Its My Faith

Allah Sebagai Tuhan Kehancuran?

oleh arpan

20 October 2017

Bagaimana bisa Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun Namun juga bisa menjadi Tuhan kehancuran?

Oleh: Prof. Gabriel Said Reynolds from the Notre Dame University

iT’s me – Saat mengajarkan Al-Qur’an di Universitas Notre Dame, saya menemukan bahwa para mahasiswa saya menanyakan mengenai bagaimana dua elemen berbeda dari naskah bisa berpadu. Al-Qur’an sering menyatakan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Ar-Rahman Ar-Rahim. Namun Al-Qur’an juga menjelaskan Allah sebagai Tuhan yang membinasakan seluruh umat yang memusnahkan seluruh orang dari suatu umat karena kekafirannya.

Bagaimana bisa, tanya mahasiswa saya, dua hal ini berpadu? Bagaimana bisa Allah Maha Pengasih dan Maha Pengampun namun juga bisa menjadi Tuhan kehancuran? Satu ayat yang tampaknya memuat dua sifat Allah dalam Qur’an ada di Q.S. [7]:156. Allah berfirman,

“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. [AYAT DALAM BAHASA ARAB: Qal, ‘dhabi sib bidi man asha’ warahmaty wasi’at kul shay’]

Bagaimana kedua hal ini bisa bersanding bersama dalam Al-Qur’an? Memang kita bisa menganggap bahwa Al-Qur’an begitu bersikeras terhadap dua aspek Allah, baik Allah sebagai maha pengampun maupun Allah sebagai Tuhan penghukum dan penghancur. Bahwasanya para penulis Al-Qur’an pasti telah menemukan suatu kesesuaian tertentu atau suatu cara untuk mendamaikan dua aspek berbeda dari sifat ilahi tersebut.

[youtube id=”dp6QhOf4Xx0”]

[Klik disini jika video diatas eror]

Hari ini kita akan membahasnya. Pikirkan bagaimana Allah bisa menjadi pengampun dan pengasih sekaligus. Sebagaimana firman Al-Qur’an di bagian lainnya, “dhu-intiqam,” sang penguasa pembalasan.

Hari ini kita berada dalam tempat yang baik untuk membahas pertanyaan ini, karena di belakang saya ada Laut Mati. Menurut tradisi Yahudi, Kristen, maupun Islam, Laut Mati adalah lokasi dimana umat Nabi Luth dulunya tinggal. Menurut tradisi ini, tempat ini dulunya adalah lembah hijau yang subur. Kita bisa perhatikan Kitab Kejadian saat Luth memisahkan diri dari Ibrahim dan memilih daerah yang lebih baik. Inilah daerah yang lebih baik, inilah lembah hijau.

Hari ini, tentu saja, daerah ini tidak ada kehidupan sama sekali. Tidak ada kehidupan di laut mati dan di sekelilingnya hanyalah dataran garam yang tandus. Memang kita bisa memikirkan hubungan antara tempat ini dengan kisah Nabi Luth saat orang-orang menyadari betapa hampa kehidupan tempat ini, dan berasumsi bahwa disinilah Allah menurunkan azab-Nya lewat menghujaninya dengan api dan batu dari langit, dan memusnahkan umat Nabi Luth.

Tentu saja kita juga ketahui kisah dari Taurat bahwa istri Nabi Luth diubah menjadi tiang garam, dan dataran garam disini, garam yang merembes dari bumi ke Laut Mati, bisa meyakinkan orang-orang bahwa inilah tempat kejadiannya. Memang penting untuk mengingat bahwasanya kisah Nabi Luth tidak hanya di Al-Qur’an namun juga dimuat pertama kali sebelumnya di Kitab Taurat. Artinya kisah azab dari Allah dikenal dalam Taurat juga dalam Al- Qur’an.

Jadi Allah SWT sebagai Tuhan penguasa pembalasan bukan hanya dikenal dalam Al-Qur’an namun juga di Taurat. Bahkan di kisah Nabi Nuh, di Kitab Kejadian, Allah SWT memutuskan menurunkan banjir bah ke seluruh muka bumi. Allah SWT tidak memilih memberi kesempatan lain bagi umat keji yang memusuhi Nabi Nuh. Maka keadilan Allah kemudian diturunkan. Sebagaimana dimuat dalam Kitab Kejadian, dan lagi dalam bab 18, saat Allah menyaksikan kejahatan umat Nabi Luth. Meskipun Nabi Ibrahim berdebat dengan Allah. Memohon agar Allah tidak menghancurkan kota Luth. Bagaimanapun juga Allah SWT tetap menghancurkan kota tersebut.

Namun sebaiknya kita tidak meneruskan perbandingan antara Kitab Taurat dan Al-Qur’an terlalu jauh. Memang kisah-kisah yang kita ketahui dari Taurat muncul berbeda dalam Al-Qur’an. Bila kita ambil sosok Nabi Luth dan dua tokoh Taurat yang muncul di Al-Qur’an tokoh-tokoh Nabi Musa dan Nabi Nuh kita melihat bahwa Al-Qur’an seringkali menempatkan tokoh-tokoh ini ke dalam rangkaian kisah-kisah pembalasan. Dengan demikian ciri-ciri khas dari tiap sosok ini dipersatukan menjadi satu penggambaran konsisten mengenai apa yang dilakukan seorang nabi.

Bagi Al-Qur’an seorang Nabi bertugas menyampaikan pesan kepada umatnya, yang selalu merupakan suatu peringatan, suatu peringatan bahwasanya Allah SWT akan melaknat mereka bila mereka tidak mengakui sang Nabi dan tidak beriman kepada Allah. Secara tak terhindarkan dalam kisah-kisah ini, umat-umat tersebut menolak beriman kepada nabi dan akhirnya mereka diazab Allah SWT. Karena alasan inilah, para cendekiawan seringkali mengacu ke kisah-kisah ini sebagai kisah-kisah pembalasan. Kisah-kisah pembalasan ini adalah salah satu aspek sentral naskah Al-Qur’an.

Kisah-kisah tersebut memiliki 4 elemen.

Mari kita amati lebih cermat mengenai bagaimana munculnya kisah-kisah pembalasan di Q.S. Huud dan Q.S. Asy Syu’araa. Terdapat bagian-bagian lain yang memuat kisah-kisah pembalasan ini seperti Q.S. Huud [11] Q.S. ASy-Syu’araa [26]. Namun Q.S. Al-‘Araaf [7] memiliki keunikannya sendiri karena kisah-kisah pembalasan tersebut muncul dalam rangkaian yang cepat. Ada enam kisah berbeda yang muncul dalam Q.S. Al-‘Araaf [7] dimana semuanya memiliki alur yang sama.

Pertama ada kisah Nabi Nuh. Kemudiah kisah dua tokoh yang tidak dikenal dalam Kitab Taurat. Pertama, Nabi Hud kemudian Nabi Saleh kemudian ada kisah Nabi Luth, selanjutnya ada kisah tokoh ketiga yang tidak dikenal dari Kitab Taurat yaitu Syuaib yang dikirim ke Midian dan akhirnya kita mendapati kisah Nabi Musa. Kisah-kisah ini diungkapkan dengan konsistensi yang luar biasa. Satu demi satu, bahkan menggunakan jenis bahasa yang sama.

Kita bisa melihat, misalnya, dimulai dari Q.S. Al-‘Araaf [7]:59. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya.
Ini adalah elemen pertama dari kisah-kisah pembalasan: diutusnya seorang Nabi kemudian ayat 65, diutusnya Nabi Hud ke umat ‘Ad, Hud saudaranya dan seterusnya, kita juga bisa melacak ini dengan diutusnya Nabi Saleh, Nabi Luth, Nabi Syuaib, dan Nabi Musa.

Elemen kedua, Kita melihat Nabi berdakwah ke umatnya. Ayat 59 ‘Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.’
Kemudian perhatikan Ayat 65, Nabi berikutnya, dengan agak aneh, Nabi ke ‘Ad, Nabi yang bernama Nabi Hud mengatakan, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya.” Kata-kata yang sama.

Tidak ada pertanyaan kapan Nabi pertama berdakwah, tidak ada pertanyaan kapan Nabi berikutnya berdakwah, atau pertanyaan dimana Nabi berdakwah dan jelas tidak ada pertanyaan bahasa apa yang mereka gunakan untuk berdakwah. Poin penting yang ditekankan Al-Qur’an adalah mereka semua menyampaikan kata-kata yang sama kepada umat-umatnya. Dan saat kita bergerak ke elemen ketiga, kita ketahui umat-umat mereka memberikan respon yang sama.

Kita baca misalnya bagaimana umat Nabi Nuh meresponnya dalam Q.S. Al-‘Araaf [7]:60.
“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.”
Jadi mereka menolak beriman.Hal yang sama juga dilakukan oleh umat Nabi Hud. “Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang yang berdusta.”

Kemudian dalam Elemen Empat dimana Allah merespon kepada kekafiran mereka dengan menurunkan azab kepada umat tersebut. Sedangkan dalam Q.S. Al-‘Araaf [7]:64 kita juga mendengar mengenai dimusnahkannya umat Nabi Nuh.
“…Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.”
Sedangkan pada Q.S. Al-‘Araaf [7]:72 kita membaca dimusnahkannya umat Nabi Hud yang dikenal sebagai orang-orang ‘Aad
“Maka kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami…”
“…dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.”
Kita bisa percepat dengan mengingat bahwasanya Al-Qur’an juga bicara mengenai dimusnahkannya umat Nabi Luth di Q.S. Al-‘Araaf [7]:84.
“Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” Q.S. Al-‘Araaf [7]:84.
Tentu saja adegan ini, hujan batu, juga terjadi di tempat bagian lain disini, di tempat yang sama dimana saya berdiri hari ini.

Sekarang mari perhatikan kisah-kisah ini, kita mungkin menangkap khususnya, mengenai kesesuaian antara kisah-kisah berbeda. Sesungguhnya kisah-kisah tersebut tidak memiliki kesesuaian yang sempurna. Beberapa sifat kisah-kisah Kitab Taurat dipertahankan, misalnya umat Nabi Nuh dilaknat dan dimusnahkan dalam suatu banjir bah. Al-Qur’an tidak akan mengatakan bahwa mereka dimusnahkan oleh api, karena kisah Kitab Taurat mengenai banjir bah dan bahtera telah dikenal luas oleh para pembacanya. Sedangkan umat Nabi Luth dimusnahkan dalam api dan hujan batu yang tidak bisa dihancurkan dalam suatu banjir bah atau dengan angin ribut atau cara lainnya, Bisa jadi juga karena kisah umat Nabi Luth yang dihancurkan oleh api dan batu sudah cukup dikenal para pembacanya.

Namun mengapa Al-Qur’an memiliki ketertarikan ini, padahal Al-Qur’an bisa saja mengisahkan kisah-kisah yang berbeda? Mengapa Al-Qur’an mengisahkan kisah-kisah macam ini? Mengapa Al-Qur’an mengisahkan kisah-kisah pembalasan demikian, dan mengapa dari waktu ke waktu, kisah yang sama dengan nabi yang berbeda dan umatnya berbeda namun umatnya selalu dimusnahkan?. Jawabannya pasti karena Al-Qur’an mencurahkan perhatian pada pembacanya sendiri.

Bisa kita katakan bahwasaya Al-Qur’an bermaksud mengajukan pertanyaan yang kita kenal dari tradisi klasik dalam frase Bahasa Latin:“Ubi Sunt,” dimana mereka itu. Frase penuhnya adalah “Ui sunt qui ante nos fuerunt?”, dimanakah mereka itu yang dulu ada sebelum kita? Kemanakah mereka pergi? Pertanyaan ini bermaksud untuk menarik kembali suatu respon mengenai kefanaan umat manusia, yang mana sama seperti kita, suatu saat akan tiada. Pertanyaan itulah yang menjadi perhatian Al-Qur’an.

Persoalan ini bukan persoalan sejarah. Bukan pula persoalan yang bermaksud membangun suatu skenario sejarah besar yang mengisahkan bagaimana satu umat beralih ke umat selanjutnya, bagaimana sejarah berkembang, bagaimana orang-orang berinteraksi dari waktu ke waktu. Semua itu bukanlah perhatian Al-Qur’an. Perhatian Al-Qur’an adalah mengajukan pertanyaan “ubi sunt” ini agar para pembacanya bisa mengambil keputusan yang lebih baik dibandingkan umat-umat sebelumnya.

Dalam hal ini kita bahkan bisa membandingkan Al-Qur’an dengan seorang guru. Mungkin saya menyanjung diri sendiri kalau begitu. Namun seorang guru, saat ia menceritakan suatu kisah, misalnya, mengenai seorang siswa yang mencontek saat ujian dan dikeluarkan dari sekolah. Maksud diceritakannya kisah ini bukanlah untuk menceritakan suatu anekdot yang lucu atau memberikan informasi mengenai siswa sebelumnya. Sebaliknya maksud dari diceritakannya kisah ini adalah agar guru memperingatkan siswa-siswanya saat itu untuk membuat keputusan yang lebih baik dan tidak mencontek.

Saat kita membaca Al-Qur’an, baiknya patut kita tanamkan dalam pikiran bahwasanya para pembaca Al-Qur’an di masa kinilah yang paling penting. Kita mungkin juga memikirkan ini saat kita melihat bagaimana Al-Qur’an berfokus khususnya pada kisah Nabi Luth. Memang kita bisa melihat bersamaan pada bagian kedua yang diperhatikan Nabi Luth kemudian pada Q.S. As-Shaffaat [37]:133. Disini ada acuan bukan hanya ke Nabi Luth namun juga acuan mengagumkan ke reruntuhan atau sisa-sisa kota umatnya Nabi Luth. Al-Qur’an berfirman “Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang Rasul…”

“…ketika Kami selamatkan dia dan keluarganya semua, kecuali seorang perempuan tua bersama-sama orang yang tinggal….”
Kalian pasti tahu siapa perempuan tua yang dimaksud disini, istri Nabi Luth
“…Kemudian Kami binasakan orang-orang yang lain.”
Lalu di ayat selanjutnya Al-Qur’an memberikan tambahan yang luar biasa.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melalui mereka…”
Apa yang dimaksud “mereka” disini? Pastilah reruntuhan kota umatnya Nabi Lut “…di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?”

Apa maksud dari “apakah kamu tidak memikirkan”? Apakah ini maksudnya menyuruh melihat reruntuhan kota umatnya Nabi Luth dan kemudian memikirkannya? Apakah memandang reruntuhan kota umatnya Nabi Luth, dan bekas-bekas azab yang memusnahkannya, serta merenunginya, maka para pembaca Al-Qur’an akan berpikir lebih jernih, dan beriman kepada Nabinya sendiri. Mungkin umat Nabi Luth tidak beriman kepada Nabi mereka namun Al-Qur’an mengatakan kalian bisa mengambil keputusan yang lebih baik, kalian bisa beriman kepada Nabi yang diutus Allah kepada kalian.

Kesimpulannya, kita bisa merenungkan kemudian apa yang dikatakan Al-Qur’an mengenai Nabi Muhammad. Dalam suatu cara, kita bisa mengatakan, Nabi Muhammad datang sebagai Nabi terakhir setelah Nabi-nabi dari kisah-kisah pembalasan. Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah-kisah ini demi memberikan peringatan pada umatnya, agar mereka tidak akan dimusnahkan oleh Allah, seperti umat Nabi Luth. Inilah mengapa Al-Qur’an, menurut saya, secara rutin menyebut Muhammad bukan hanya sebagai seorang nabi melainkan juga seorang pemberi peringatan atau “Nadhir” dalam bahasa Arab.

Terdapat 44 kali Al-Qur’an menggunakan deskripsi ini terhadap Nabi Muhammad SAW bahwa ia adalah seorang pemberi peringatan terhadap umatnya. Namun bagaimana ini membantu kita memecahkan teka-teki di awal? Bagaimana ini membantu kita memahami bagaimana bisa Allah SWT menjadi “Ar-Rahman ar-Rahim” Sang Maha Pengampun dan Maha Penyayang namun sekaligus Tuhan kisah-kisah pembalasan. Saya pikir jawabannya sebagai berikut.

Dengan menceritakan kisah-kisah ini, Al-Qur’an TIDAK bermaksud menjelaskan Allah SWT sebagai Tuhan yang pendendam dan tanpa ampun. Al-Qur’an bermaksud agar para pembaca dan pendengarnya, menggunakan akalnya, merenung, beriman, bertobat, dan diselamatkan. Jadi kisah-kisah pembalasan atau diceritakannya kisah mengenai diazabnya umat-umat terdahulu dimaksudkan untuk menyelamatkan para pendengar dan pembaca Al-Qur’an. Allah SWT tidak bertindak dengan penuh dendam namun menyampaikan pesan ini demi kemaslahatan para pembaca dan pendengar Al-Qur’an. Allah SWT bertindak dengan penuh ampunan.[]

** Artikel dan Video ini dimaksudkan hanya sebagai bahan kajian akademisi semata. iTsme.id tidak memiliki keterkaitan atau afiliasi apapun dengan nara sumber artikel ini.

arpan