iT’s Me- Ustad, Kiyai, bahkan Ulama, masing-masing memiliki kriteria yang sakral sehingga sebutan-sebutan itu layak di nobatkan atas orang tersebut. Memiliki pemahaman yang dalam terhadap ilmu-ilmu agama, hebat dalam syiar dan tentunya memiliki akhlah yang baik dan layak menjadi panutan. Dan saya tergolong beruntung, meski bukan dari latar belakang santri atau remaja masjid dan organisasi-organisasi yang bernaung dalam bingkai islam, namun saya memiliki beberapa guru yang saya sebut dengan kiyai, ustad dan Syekh. Saya juga banyak mendapat nasehat-nasehat tentang nilai-nilai agama dari mereka.

Setelah kurang lebih lima tahun tingal di kota angkot bogor jawa barat, senang rasanya bisa bertemu kembali dengan seorang guru yang saya sebut dengan Pak syekh. Terkadang-kadang saya memanggilnya ustad, namun sebutan Syekh lebih cocok, karena beliau salah satu yang mendalami ilmu-ilmu tasawuf dan masih tergolong muda. Saat bersama Pak syekh, bisa di bilang sangat jarang saya mendengar ilmu-ilmu tasawuf, mungkin juga karena saya tidak bertanya. Namun ada hal menarik dari Pak syekh, yang menarik itu bukan dari hebatnya Pak syekh bercerita tentang agama, apalagi sok dengan ilmunya tasawufnya. Tetapi caranya bertutur kata, sangat lembut dan santun dalam berprilaku, itulah yang membuat Pak syekh menarik dan berbeda.

Tempat saya tingal dan rumah Pak syekh memang terbilang jauh, saat melewati rumah Pak syekh kadang saya mampir sebentar. Dan setiap saya mampir ada-ada saja yang saya dapatkan secara gratis, meski saya menolak secara halus, bukan karena tidak ingin, hanya karena terlalu sering membuat saya sungkan untuk menerima. Pernah suatu waktu, saat saya baru beberapa minggu di daerah ini, pagi-pagi buta Pak syekh datang ke rumah mengantarkan nasi kuning untuk sarapan. Saya tidak pernah menyangka, beliau mau datang jauh-jauh hanya untuk mengantarkan sarapan.

Saya terlalu sering melihat dan mendengar seorang guru entah itu di sebut ustad, kiyai atau ulama justru terlena dengan sebutan yang melekat pada diri mereka. Beberapa hanya menasehati tetapi lupa memberi contoh yang baik, ada juga yang terlihat membatasi, khususnya kepada orang-orang yang di anggap berbeda. Ada juga yang menyampaikan agama tetapi dengan kasar dan sangat keras, bahkan sampai ke doktrin membunuh manusia. Mungkin tidak semua, atau mungkin saya keliru dalam menilai.

Apa yang saya lihat dari sosok Pak syekh, sangat jelas perbedaan antara keras dan lembut, baik dan buruk atau tulus dan karena fulus. Namun, kembali lagi bahwa Tuhan Maha membolak balikkan hati manusia, yang dilihat baik belum tentu selamanya baik dan dilihat buruk belum tentu selamanya buruk. Sebagai manusia hanya perlu mencontoh apa yang baik, meninggalkan yang buruk dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Oleh karena itu, bagaimanapun penilaian kepada mereka yang di sebut ahli agama, jangan pernah membenci jika tidak saling mengenal lebih dalam.