Its My Faith

Amal Perbuatan (seseorang) tidak akan memasukkannya ke dalam surga, Bahkan Rasulullah?

oleh arpan

10 December 2018

Hitung hitungan amal adalah hal yang lumrah di kalangan kita umat islam, semain banyak amal kita makan semakin banyak pahala dan smakin besar peluang kita untuk masuk surga. Dan ini adalah hal yang lumrah karena normalnya semua manusia ingin amalnya mendapatkan balasan pahala yang berujung pada surga walaupun peluang masuk neraka juga lebih luas. Semua yang kita lakukan selama hidup di dunia ini dengan segala prediksi kiamatnya adalah beramal dan goalnya surga. Dua macam amal yang sampai saat ini sering berbenturan dalan hidup kita, yaitu amal lahiriyah dan batiniyah.

Lahiriyah dan Batiniyah seolah berlawanan tetapi berhubungan satu sama lain, karena tanpa amal lahiriyah tiak akan ada amal batiniyah. Kita shalat , berdzikir, puasa dan berbuat bersosial dan berbuat baik kepda sesama manusia. Jadi, kedua ini tidak di pisahkan sama halnya Habluminannas dan habluminallah. Kedua ini terkait. Memang harus ada yang di dahulukan tetapi tidak akan bisa di putuskan. Saat kita merasa bahkan kita lebih banyak melakukan amal baik adalah harapan untuk menuju surga akan semakin besar, sebaliknya jika amal buruk yang kita lakukan orang-orang dan mungkin diri kita sendiri akan menilai bahwa kita tidak pantas di surga.

Lalu adakah yang lebih penting dari hitung-hitungan amal perbuatan baik dan buruk? Jawabannya ada! Tugas kita manusia adalah bertahan hidup dengan cara masing-masing, berusaha, bekerja, bertanggungjawab, beribadah dan baramal. Hasil akhirnya serahkan kepada Allah. Tetapi masih banyak manusia yang mendahului Tuhan dalam menentukan hasil akhir. Tapi biarkan, suka-suka mereka saja, toh modal kita sama, sama-sama berharap surga. Mereka yang berjalan sesuai koridor agama dan yang jalannya bengkok-bengkok juga berharap surga. Sesekali berharap neraka, sipa tau dapat sebaliknya, gurau!

Yang lebih penting dari hitung-hitungan amal baik dan buruk adalah Rahmat dan Karunian-Nya, bukan ramat penyebar hoax, tetapi Rahmat Allah. Tanpa Rahmat dan Karuni-Nya maka semua amal perbuatan kita bisa saja tidak happy ending. Bahkan Sahabat Nabi pernah bertanya tentang amal perbuatan seseorang, meski tidak di jelaskan apakah itu amal baik atau buruk. “Amal perbuatan (seseorang) tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Mereka (para sahabat) bertanya: “Apakah engkau juga begitu ya Rasulullah?” Rasul menjawab: “Juga saya begitu, kecuali kalau Allah memberikan kepada saya rahmat dan karunia-Nya.” (H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)”.

Kenapa saya membahas hadits ini karena mungkin beberapa pemikir mengatakan Qur’an tanpa Hadits kurang afdoll. Dan saya melihat,  dalam syi’ar-syi’ar kita islam tekadang dominan hadits di pergunakan daripada Qur’an, terkecuali khutbah Jum’at, dari sudut pandang saya. Mohon tidak  tesinggung, sesama muslim  dilarang  tersinggung. Semoga kalian yang membaca tulisan ini memperoleh Rahmat dan Karunia Allah SWT.Amin!

arpan