkin menghindari perilaku buruk. Mengapa, karena mereka percaya, bila kita berhasil menjadi orang baik, maka kelak anak, cucu serta keturunan kita akan menjadi orang-orang yang baik. Dan mengapa hari ini kita tumbuh menjadi orang baik, itu tidak lain karena buah amal baik yang ditanam oleh para orang tua dan leluhur kita sebelumnya.

Wang Xu menambahkan, meskipun masyarakat China dikelilingi pedoman kehidupan, namun ajaran itu bukanlah agama. Kaidah kehidupan itu hasil dari pemikiran para leluhurnya sejak berabad-abad yang lalu. Generasi sekarang menerimanya dari para pendahulunya. Mungkin karena pemahaman ini, mereka memliki tradisi kuat dalam mendoakan (memuja) para leluhurnya. Semua menjadi semakin menarik untuk dikaji.

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni