Its My Faith

Al-Qur’an Bukan Benda Keramat Hanya Boleh Disentuh Jika Melakukan Ritual Tertentu

oleh Mr BeN

3 January 2018

iT’s me- Naskah-naskah kitab suci tetaplah merupakan inti mendasar dari tiap pemikiran atau keyakinan religius. Artikel pendek ini tidak membahas apakah ajaran-ajaran yang saat ini dikenal luas masih tetap konsisten sesuai Kitab Suci atau tidak.

Bagaimanapun juga apa yang bersangkutan dengan hal tersebut adalah pengamatan terhadap bagaimana naskah-naskah Kitab suci ini seringkali menjadi pusat penghormatan bahkan pengultusan secara ekstrim, yang terkadang menuntut ritual-ritual pembersihan diri untuk menyentuhnya, atau bahkan menunjuk pada ‘para pemimpin keagamaan’ untuk membacakannya.

Kitab suci kadang diperlakukan sebagai benda keramat yang hanya bisa disentuh jika telah melakukan ritual-ritual tertentu bahkan lebih ekstrimnya lagi hanya bisa disentuh oleh ‘orang-orang khusus’. Jelas ini sebuah salah kaprah

Tampaknya ‘pengultusan’ kitab suci bukanlah suatu konsep yang eksklusif hanya terdapat pada Islam. Sebaliknya hal ini secara konsisten bisa ditemukan bila dilacak melalui sejarah berbagai agama dan para pengikutnya.

Pengultusan demikian adalah salah satu langkah awal dalam hilangnya hubungan dengan jiwa pesan hidup dan membuangnya ke dalam batas-batas gelap perkamen-perkamen tertulis atau tercetak yang hanya bisa disentuh, dipahami, dan ditafsirkan ‘orang-orang tertentu’ yang diangap cukup bersih atau layak. Ini akhirnya menjadi suatu dialog mati yang hanya untuk digunakan dalam ritual pemujaan atau perayaan. Ini juga menimbulkan suatu penghalang yang tidak perlu bagi orang biasa sehingga susah mengakses pesan-pesan Ilahi serta hanya menyerahkannya pada kendali para pendeta atau ulama yang ‘ditunjuk’ untuk menafsirkan ayat-ayat suci dalam anggapan yang mereka anggap sesuai.

Sentimen serupa bergema dalam teguran yang dimuat Al-Qur’an terkait Bani Israil.

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ ٱلْكِتَابَ ٱلَّذِى جَآءَ بِهِ مُوسَىٰ نُوراً وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيراً وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوۤاْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ ٱللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
“Katakanlah: Siapakah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan…” (Bagian dari Q.S. Al-An’aam [6]:91)

Dari ayat di atas, jelas bahwasanya tindakan mengarahkan ke perkamen-perkamen dan ‘kitab suci-kitab suci’ selalu menjadi suatu praktik dari ‘para tokoh agama’ yang ‘ditunjuk’. Bagaimanapun juga, jelas dari ayat di atas, bahwasanya hal demikian juga sering digunakan ‘para tokoh agama’ untuk ‘mengendalikan’ ajaran-ajarannya.

Ayat-ayat suci dan pesannya seharusnya hidup sebagi suatu panduan yang berkelanjutan. Sehingga harus mampu diakses secara bebas oleh semua orang, ditelaah, disimak, dan diteliti oleh semua umat manusia. Tak diragukan lagi memang hal tersebut harus mendapat perlakuan hormat sepenuhnya, namun tetap harus ada keseimbangan yang sepadan antara penghormatan dan pengultusan berlebihan. Lagipula tujuan diturunkannya Kitab suci adalah untuk dijadikan panduan bukan dikultuskan.

Signifikan untuk dicatat bahwa Nabi Musa.as membawa Tabut berupa dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada Musa, namun Nabi Musa.as kemudian melemparkannya karena marah melihat umatnya mencampakkan pesan inti ajaran-ajarannya. Bahkan sebagian dari umatnya malah menyembah anak sapi emas selama 40 hari Nabi Musa.as tidak ada. Jelas bahwasanya Nabi Musa bukan menyembah Tabut namun mengikuti ajaran-ajaran dari Allah yang disembahnya.

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفاً قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِى مِن بَعْدِيۤ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى ٱلأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ٱبْنَ أُمَّ إِنَّ ٱلْقَوْمَ ٱسْتَضْعَفُونِى وَكَادُواْ يَقْتُلُونَنِى فَلاَ تُشْمِتْ بِىَ ٱلأَعْدَآءَ وَلاَ تَجْعَلْنِى مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّالِمِيَنَ
“Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, ‘Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan loh-loh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya, (Harun) berkata, ‘Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku, dan janganlah engkau jadikanku sebagai orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-A’raaf [7]:150)

Ini juga ditegaskan oleh Kitab Taurat:
“Begitu ia mendekati perkemahan dan melihat anak sapi itu serta orang menari-nari, menyalalah amarah Musa. Ia menghempaskan loh-loh itu dari tangannya dan memecahkannya di kaki gunung itu.” (Keluaran Pasal 32 ayat 19).

KESIMPULAN
Al-Qur’an juga berbentuk kitab suci, merupakan dokumen yang hidup, ‘bernafas’, yang bisa diterapkan pada semua masyarakat dan perubahan. Al-Qur’an tidak akan bermanfaat bila terbengkalai, diabaikan pesannya, atau hanya diserahkan penafsirannya pada segelintir tokoh agama yang ‘ditunjuk’. Al-Qur’an mewariskan peraturan-peraturan dan struktur-struktur mendasar untuk dikembangkan masyarakat. Jadi bukanlah suatu pesan yang hidupnya singkat hanya untuk audiens Arab tertentu di abad ketujuh. Sebaliknya Al-Qur’an tetap merupakan pesan bagi semua umat manusia di sepanjang zaman. Al-Qur’an juga bukan benda keramat yang dikeramatkan sehingga seolah hanya boleh disentuh jika sudah melakukan ritual-ritual tertentu.

REFERENSI:
1) Quran.com
2) quransmessage

Mr BeN

Dirut PT. Internasional Fokus Media (Group) Ketua Yayasan Ekual Akses Indonesia Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa