Its My Faith

Agama Dan Instisarinya

oleh arpan

29 September 2018

Yang kita inginkan dari agama adalah landasan kerjasama sosial agar manusia menjadi makhluk yang selain berkecerdasan, manusia juga mampu bekerja sama.
Untuk itu, harus ada nilai-nilai yang perlu dipercayai dan dijaga bersama.
Nilai-nilai itu adalah:

1. Percaya adanya Zat asal muasal segala yang ada yang hidup dan berkehendak.
2. Percaya hidup itu bukan segalanya.
3. Memberi harapan setelah mati.
4. Membangun fondasi sosial (jujur peduli adil, tanggung jawab, sabar, ikhlas).
5. Ada ikatan dan nilai-nilai keluarga dan pendidikan hal-hal diatas.
6. Ada ritual “self-hypnotis” menghipnotis diri sendiri untuk menjaga kepercayaan dan pandangan diatas.
7. Ada rangkaian kegiatan untuk mengendalikan nafsu hewaniah agar akal budi bisa berperan. Jangan sampai hawa nafsu hewaniah yang dominan.
8. Ada mitos-mitos yang dijaga agar lebih berkesan dan maninggikan nilai diluar nalar (agar tidak diremehkan)
9. Ada hari-hari khusus yang dikaitkan dengan mitos-mitos diatas dan diperingati bersama-sama untuk menýegarkan semangat beragama.
10. Dibuat untuk membangun kerjasama antar manusia untuk mengatasi persoalan besar dalam hidup secara kolektif.
11. Dibangun dengan konsep yang mengkaitkan antar generasi, dari orang tua pada anak dan dari anak pada orang tua. Saling melindungi dan saling menjaga agar transfer ilmu pengetahuan dan pengalaman bisa terjadi.
12. Membangun ikatan antar sesama manusia dan menjalin kerjasama mengatasi persoalan hidup.
13. Ajaran bersyukur atas nikmat yang menjadikan hidup dengan semua keterbatasan nya menjadi lebih lega.
14. Ajaran untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan dengan sebaik-baiknya karena waktu kehadiran kita dalam hidup ini sangat terbatas.
15. Mencari kehidupan/rizki dengan memberi manfaat bagi kehidupan itu sendiri.
Alhamdulillah, dari sangat muda saya sudah memilih menjadi insan merdeka, tidak berada dibawah naungan siapapun!
Agama ini sebenarnya hanyalah pilihan kita menuju kepada Ilahi.
Agama apapun isinya adalah rangkaian “ancaman”, rangkaian “janji balasan kebaikan” dan sederet rangkaian ritual “self hypnotis” yang diulang-ulang yang menjadikan kita tetap terus menerimanya dan merasakannya sebagai kebenaran.
Benar atau tidak?

Kita mungkin tidak akan pernah tahu.
Paling tidak nyaman untuk dipercaya.

Sebenarnya yang lebih penting adalah apakah dia (keyakinan itu) mensejahterakan manusia dan memberikan kedamaian?
Apakah dia (pilihan keyakinan itu) menjadikan para pengikutnya produktif dan memberi manfaat nyata pada kehidupan?
Apakah dia (pilihan keyakinan itu), menjadikan pengikutnya ikut memperindah bumi ini dan menyiapkannya bagi generasi mendatang agar generasi mendatang dapat hidup bersama dengan lebih mudah dan produktif? Apakah dia memberikan ketenangan hidup baik bagi mereka sendiri dan bagi yang lain disekitarnya? Apakah memberikan ikatan rasa saling percaya pada sesama akibat kejujuran mereka? Apakah membuat mereka lebih berbahagia dan berkarya? Dan masih berderet lagi pertanyaan untuk mengukur kebenaran dan manfaat agama bagi manusia. Termasuk didalamnya adalah apakah negeri-negeri mereka lebih tertata dengan baik dan mensejahterakan rakyatnya?

Perlu ada yang mengguncang dan mengingatkan kembali bagaimana menjadi khalifah Allah dimuka Bumi dan ikut aktif menjadikannya sebagai tempat yang lebih baik (memayu hayuning bawono).Semua ajaran yang mampu bertahan lama, adalah ajaran yang didalamnya setiap pengikut diajarkan untuk terus melakukan “self-hypnosis”. Tanpa itu semua, mustahil ajaran itu bisa bertahan lama.  Self hypnosis itu adalah salah satu cara terpenting untuk menyegarkan kembali keyakinan.  Disegarkan secara terus menerus agar tertanam dialam bawah sadar dan Insya Allah juga automatis mewarnai perilaku kehidupan.

from: Mansur Abadi [email protected]Anggota World allience religious peace (Warp ) international

arpan