itsme.id – “Suami saya jual beli amplifier bekasi, ngerakit box-box salon. Kalau saya nggak kerja,” ujar istri dari almarhum MA, Siti Zubaidah (dikutip dari tribunnews). Tak menyangka bahwa itu adalah hari terakhir dirinya akan melihat suaminya berangkat kerja. Amplifier yang merupakan sumber mata pencaharaian suaminya ternyata menjadi penyebab nyawa suaminya juga melayang. Dituding mencuri amplifier mushala, suami yang merupakan tulang punggung dari istri, anak, dan calon anaknya akhirnya diamuk masa dan dibakar hidup-hidup.

Ada apa dengan masyarakat kita saat ini? Seolah tidak ada lagi kata musyawarah dan penyelesaian secara baik-baik. Sudah sedemikian hancurkah moral oknum-oknum yang menghakimi alm.bapak MA dengan sadis? Apa yang terjadi dengan ungkapan ‘asas praduga tak bersalah’? Ngeri rasanya membayangkan bagaimana bapak itu berusaha menjelaskan kejadian sebenarnya sambil mempertahankan hidupnya yang sudah diujung tanduk, menghadapi masa yang sudah terprofokasi. Aneh rasanya ketika mendengar bahwa waktu kejadian bertepatan dengan waktu almarhum MA selesai memanjatkan doa memohon rejeki kepada yang maha kuasa.

Siapa kalian? Siapa kalian yang tega menghabisi nyawa bapak itu dengan sadis? Masih adakah rasa kemanusiaan dihati kalian? Atau kalian hanyalah iblis yang bersembunyi dalam tubuh manusia yang benci melihat betapa salehnya dan betapa taatnya ummat Tuhan beribadah dan berdoa?

Apa hak kalian melakukan hal semacam itu? Hanya Tuhan yang tahu. Ini adalah pukulan telak bagi bangsa ini. Disaat para wakil rakyat sedang pusing mengomentari dan mengkritik pemerintah karena kelangkaan dan harga garam yang meningkat, disaat para elit politik sedang asik bertengkar mengenai standar batas minimum pemilihan presiden di pemilu nanti, rakyat yang mereka wakilkan justru asik main hakim sendiri dan bertingkah seperti Tuhan.

Apakah amplifier itu sebanding dengan nyawa yang telah kalian renggut? Bagaimana jika seandainya hal itu menimpa salah satu dari anggota keluarga kalian?

Sadis.. mungkin hanya itu kata yang bisa menggambarkan kelakuan oknum-oknum yang tak bermoral itu. Seolah nyawa lebih penting dari sebuah ampli, benda mati yang nilainya tak seberapa, dan kesenangan menghakimi menjadi pemuas nafsu. Iblis apa yang merasuki kalian? Sudah puas memukuli bapak itu? Sudah puas melihat tubuh lemah bapak itu hangus terbakar? Kalian Sadis!!

Seandainya kalian menangkap bapak itu dan bertanya terlebih dahulu, mungkin kalian akan mendengar bahwa bagi bapak itu, betapa senangnya dan bahagianya ketika dia menghadap Tuhannya dan berdoa, bersyukur akan kebaikan Tuhan karena sudah memberikan sebuah amplifier untuk diperbaiki. Semuanya demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Sekarang, siapa yang akan memberi makan keluarganya? Dimana orang-orang yang menghakimi bapak itu dengan sadis? Dan kira-kira apakah mereka kemudian akan mempertanggung jawabkan kelakuan mereka? Hanya Tuhan yang tahu.

Kita semua hanya bisa berharap, semoga tidak ada lagi manusia yang diperlakukan seperti binatang di bangsa ini dan kiranya keadilan bisa didapatkan oleh keluarga yang ditinggalkan.. (DerielHD)

Artikel terkait: Pembakar Manusia Lebih Baik Dari Pencuri Amplifier Musholla?

 



DerielHD

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media
DerielHD

Latest posts by DerielHD (see all)