Its My Faith

Apa Yang Salah Dengan Skeptisme kita

oleh arpan

7 September 2018

Tahun 427 SM, Athena kedatangan seorang anak berusia 11 tahun yang berasal dari Leontinio, Sisilia. Pemuda ini sejatinya adalah Imigran yang mencari perlindungan atas invasi yang dilakukan oleh orang-orang Syarkusa. Imigran muda ini, kemudian menghabiskan waktunya untuk belajar dari Empedokles serta mengkaji dialektika Zeno yang akhirnya banyak berpengaruh terhadap gaya berfikirnya. Kita mengenalnya sebagai Georgias. Orang yang kemudian menghabiskan hidupnya dengan berkeliling Yunani menyebarkan gagasan Skeptisismenya dan sebagai peletak dasar Filsafat Nihilisme yang nanti akan mencapai puncak keemasannya oleh Nietzsche.

Kita mengenalnya dengan gagasan skeptisismenya yang ekstrim yang bahkan meniadakan segala hal termasuk alam (on not being or on nature). Georgias mewariskan sebuah pemikiran yang bahkan menjadi alasan utama runtuhnya periode Hellenistik. Dewa dan perayaan diganti dengan pesimisme sebagai tafsir atas filsafat skeptis Georgias. Yah… Georgias di masa itu popularitasnya hanya dapat disaingi oleh Protagoras.

Faktor utama yang kemudian membuat Georgias bisa diterima oleh Masyarakat adalah karena kemampuan retorikanya. Georgias tentu paham bahwa masyarakat Yunani pada saat itu adalah masyarakat yang gampang dipengaruhi hanya bermodalkan retorika walaupun yang isi pembicaraannya adalah skeptis dan bahkan Nihilisme yang menolak semua perangkat nilai dan moral. Skeptis yang bahkan meniadakan semua bentuk Eksistensi. Bahkan menolak eksistensi pembicara dan pendengar sebagai subjek.
Lalu apa yang terjadi kemudian? Yunani mengalami kemunduran dari segala aspek. Ketidakpercayaan menyebar seperti wabah dan menjangkiti setiap laku dan pikir orang-orang. Institusi moral hancur dan hampir terjadi chaos karena orang-orang bahkan tidak percaya terhadap pengetahuannya sendiri.

Skeptisisme ini adalah penyakit. Wacana yang bisa menghancurkan kesadaran. Kita tidak mengenal baik dan buruk dengan skeptisisme, hanya menunculkan pesimisme karena Kita berfikir bahwa tidak akan pernah Ada nilai yang objektif. Baik dan buruk mustahil terpahami. Oleh karena itu, dia tidak memiliki realitas.
Skeptisisme mengajarkan untuk tidak mempercayai fakta. Bahkan itu fakta empiris. Menciptakan keraguan Tak berujung dan mematikan nalar karena membodohi manusia dengan menyatakan bahwa realitas tidak Ada. Kalaupun ada maka mustahil terpahami. Kalaupun terpahami maka mustahil bisa disampaikan.
Pesimisme itu lahir karena sikap Kita yang skeptis untuk melihat fakta objektif. Kita bahkan tidak percaya dengan apa yang Kita saksikan sendiri. Bukankah ini kegilaan?

Kegilaan inilah yang ditentang Socrates. Walaupun dia harus mati menenggak racun setelah Apologianya gagal menyadarkan orang-orang skeptis di pengadilan Ekklesia. Namun Socrates memberikan Kita pijakan untuk melawan skeptisisme dan mengembalikan kesadaran untuk menerima realitas sebagai sesuatu yang objektif. Dan Socrates menyebut jalannya sebagai Kecintaan (Philo) akan kebijaksanaan (Sophia). Bijaksana untuk menerima diri dan realitas sebagai sebuah eksistensi objektif. Bijaksana untuk menerima bahwa Ada kebaikan di realitas dan Optimis bahwa Kita bisa mewujudkannya.
Lalu, di tahun 2018…. 10.243 km dari Yunani, di sebuah negara yang disebut oleh Arysio Santos sebagai Atlantis yang diceritakan oleh Plato, Indonesia…

Skeptisisme menyebar seperti wabah, saat kepala Kita semua sedang tegak-tegaknya karena bangga akan prestasi yang bersejarah.
Nihilisme berhembus seperti angin yang membinasakan kamu Ad, saat pengakuan dan penghargaan kita dapatkan dari bangsa-bangsa yang lain.

from: Mansur Abadi [email protected]Anggota World allience religious peace (Warp ) international

arpan