iT’s Me- Aku gadis keturunan Polman (mandar), Terlahir dari keluarga yang terbilang menjunjung tinggi tradisi, membuat aku merasa sangat terbebani. Karena alasan untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat hubungan yang membuat hati dan pikiran sulit memutuskan yang terbaik, hingga sampai saat ini aku duduk dibangku kuliah.

Orangtua dan keluarga adalah alasan dari semua harapan yg ada dimuka bumi, pepatah mengatakan “tidak akan berhasil seorang anak tanpa dukungan, restu dari orangtua dan keluarga”. Ini adalah simbol dari harapan yang selalu aku ingat sampai saat ini. Tetapi, apa daya simbol dan harapan itu sirna dengan sendirinya pergi jauh dari benakku. Ketika orangtuaku memutuskan untuk mempertemukan aku dengan anak dari keluarga kami. Awalnya biasa dan ini wajar untuk mempererat tali silaturahmi yang sudah lama tidak terjalin.

Awal pertemuan ini dimulai dari bangku SMA hingga aku mulai lulus dan kuliah dan berkali-kali orangtuaku mulai menanyakan tentang kedekatan aku dengan anak dari keluarga kami. Emm..ya apa yang bisa aku katakan kepadanya selain hubungan yang hanya sebatas teman, lebih tepatnya aku hanya menganggapnya seperti kakak. Tetapi, jawaban atas pertanyaan dari orang tua yang aku berikan tidak bisa diterima. Hingga akhirnya keluarga laki-laki datang kerumah, jauh dari kota tempat kami tinggal. Hanya untuk membicarakan masalah kedekatan hubunganku, tanpa memberi tahu terlebih dahulu apakah aku siap dengan semua keputusan yang ada.

Saat itu aku kuliah jauh dari jangkauan dan pengawasan orangtua, kami berhubungan hanya lewat via telephone. Suatu malam ketika pulang Dinas di rumah sakit, orangtuaku mengirim pesan kalau mereka sudah memutuskan yang terbaik menurut mereka. Hati dan perasaan pada saat itu benar-benar menyiksa, seakan tidak terima dengan semua kenyataan ini. Tanpa pikir panjang aku bicara dengan orangtuaku melalui telepon, dengan tutur kata yang lembut dan sopan berharap mereka bisa memahami apa keinginanku karna apa yang sering aku inginkan pasti mereka wujudkan dan berharap mereka luluh dengan tutur kataku. Tetapi kali ini tidak berjalan seperti yang aku harapkan, justru orangtuaku marah karna keputusan mereka untuk pertama kali tidak bisa aku penuhi. Seketika aku terdiam, jauh dari lubuk hati yang paling dalam ingin menangis dengan ucapan kasar untuk pertama kalinya terucap dari mulut orangtuaku.

Hingga saat itu, mata enggan tertutup walau malam yang semakin gelap. Pikiran hanya tertuju ke satu titik ” bagaimana aku harus bertahan dengan tradisi yang sangat kental dari keluarga”. Disisi lain aku sedang menanti dan memperjuangkan seseorang yang sejak lama bersamaku. Seseorang yang mampu membuatku bahagia dengan kesederhanaannya. Sejak kejadian itu, aku dan orangtuaku putus komunikasi. Rindu dengan keadaan rumah, rindu dengan suara mereka. Sejenak aku berfikir untuk menelpon tetapi beliau tidak merespon, berkali kali aku coba tidak ada hasilnya. Sekali lagi aku berfikir bahwa tidak ada kata menyerah, aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Tidak terasa waktu begitu cepat, sesampainya dikampung halaman, tujuan awal bertemu dengan orang tuaku dan menjelaskan apa yang sebenarnya ada di benakku tentang tradisi ini.

Aku mengatakan kepada mereka bahwa sebuah tradisi memang tidak bisa dihilangkan dari setiap suku, dengan menjalin silaturahmi dan mempererat hubungan keluarga tidak mesti dengan cara menjodohhkan karena belum tentu kedua belah pihak yang di jodohkan setuju dengan keputusan yg sudah di sepakati. Aku tidak bermaksud melanggar tradisi, tetapi kita harus memikirkan dampaknya. Karna menjalin suatu hubungan berlandaskan paksaan sulit berakhir bahagia. Aku hanya tidak ingin tradisi yang harusnya memliki tujan baik malah merusak karena kami sebagai anak tidak sepakat dengan apa yang diputuskan. (Thiny latif)