Its My Life

Antara Orang Gila dan Gila Uang, Siapa Yang Gila?

oleh Mr Ben

21 February 2018

iTs me – Butuh uang? Ya, siapa yang tidak butuh uang? Hanya orang gila mungkin yang tidak butuh uang.  Eeits, tunggu dulu, siapa bilang orang gila tidak butuh uang? Berikut adalah pengalaman pribadiku beberapa waktu lalu bertemu dengan seseorang yang kejiwaannya terganggu alias orang gila.

Sore itu selepas dari kantor, aku mampir di salah satu swalayan dekat rumah untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi. Saat hendak turun dari mobil, seorang pria paruh baya dengan hanya mengenakan celana pendek compang-camping mendekatiku. Penampilannya begitu lusuh, kotor dan ada aroma tak sedap menusuk hidung saat ia semakin mendekat. Tatapannya yang tajam ke arahku sedikit membuatku gugup hingga kaki kananku yang sudah siap-siap melangkah keluar dari mobil aku urungkan lagi.

Tiba-tiba tangannya diulurkan ke arahku sambil berkata, “minta uang”! Spontan saja aku mengambil beberapa lembar uang kertas dari kabin dashboard dan kuberikan padanya. Sejenak diamatinya lembaran-lembaran uang kertas itu kemudian membuang beberapa nota bekas parkir yang terselip. Ia pun berlalu begitu saja sambil terus mengamati lembaran- lembaran uang tersebut.

Entah apa yang ada dalam pikiran orang gila itu, yang jelas ada sesuatu yang mulai berkecamuk dalam pikiranku. Sungguh luar biasa, orang itu sudah tidak ingat bagaimana berpakaian yang benar, ia sudah lupa soal mandi, mungkin juga sudah lupa soal pulang rumah dan keluarga, ia juga sudah lupa soal malu, namun untuk uang, ia tidak lupa.

Ia bisa saja lupa dan mengabaikan semua hal, namun tidak untuk uang. Dia juga masih bisa membedakan mana uang dan mana kertas parkir. Bahkan saat ia mengamati lembar demi lembar uang kertas itu, sempat terlintas dalam pikiranku mungkinkah ia masih tau berapa nilai uang kertas itu? Lantas hendak diapakan uang itu dengan kondisinya yang demikian?

Saat itu, jika ada yang mengatakan hanya orang gila lah yang tidak butuh uang maka langsung aku sanggah. Memang tidak semua orang gila seperti itu dan tidak bisa digeneralkan, namun apa yang aku saksikan sore itu adalah sesuatu yang real dan sungguh diluar dugaan.

Nyatanya hanya uang lah yang dibutuhkan orang gila tersebut. Dia tidak begitu membutuhkan baju, tidak merasa membutuhkan rumah untuk tinggal, tidak membutuhkan kasur untuk tidur, tidak membutuhkan kendaraan, tidak membutuhkan smartphone untuk komunikasi, dia tidak butuh semua itu, bahkan dia tidak membutuhkan nasehat-nasehat anda dalam kondisinya yang demikian. Tapi coba sodorkan uang, anda akan terperangah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, pikiranku terus menerawang jauh, tidak saja lagi soal orang gila tadi, namun soal uang dan pengaruhnya. Aku benar-benar terperangah dengan fakta dan berbagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul memenuhi otak ku. Begitu dahsyat kah pengaruh uang ini? Begitu berkuasa kah uang ini? sampai-sampai bahkan orang gila pun menjadi ‘normal’ ketika disodorkan uang.

Ya, sadar atau tidak, uang sepertinya bisa membuat orang menjadi normal namun sekaligus bisa menjadi gila. Dalam kehidupan nyata, tak jarang kita menyaksikan orang normal akan bertingkah gila atau bahkan menjadi gila benaran jika ia tidak memiliki uang apalagi kehilangan banyak uang. Sebut saja ketika pada musim politik, kita bisa mendapati tak sedikit orang yang masuk Rumah Sakit Jiwa akibat terganggu kejiwaannya (jika tidak ingin disebut gila) akibat kehilangan banyak uang sementara mereka tidak terpilih. Kejiwaan mereka sakit bukan semata karena tidak terpilih menduduki posisi yang diincar namun lantaran telah kehilangan begitu banyak uang.

Ungkapan bahwa uang bukanlah segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang, seakan memberi isyarat bahwa uang memang bisa mengendalikan sebuah kehidupan. Uang bisa membuat hubungan saudara dan pertemanan menjadi rusak dalam sekejap atau pun sebaliknya. Uang bisa membuat urusan yang sulit menjadi mudah ataupun sebaliknya. Tak sedikit orang yang rela melakukan berbagai tindak kejahatan bahkan yang melampaui batas kemanusiaan sekalipun hanya lantaran uang.

Uang bisa saja membuat sebuah kehidupan lebih baik namun sebaliknya dapat membuat sebuah kehidupan menjadi gila yang teramat gila. Uang bisa membuat seorang politisi yang tadinya memiliki niat bersih berubah menjadi politikus kotor yang korup. Bahkan uang bisa membuat seorang hamba Allah yang tadinya begitu murni berubah menjadi hamba uang, berdakwah atau berkhotbah hanya demi uang.

Jika demikian maka pertanyaannya apakah uang adalah sesuatu yang buruk yang harus dijauhi? Tentu tidak. Bahkan uang harus di cari. Itulah mengapa setiap orang harus bekerja “mencari uang” termasuk diriku.

Ada Seorang bijak pernah mengatakan “Akar dari segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh mengejar uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai kesulitan”. Ungkapan ini menegaskan kepada kita bahwa uang sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk dan jahat. Tetapi cinta akan uang lah yang menyebabkan kejahatan atau keburukan itu. Ketika seseorang mulai jatuh cinta dan memberi hidupnya dikuasai oleh uang, maka segala hal dalam dirinya adalah soal uang.

Orang yang hidupnya dikuasai oleh uang, yang dipikirkan hanyalah uang dan uang. Segala apapun yang dilakukan, motivasinya adalah uang. Dia selalu bekerja untuk uang dengan menghalalkan segala cara. Dia akan senang jika ada uang tapi sebaliknya akan ‘menggila’ jika tidak ada uang. Selalu dalam kesehariaannya adalah pembicaraan mengenai uang dan uang karena di situlah hatinya. Uang seakan menjadi ‘penguasa dan pengendali’ dirinya.

Sampai titik ini, tiba-tiba aku tersadar satu hal, kita semua memang butuh uang, tapi jika yang dipikirkan hanyalah uang dan uang, kepala akan menjadi pusing tujuh keliling kalau tidak pegang uang, maka apa bedanya orang gila tadi dengan kita yang mengaku diri normal? Jika yang ada di benak kita hanyalah uang, mengukur segala sesuatu dengan uang, bahkan bisa lupa anak, istri, suami, keluarga, teman dan berbagai hal baik hanya karena uang, apakah jangan-jangan kita pun sebenarnya sudah gila?

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimatku berikut ini, jika orang gila akan menjadi ‘normal’ ketika disodorkan uang sementara orang normal bisa menjadi gila jika tidak ada uang, maka siapa sebenarnya yang gila? Jangan-jangan anda pun mulai gila? atau bisa juga penulis artikel ini? 🙂

**Ditulis dan diedit dibeberapa tempat saat bersantai sejenak menikmati secangkir kopi seperti di Starbucks Mall Botany, Lippo Plaza  & Vimalla Bogor serta Popolo Coffee Bogor. Terimakasih buat semua teman-teman barista yang selalu menyajikan kopi yang nikmat dan penuh sambutan hangat 🙂 ** 

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO Fokus Media Group | cyberlabpro | itsme.id | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Hidayah Bangsa Fondation | Seorang Penikmat Kopi Hitam |