Its NOT Me

Angka Kemiskinan Berada Dibawah 10 Persen? Seriously…!

oleh arpan

23 July 2018

Kemiskinan maning, kemiskinan maning….kira-kira itulah ungkapan tepat jika berbicara soal kemiskinan, khususnya di indonesia. Kemiskinan adalah satu topik menarik sekeligus horor, apalagi jika di kaitkan dengan “politik”. Dari yang namanya pemilihan calon legislatif (caleg) sampai pemiihan presiden yang sering dia angkat adalah bagaimana mensejahterakan rakyat, bagaimana mengurangi kemiskinan. Program-programnya kebanyakan berfokus kepada peningkatan kemiskinan, mungkin tidak semua tapi pasti ada yang mengarah kepada yang namanya kemiskinan. Bayangin saja, sudah berapa kali pergantian wakil rakyat, pergantian kepala ini, kepala itu, sampai pergantian Presiden, isu soal kemiskinan masih trending topik,. Apalagi saat kampanye atau promosi jabatan dan sejenisnya, bisa di bilang yang namanya orang miskin makin di depan, kaya’ ikla-iklan di tv “Yamiskin..semakin di depan”. Kadang mikir, rakyat indonesia ini kapan kayanya ya. Kan enak kalau suatu saat para caleg wakil rakyat atau presiden, di kampanyenya tidak lagi berbicara soal statistik kemiskian. Begitu pun dengan Badan Pusat Statistik kita tidak lagi ngukur-ngukur turun naiknya jumlah kemiskinan, tapi sudah pada rana turun naiknya jumlah kekayaan. Karena kalau sudah kaya, biar pun turun, kaya tetap saja kaya. Maunya sih gitu, tapi kan… kita cuman rakyat hanya bisa senyum senyum di depan tv, ngopi sambil liatin “mereka” berantem karena belain orang miskin, katanya!

Di media-media besar dan terkenal itu, belum lama ini ngapung berita soal angka kemiskinan di indonesia. Pada maret 2018 ini menurun, dibandingkan tahun 2017, dibawah sepuluh persen. Bahkan menjadi paling rendah dalam sejarah….patut kita berikan applause. Hal serupa di sampaikan oleh Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Eko Marsono “bahwa angka kemiskinan per Maret 2018 yang sebesar 9,82% menjadi paling rendah sepanjang sejarah. Dimana angka kemiskinan per Maret tahun ini menjadi single digit. Ddilihat pada tahun Maret 2011 itu persentasenya 12,49%”. Kemudin Beliau melanjutkan, “penurunan angka kemiskinan di Maret 2018 yang menjadi 25,95 juta orang atau 9,82% pun tidak berjalan mulus selalu turun. Pasalnya, pada September 2013 dan Maret 2015 angka kemiskinan naik. Ini adalah untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin berada di angka satu digit. Kalau dilihat semuanya biasanya dua digit, jadi memang ini pertama kali dan terendah, Meski demikian. Namun masih ada pekerjaan rumah bagi pemerintah dengan angka kemiskinan di Indonesia lebih khususnya Gorontalo Sebab, angka 25,95 juta orang masih besar. Caranya dengan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran sehingga penurunan kemiskinannya bisa cepat, beberapa tahun belakangan ada penurunan tapi sangat lamban, tapi ini persentase kemiskinan yang paling rendah 9,82% tapi jumlahnya masih banyak.”

Percaya tidak pecaya, tapi begitulah data yang ada. Ini akan menjadi berita baik bagi yang pro dan optimis, dan bagi yang pesimis, biasanya punya data statisitk sendiri, dan itu wajar namanya juga “PERMAINAN”. Kita patut bersyukur, karena syukur tidak harus di mulai dari angka fantastik, bersyukur di mulai dengan hal kecil. Mudahan-mudahan menjelang pesta rakyat, angka kemiskian tidak naik turun degan sendirinya. Karena, kadang-kadang mereka yang “berkepentigan” punya data valid sediri bahkan lebih valid dari data para ahli. Ibarat berbicara soal data peretumbuhan tikus-tikus di indonesia , tetapi yang ngomong Sarjana Farmasi. Nyambungkan?

Rizky M/sajaddahlive

arpan