itsme.id – Alkisah disebuah daerah di bumi yang datar, lahirlah seorang anak laki-laki dari keluarga yang biasa saja. Seiring perkembangan jaman, anak ini kemudian tumbuh di lingkungan yang sangat kental nuansa religiusnya. Dididik dengan penuh cinta dan kasih sayang, bermain bersama rekan-rekan seumuran, hingga bersekolah di tempat yang berbeda dengan ajaran spiritualnya. Anak itu tumbuh dengan luar biasa. Pengalaman hidup berpuluh-puluh tahun yang dialaminya, dan sedemikian banyaknya pendidikan dan ilmu yang didapatnya dari berbagai perguruan, membuat dia disegani dan dihormati ketika dia dewasa.

Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi sugesti tingkat dewa bagi pengikutnya. Entah itu kalimat positif, atau yang negatif, semuanya menjadi baik dan indah di telinga pengkutnya. Langkah demi langkah yang diambilnya, selalu menjadi teladan bagi murid-murid seperguruannya. Dia disanjung dan diagungkan, dianggap terbuat dari intan dan berlian, hingga menjadi seorang pahlawan bagi kaumnya.

Tak tanggung-tanggung, tujuh juta murid selalu menunggu kapan dirinya akan muncul dan membakar semangat perjuangan mereka di bumi yang datar. Bak seorang pahlawan, dirinya selalu mendapatkan tempat yang spesial di hati para pengikutnya. Baik ataupun buruk kelakuannya, dirinya tetap dibela. Ya namanya pahlawan yang sudah dicintai, pasti akan selalu dicintai.

Mendapatkan julukan macan dari timur, sang pahlawan menjadi semakin berani dalam berorasi dan membela kaumnya, sesama penghuni bumi yang datar.

Jadi ingat kisah kepahlawanan dari negara inggris di masa lampau. Seorang pahlawan muncul untuk membela kaum yang lemah dan tertindas. Sedikit berbeda dengan kisah ini, dimana pahlawan rakyat yang di negara Inggris tersebut benar-benar membela rakyat kecil yang tertindas oleh pemerintahan saat itu tanpa memandang bulu dan tetap hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Ya, beda kisah dan motivasi, jadi saya rasa macan dari timur ini belum layak disamakan dengan Robin Hood.

Rupanya, gelar pahlawan yang diberikan oleh para pengikutnya justru membuatnya takabur. Bisa gonta-ganti mobil mewah, menjadi ciri khas dari pahlawan yang katanya membela kepentingan kaumnya. Tak disangka, begitu banyak orang yang juga ternyata membenci dirinya. Alhasil, laporan demi laporan pelanggaran hukum mulai mengalir kepada pihak yang berwajib. Mulai dari kasus penghinaan lambang negara, hingga kasus chat mesum, membuat pahlawan ini semakin terpojok.

Hingga kini, Macan dari timur tak kunjung pulang. dengan dalih ibadah dan meneruskan study, si pahlawan bagi kaumnya selalu menghindar dari panggilan kasus hukum yang menjeratnya. Atau mungkin dia takut dan malu? Hanya TUhan yang tahu..

Alangkah galaunya para penghuni bumi datar yang sangat menyanjungnya. Tak bisa dibayangkan bagaimana mereka akan beraksi. Wajar aja jika melihat akhir-akhir ini suasana begitu aman dan kondusif, ya karena induk semangnya tidak ada. Ternyata ada baiknya juga jika macan itu tidak ada. Akan tetapi, sebagai pahlawan yang baik, pulang dong supaya para pengikut dan penyanjung kembai bersemangat menjalani hidup. Bahkan di hari pahlwan ini si “pahlwan” tak pulang-pulang! (DerielHD)