Bagaimana bisa Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun Namun juga bisa menjadi Tuhan kehancuran?

Oleh: Prof. Gabriel Said Reynolds from the Notre Dame University

iT’s me – Saat mengajarkan Al-Qur’an di Universitas Notre Dame, saya menemukan bahwa para mahasiswa saya menanyakan mengenai bagaimana dua elemen berbeda dari naskah bisa berpadu. Al-Qur’an sering menyatakan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Ar-Rahman Ar-Rahim. Namun Al-Qur’an juga menjelaskan Allah sebagai Tuhan yang membinasakan seluruh umat yang memusnahkan seluruh orang dari suatu umat karena kekafirannya.

Bagaimana bisa, tanya mahasiswa saya, dua hal ini berpadu? Bagaimana bisa Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun namun juga bisa menjadi Tuhan kehancuran? Satu ayat yang tampaknya memuat dua sifat Allah dalam Qur’an ada di Q.S. [7]:156. Allah berfirman,

“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. [AYAT DALAM BAHASA ARAB: Qal, ‘dhabi sib bidi man asha’ warahmaty wasi’at kul shay’]

Bagaimana kedua hal ini bisa bersanding bersama dalam Al-Qur’an? Memang kita bisa menganggap bahwa Al-Qur’an begitu bersikeras terhadap dua aspek Allah, baik Allah sebagai maha pengampun maupun Allah sebagai Tuhan penghukum dan penghancur. Bahwasanya para penulis Al-Qur’an pasti telah menemukan suatu kesesuaian tertentu atau suatu cara untuk mendamaikan dua aspek berbeda dari sifat ilahi tersebut.

[Klik disini jika video diatas eror]

Hari ini kita akan membahasnya. Pikirkan bagaimana Allah bisa menjadi pengampun dan pengasih sekaligus. Sebagaimana firman Al-Qur’an di bagian lainnya, “dhu-intiqam,” sang penguasa pembalasan.

Hari ini kita berada dalam tempat yang baik untuk membahas pertanyaan ini, karena di belakang saya ada Laut Mati. Menurut tradisi Yahudi, Kristen, maupun Islam, Laut Mati adalah lokasi dimana umat Nabi Luth dulunya tinggal. Menurut tradisi ini, tempat ini dulunya adalah lembah hijau yang subur. Kita bisa perhatikan Kitab Kejadian saat Luth memisahkan diri dari Ibrahim dan memilih daerah yang lebih baik. Inilah daerah yang lebih baik, inilah lembah hijau.

Hari ini, tentu saja, daerah ini tidak ada kehidupan sama sekali. Tidak ada kehidupan di laut mati dan di sekelilingnya hanyalah dataran garam yang tandus. Memang kita bisa memikirkan hubungan antara tempat ini dengan kisah Nabi Luth saat orang-orang menyadari betapa hampa kehidupan tempat ini, dan berasumsi bahwa disinilah Allah menurunkan azab-Nya lewat menghujaninya dengan api dan batu dari langit, dan memusnahkan umat Nabi Luth.

Tentu saja kita juga ketahui kisah dari Taurat bahwa istri Nabi Luth diubah menjadi tiang garam, dan dataran garam disini, garam yang merembes dari bumi ke Laut Mati, bisa meyakinkan orang-orang bahwa inilah tempat kejadiannya. Memang penting untuk mengingat bahwasanya kisah Nabi Luth tidak hanya di Al-Qur’an namun juga dimuat pertama kali sebelumnya di Kitab Taurat. Artinya kisah azab dari Allah dikenal dalam Taurat juga dalam Al- Qur’an.

Jadi Allah SWT sebagai Tuhan penguasa pembalasan bukan hanya dikenal dalam Al-Qur’an namun juga di Taurat. Bahkan di kisah Nabi Nuh, di Kitab Kejadian, Allah SWT memutuskan menurunkan banjir bah ke seluruh muka bumi. Allah SWT tidak memilih memberi kesempatan lain bagi umat keji yang memusuhi Nabi Nuh. Maka keadilan Allah kemudian diturunkan. Sebagaimana dimuat dalam Kitab Kejadian, dan lagi dalam bab 18, saat Allah menyaksikan kejahatan umat Nabi Luth. Meskipun Nabi Ibrahim berdebat dengan Allah. Memohon agar Allah tidak menghancurkan kota Luth. Bagaimanapun juga Allah SWT tetap menghancurkan kota tersebut.