iT’s Me- Aku sangat yakin bahwa akal adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan kepadaku dan karena akal  jugalah yang menjadikan aku, kamu dan mereka di sebut mahluk mulia dari semua ciptaan-Nya. Ada kalanya aku melepas separuh keyakinan dalam  paham keislamanku dari semua bentuk tafsir yang tidak seuai dengan isi kepalaku, karena aku hanya akan menerima tafsir keulamaan yang bersumber pada fakta-fakta yang dapat membuatku benar-benar yakin dan dapat di jelaskan secara ilmiah.

Aku percaya wewenang keulamaan akan mempunyai arti jika di buktikan dengan prinsip keilmiahan juga keteladanan, tidak cukup dengan sebuah simbol yang tidak memberikan arti apapun terhadap kehidupanku dan kehidupan mereka. Agama islam yang aku anut adalah untuk orang-orang yang berakal, rajin menelaah setiap pengajaran yang di dapatkan kepada  siapa pun yang di sebut guru.

Aku sadar bahwa segala bentuk pemikiran bahkan tafsir memiliki keterbatasan, akan tiba saat dimana semua berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu aku tidak pernah memposisikan apa yang yang aku yakini, pahami saat ini adalah final. Pemahaman-pemahanan yang aku yakini selalu aku anggap bersifat belum pasti dan dapat berubah kapan saja, selalu siap untuk perbaikan dan perbaikan lagi.

Kemajuan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi wawasan dan ilmuku, oleh kerena itu rasionalitas pun bukanlah satu-satunya guru untukku. Jalaluddin Rumi adalah salah satu contoh pemikir islam revolusi Ilmu Kalam yang mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio. Karyanya tetap berjasa hingga sekarang, semua itu karena akal yang Tuhan anugerahkan dan aku  termasuk pengagum karyanya-karyanya.

Aku sangat yakin bahwa pemikiran yang berdasarkan gerekan hati dapat mendukung dalam mencari kebenaran, selama aku menjaga sikap jujur, tidak dipengaruhi pendapat dan pertimbangan dan yang paling penting keikhlasan dalam menuntut ilmu khusunya dalam agamaku.

Aku sangat kritis dengan agamaku sendiri, tetapi aku menyadari bahwa ilmu pengetahuan akan berkembang sebagai penimbunan pemikiran manusia terhadap sejarah agama ini. Walaupun kritis aku tidak bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun terhadap kekayaaan pemikiran masa lampau, karena hanya akan membatasi ilmu pengetahuanku.

Aku tidak ingin terjerat oleh kebencian dari pemahaman dan pemikiran orang yang aku anggap dangkal, hal itu berpeluang menghambat kebebasanku dalam berpikir. Pada akhirnya, sebagai manusia dengan penuh keterbatasan aku akan selalu memohon pertolongan-Nya agar diberikan petunjuk. Karena hanya Dialah sumber segala kebenaran mutlak.

Aku tidak ingin keyakinan dan pemahamanku melukai banyak orang, karena aku dan agamaku tidak cukup hanya dengan ucapan “kafir, fitnah, bodoh”. Aku harus membuat agamaku lebih berkualitas, sebab jia tidak aku hanya akan menjadi manusia-manusia keledai yang selalu di hubungan dengan perilaku bodoh, budak, dan keras kepala.

refrensi: Islam Tuhan Islam Manusia/Haidar Bagir



arpan
arpan

Latest posts by arpan (see all)