itsme.id- Cemen, Lebih identik dengan kelemahan, pasrah, dan tanda ketidak mampuan, kata ini sering digunakan orang-orang masa kini untuk mengejek temannya yang mengalami kebuntuan untuk melakukan sesuatu hal, atau bahkan menyerah ditengah jalan.

Tidak bisa dipungkiri, kata “Cemen” seperti menjadi momok bagi kebanyakan anak masa kini. Cemen, jika memilih naik escalator disbanding menggunakan tangga manual; Cemen, jika makan atau minum dengan cara biasa; Cemen, jika terlalu banyak menghabiskan waktu untuk beristirahat dihari libur; Cemen, jika hanya makan cabe dengan tingkat kepedasan yang sangat rendah, atau bahkan makan menggunakan kecap..

Intinya adalah, kata “Cemen” selalu saja diungkapkan apabila ada orang disekitar kita yang selalu menyerah, bahkan sebelum bertanding. 

“Jika kita menjadi cemen, mungkin semua rintangan didepan kita (dulu) terlalu cepat diangkat sebelum kita sendiri mencoba untuk mengalahkannya.”

Besar dari keluarga sederhana yang menjunjung tinggi semangat sopan santun, kemandirian, dan religious, membuat Aku selalu memutar otak, bagaimana bisa menjadi pribadi yang sopan, santun, mandiri, dan religious, namun tidak menjadi “Cemen” dalam prosesnya.

Ditinggal pergi oleh orang yang paling diandalkan sejak berumur 7 tahun membuat Aku selalu terbawa dengan rasa kehilangan yang mendalam. Selalu melihat dunia dengan nilai minus, dan apatis dengan yang namanya perhatian (orang tua). Perasaan yang selalu mendorong aku untuk berpikir bahwa, tidak ada yang bertahan lama didunia ini. Semuanya akan pergi meninggalkan kita suatu saat nanti.

Tidak ada yang abadi didalam dunia ini. Perasaan, Perhatian, Orang yang diAkungi, Benda-benada kesayangan, Pekerjaan impian, semuanya akan meninggalkan kita suatu saat nanti.

Aku tidak cemen! Aku tahu rasanya memiliki nasib seperti sebuah bola dalam pertandingan sepak bola. Ditendang kesana kemasi, dioper kesana kemari, berpindah dari satu rumah kerabat ke rumah kerabat yang satunya.. Aku tahu rasanya menjadi kuli bangunan paruh waktu dan kuli angkut barang hanya demi sesuap nasi. Aku juga tahu bagaimana rasanya sakit karena tidak mendapatkan keadilan yang semestinya (dulu). Aku juga tahu rasanya capek bekerja seharian dan ketika gaji diterima kemudian dipotong oleh tante jahat yang mengakunya keluarga, dan mengetahui bahwa uang itu digunakan untuk memenhi kebutuhan anaknya.

Aku cemen? Tidak! Aku tahu bagaimana rasanya dinginnya malam dan subuh ketika lari dari rumah untuk membuktikan keegoisanku dan harus menginap di mushala untuk hanya sekedar mengistirahatkan badanku yang lemah setelah berjalan seharian.

“Jika kita menjadi cemen, mungkin orang tua kita (dulu) terlalu cepat memberikan bantuan kepada kita ketika kita mengalami kesulitan.”

Sulit rasanya jika harus meminta-minta hanya untuk memenuhi keinginan perut yang lapar. Walaupun aku harus banting tulang dan memeras keringat, tekadku bulat untuk berusaha mandiri. Orang tuaku tidak pernah campur tangan jika mereka melihat kesulitan yang ku alami masih sanggup untuk ku tanggung sendiri. Bahkan hingga saat inipun, masih hangat dijiwa ini perasaan dan semangat untuk terus mandiri tanpa menyusahkan orang lain, apalagi orang yang dikasihi.

Apakah aku cemen? Tidak! Aku tidak cemen! Yang cemen itu kamu.. ya! Kamu, yang selalu mengharapkan bantuan orang-orang disekelilingmu; kamu, yang selalu menuntut perhatian dari orang-orang disekitarmu; Kamu, yang selalu hidup menumpang dengan orang tuamu; Kamu, yang selalu mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain.

Ya! Yang cemen itu kamu! Yang selalu memanfaatkan kesusahan orang lain untuk bertahan hidup, yang menguras harta kekayaan bangsa ini tanpa berpikir untuk memberikan hal positif sebagai gantinya.

“Yang Cemen itu kamu! Yang tidak tahu mensyukuri nikmat Tuhan yang sudah dianugerahkan kepadamu setiap hari.”

Ya! Yang cemen itu kamu! Yang selalu menyerah sebelum mencoba; Kamu, yang selalu menghabiskan waktu duduk seharian didepan televisi walaupun sudah bosan dengan semua siaran yang kamu tonton; Kamu, yang seharian menghabiskan waktu dengan bermain game walaupun kamu sudah mencoba semua game membosankan itu; dan Kamu, yang waktunya hanya digunakan untuk nongkrong bersama teman-temanmu kemudian menghabiskan uang jajan pemberian orang tuamu.



DerielHD

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media
DerielHD

Latest posts by DerielHD (see all)